RADAR KUDUS — Kabar duka yang menyelimuti dunia kedokteran di Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tengah menjadi sorotan publik secara luas.
Seorang dokter muda yang mendedikasikan dirinya di garda terdepan pelayanan kesehatan, dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni atau yang akrab disapa dr. Icha, dilaporkan meninggal dunia di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) pada Jumat malam (26/6/2026).
Kepergian dokter muda ini memicu gelombang simpati sekaligus perhatian serius dari berbagai kalangan.
Baca Juga: 25 Santri Tahfiz Al Aqsho Diwisuda, Satu Santri Hafal 30 Juz dalam Tiga Tahun Dapat Hadiah Umroh
Hal ini terjadi menyusul merebaknya dugaan bahwa almarhumah mengalami tekanan psikologis berat atau depresi yang mendalam pasca-insiden yang menimpanya saat tengah menjalankan tugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Leona Kefamenanu.
Kronologi Peristiwa di Ruang IGD RS Leona
Berdasarkan data dan informasi yang dihimpun dari lingkungan sekitarnya, polemik ini berakar dari sebuah ketegangan yang terjadi di ruang perawatan darurat.
Saat itu, dr. Icha tengah berupaya keras menangani seorang pasien anak yang membutuhkan pertolongan cepat akibat gigitan ular, setelah sebelumnya dirujuk dari RSUD Kefamenanu.
Di tengah situasi medis yang kritis tersebut, situasi ruang IGD mendadak berubah tegang. Dua orang pria, yang belakangan diidentifikasi sebagai oknum anggota DPRD Kabupaten TTU, mendatangi lokasi dan mempertanyakan prosedur serta penanganan medis yang sedang diberikan oleh tim dokter.
-
Eskalasi Situasi: Menurut kesaksian rekan sejawat dan sejumlah sumber di lapangan, interaksi yang terjadi antara oknum pejabat daerah tersebut dan dr. Icha berlangsung dengan nada tinggi dan konfrontatif.
-
Dampak Psikologis: Bentakan dan tekanan verbal di tengah ruang kerja itu dilaporkan membuat dr. Icha merasa sangat tertekan, syok, hingga didera ketakutan yang hebat.
-
Perubahan Perilaku: Beberapa rekan sejawat mengungkapkan bahwa sejak malam insiden itu, kondisi kesehatan mental dan psikologis dr. Icha tampak terguncang secara drastis hingga hari-hari menjelang wafatnya.
Bantahan dan Klarifikasi dari Pihak Terkait
Merespons bergulirnya isu miring dan tuduhan mencederai muruah tenaga kesehatan, pihak yang namanya terseret dalam pemberitaan ini segera memberikan klarifikasi resmi.
Perwakilan dari anggota dewan tersebut secara tegas membantah telah melakukan tindakan intimidasi atau persekusi terencana terhadap almarhumah.
Mereka memberikan pembelaan bahwa aksi spontan tersebut murni dipicu oleh kepanikan yang luar biasa dari pihak keluarga.
Mengingat kondisi racun ular yang terus memburuk pada tubuh sang anak, situasi darurat tersebut membuat komunikasi di lapangan diakui sempat berjalan dengan intonasi yang keras dan emosional.
Baca Juga: Terus Bertumbuh, Bengkel Binaan Yayasan AHM Jadi Penopang Ekonomi Daerah
“Kami tidak pernah berniat sama sekali untuk mengintimidasi tenaga medis yang sedang berjuang. Situasinya saat itu sangat mencekam bagi keluarga pasien,” demikian petikan pernyataan resmi dari salah satu anggota DPRD TTU yang bersangkutan.
Pihak anggota dewan juga menambahkan bahwa pasca-kejadian di malam tersebut, mereka telah beritikad baik dengan mendatangi manajemen rumah sakit untuk meluruskan kesalahpahaman serta menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada pihak RS Leona beserta seluruh tenaga kesehatan yang sedang bertugas.
Meskipun klarifikasi telah disampaikan, kepergian dr. Icha meninggalkan duka mendalam sekaligus memantik kembali diskusi publik mengenai pentingnya perlindungan hukum, ruang kerja yang aman, serta pemeliharaan kesehatan mental bagi para dokter muda yang bertugas di daerah pelosok tanah air. (*)