RADAR KUDUS — Badai restrukturisasi di sektor industri padat karya nasional kembali memicu kegaduhan publik.
Sebanyak 4.000 buruh yang bekerja di PT Feng Tay Indonesia—pabrik sepatu olahraga raksasa pemasok utama komoditas merek global Nike di Kabupaten Bandung, Jawa Barat—dilaporkan telah resmi dirumahkan oleh pihak manajemen.
Kondisi darurat ini langsung memicu kekhawatiran meluas akan terjadinya gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang siap menghantam industri alas kaki nasional.
Sinyal merah ketenagakerjaan ini dibeberkan langsung oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) sekaligus Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Said Iqbal.
Ia menegaskan bahwa langkah merumahkan ribuan pekerja ini merupakan indikator awal yang sangat krusial dan wajib diwaspadai oleh pemerintah pusat maupun daerah.
"Kami menemukan ada potensi ancaman PHK terhadap 4.000 karyawan di Bandung. Status saat ini baru berupa potensi dan ancaman nyata akibat ribuan buruh tersebut sudah dirumahkan," ungkap Said Iqbal dalam konferensi pers bersama KSPI dan Partai Buruh yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Bicaralah Buruh.
Kontrak Nike Selesai: Pabrik Terjebak dalam Ketidakpastian Order Baru
Berdasarkan hasil investigasi lapangan dan laporan internal serikat pekerja, akar masalah dari goyahnya stabilitas operasional di PT Feng Tay disebabkan oleh habisnya draf kontrak produksi.
Lini perakitan sepatu olahraga untuk merek Nike dilaporkan telah menyelesaikan seluruh target pesanan (order) lama yang terjadwal.
Ironisnya, hingga saat ini pihak manajemen perusahaan belum berhasil mengamankan komitmen kontrak ataupun kejelasan pesanan baru dari prinsipal internasional tersebut.
Tanpa adanya kepastian roda produksi dari pemegang merek global selaku penopang utama pendanaan, pabrik tidak memiliki pilihan selain menghentikan sementara aktivitas kerja para buruhnya demi menekan biaya operasional harian (overhead cost).
Rantai Pasok Terganggu Akibat Geopolitik Global
Selain tersendatnya pemesanan, Said Iqbal membeberkan variabel luar negeri yang memperkeruh situasi di lantai pabrik.
Sistem operasional manufaktur PT Feng Tay sangat bergantung pada skema pasokan bahan baku yang dikirimkan secara langsung terpusat oleh pihak Nike.
Namun, eskalasi konflik geopolitik global yang melibatkan beberapa negara besar sepanjang pertengahan tahun ini berdampak langsung pada macetnya jalur logistik maritim internasional.
Terjadinya keterlambatan pasokan bahan mentah impor ini memukul ritme kerja pabrik, menurunkan produktivitas harian, dan pada akhirnya mengancam mata pencaharian ribuan kepala keluarga di Kabupaten Bandung.
Situasi ini mendesak Kementerian Ketenagakerjaan bersama Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jawa Barat untuk segera turun tangan memediasi pihak pengusaha dan buruh, guna mengawal agar hak-hak normatif para pekerja yang sedang dirumahkan tetap terpenuhi secara adil sembari menunggu kepastian restrukturisasi bisnis global. (*)