RADAR KUDUS — Produsen MinyaKita telah mengumumkan penarikan semua pasokan minyak goreng bantuan setelah beberapa penerima melaporkan aroma yang mirip dengan solar. Perusahaan menginformasikan bahwa mereka telah menarik sekitar 300 ton minyak dari empat wilayah dan sedang mengganti produk tersebut dengan yang baru.
Keluhan tentang bau yang menyengat seperti solar mulai muncul setelah warga menggunakan minyak bantuan untuk memasak, sehingga beberapa keluarga mengembalikan produk ke tempat distribusi.
Produsen, PT Kusuma Mukti Remaja, menyatakan mereka menanggapi laporan dengan menarik semua produk yang telah didistribusikan di daerah yang terkena dampak dan menggantinya dengan stok baru untuk memastikan aman untuk dikonsumsi.
Baca Juga: Populasi Kunang-Kunang Menyusut, Ini Kata Pakar IPB
Dalam pengumuman resmi, produsen menyebutkan indikator produk yang bermasalah sekitar 100 ton, tetapi jumlah yang ditarik mencapai 300 ton karena perusahaan memutuskan untuk menukar semua produk yang sudah didistribusikan di berbagai daerah sebagai langkah preventif.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengirimkan tim penyelidik untuk menyelidiki penyebab bau tersebut, dan menegaskan bahwa izin usaha produsen bisa dicabut jika ditemukan pelanggaran dalam proses produksi atau distribusi.
Sampel minyak yang ditarik telah dikirim ke laboratorium untuk dilakukan pengujian kimia dan mikrobiologis guna menentukan ada atau tidaknya kontaminan yang memunculkan bau seperti bahan bakar.
Baca Juga: Bawa 50 Peluru, WNA Portugal Ditahan di Bandara Ngurah Rai Bali
Proses penarikan dan penukaran produk dilaporkan telah berlangsung di beberapa kabupaten seperti Karanganyar, Klaten, dan Wonogiri, pihak pelaksana distribusi bersama produsen mencatat bahwa penarikan dan penggantian dilakukan secara bertahap.
Produsen menyatakan siap menanggung biaya medis jika ada laporan dampak kesehatan akibat penggunaan minyak itu, meskipun hingga saat ini belum ada laporan resmi terkait korban yang masuk.
Sementara hasil uji laboratorium belum diumumkan, pihak berwenang meminta masyarakat untuk menyimpan bukti pengembalian produk dan menunggu informasi resmi sebelum mengambil langkah lebih lanjut.
Para pengelola distribusi bantuan pangan menyatakan bahwa prioritas mereka adalah memastikan penerima mendapatkan minyak yang aman dan layak dikonsumsi secepat mungkin, serta mempercepat klarifikasi hasil pemeriksaan.
Kabupaten-kabupaten yang terpengaruh telah mencatat pengembalian yang signifikan, dan proses administrasi untuk penggantian sedang berlangsung agar bantuan tetap sampai kepada penerima sesuai ketentuan.
Hingga saat ini, produsen dan pemerintah masih menunggu hasil laboratorium untuk menentukan penyebab pasti aroma solar pada MinyaKita. Semua langkah penarikan dan penggantian dilakukan sebagai langkah pencegahan sambil menunggu hasil resmi dari investigasi. (*)
Editor : Anita Fitriani