Jakarta - Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) angkat bicara mengenai kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) yang disebut terjadi secara besar-besaran di Tokopedia.
Hingga saat ini, asosiasi mengaku belum memperoleh informasi resmi dari perusahaan terkait kebijakan tersebut.
Sebelumnya, Tokopedia dikabarkan melakukan pengurangan jumlah karyawan di berbagai divisi.
Langkah itu disebut terjadi setelah perusahaan berada di bawah kendali ByteDance, induk perusahaan TikTok, yang menjadi pemegang saham mayoritas Tokopedia sejak akhir 2023.
Menanggapi kabar tersebut, Ketua Umum idEA Budi Primawan mengatakan pihaknya tidak dapat memberikan komentar mengenai jumlah pekerja yang terdampak maupun alasan di balik keputusan tersebut karena belum menerima penjelasan resmi dari perusahaan.
"Sebagai asosiasi, kami belum mendapatkan informasi resmi mengenai isu tersebut. Karena itu, kami tidak berada pada posisi untuk mengomentari angka maupun kebijakan internal perusahaan," ujar Budi, Jumat (3/7/2026).
Meski demikian, Budi menilai perubahan struktur organisasi merupakan hal yang kerap terjadi di industri digital yang berkembang sangat cepat.
Perusahaan, menurutnya, harus terus melakukan penyesuaian agar mampu bersaing di tengah perubahan teknologi dan kebutuhan pasar.
Terkait anggapan bahwa PHK tersebut dipicu oleh meningkatnya penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Budi meminta publik tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.
Menurutnya, AI saat ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja dibandingkan sepenuhnya menggantikan peran tenaga manusia.
"Transformasi digital memang terus berlangsung, termasuk pemanfaatan AI. Namun tidak tepat jika setiap perubahan organisasi langsung dikaitkan dengan penggantian tenaga kerja oleh teknologi tersebut," katanya.
Di sisi lain, Budi tetap optimistis terhadap prospek industri e-commerce di Indonesia.
Ia menilai pertumbuhan ekonomi digital masih memiliki peluang besar seiring meningkatnya adopsi layanan digital oleh masyarakat.
Persaingan antarpelaku industri juga dinilai semakin sehat dan mendorong lahirnya berbagai inovasi baru.
Menurutnya, tantangan terbesar bagi perusahaan saat ini adalah menjaga keseimbangan antara efisiensi bisnis, inovasi, dan keberlanjutan usaha.
Sebelumnya, pihak TikTok membenarkan adanya penyesuaian organisasi di lingkungan perusahaan.
Langkah tersebut disebut dilakukan sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat kegiatan riset dan pengembangan (R&D) demi mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Perusahaan menyatakan keputusan tersebut bukan hal yang mudah.
Meski demikian, TikTok memastikan akan memberikan dukungan kepada para karyawan yang terdampak selama proses transisi berlangsung.
Namun hingga kini, perusahaan belum mengungkapkan secara rinci jumlah pegawai yang terkena PHK maupun divisi yang mengalami pengurangan tenaga kerja.
Editor : Iwan Arfianto