
RADAR KUDUS - Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mulai menunjukkan dampak terhadap kondisi sosial masyarakat. Seiring perekonomian yang tumbuh 5,80 persen pada Semester I-2026, jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah terus mengalami penurunan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin di Jawa Tengah pada Maret 2026 tercatat 3,29 juta orang atau 9,21 persen dari total penduduk.
Angka tersebut turun 59.390 orang dibandingkan September 2025. Jika dibandingkan dengan Maret 2025, jumlah penduduk miskin berkurang 81.250 orang.
Dari sisi persentase, tingkat kemiskinan Jawa Tengah pada Maret 2026 turun menjadi 9,21 persen. Angka tersebut lebih rendah 0,18 persen dibandingkan September 2025 yang berada pada level 9,39 persen. Dibandingkan Maret 2025, tingkat kemiskinan juga turun 0,27 persen dari sebelumnya 9,48 persen.
Kepala BPS Jawa Tengah Ali Said mengatakan, penurunan tersebut menunjukkan adanya perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat di Jawa Tengah.
Penurunan kemiskinan tersebut berlangsung bersamaan dengan menguatnya aktivitas ekonomi dan investasi. Pada Semester I-2026, Jawa Tengah mencatat realisasi investasi sebesar Rp48,54 triliun.
Investasi tersebut berasal dari penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp25,92 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp22,62 triliun. Total investasi tersebut tersebar dalam 55.989 proyek dan menyerap 213.217 tenaga kerja.
Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada Semester I-2026 sendiri mencapai 5,80 persen secara kumulatif (c-to-c). Capaian itu menjadi salah satu indikator bahwa aktivitas produksi, investasi, dan penyerapan tenaga kerja terus bergerak di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Ali mengatakan, Jawa Tengah juga memiliki peran penting dalam perekonomian nasional. Kontribusi provinsi ini terhadap perekonomian Pulau Jawa mencapai 14,50 persen, sementara kontribusinya terhadap perekonomian nasional mencapai 8,19 persen.
Jawa Tengah pun tercatat sebagai kontributor perekonomian terbesar keempat secara nasional.



