RADAR KUDUS — Sinyal merah kembali menyala di sektor industri manufaktur tanah air.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) merilis laporan mencemaskan mengenai gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal yang mengintai ribuan buruh di tiga provinsi penggerak ekonomi nasional, yakni DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Situasi ini menjadi indikator kuat bahwa iklim industri domestik sedang berada dalam kondisi yang tidak baik-baik saja.
Baca Juga: Seret Sektor Pendidikan, Disdik Batam Diduga Mobilisasi Guru dan Murid untuk Demo Dukung Program MBG
Presiden KSPI, Said Iqbal, mengungkapkan bahwa ancaman perumahan dan pemangkasan tenaga kerja ini dipicu oleh hantaman krisis multidimensi global.
Tekanan berat muncul dari kombinasi penurunan volume permintaan ekspor (drop orders), lonjakan biaya logistik, mahalnya harga bahan baku impor akibat fluktuasi pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS, hingga dampak rambatan (spillover effect) dari memanasnya perang geopolitik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah.
"Perusahaan yang paling babak belur menghadapi situasi ini adalah industri padat karya yang berorientasi ekspor, seperti garmen dan alas kaki, serta sektor manufaktur hilir yang rantai pasoknya sangat bergantung pada bahan baku impor," urai Said Iqbal dalam keterangannya kepada pers.
Pemetaan 4 Perusahaan Raksasa yang Berpotensi Lakukan PHK Massal
Berdasarkan hasil investigasi dan laporan internal serikat pekerja di lapangan, KSPI memetakan empat korporasi besar yang tengah menghadapi masa kritis kelangsungan usaha:
1. PT Pakerin (Mojokerto, Jawa Timur)
Perusahaan raksasa yang bergerak di sektor pengolahan bubur kayu (pulp) dan produksi kertas ini mulai goyah akibat lonjakan biaya energi dan bahan baku.
KSPI mendeteksi adanya ancaman nyata pengurangan tenaga kerja yang berpotensi menyasar hingga 2.500 buruh dalam waktu dekat jika stabilitas pasar tidak segera pulih.
2. PT Feng Tay (Bandung, Jawa Barat)
Sebagai salah satu produsen sepatu olahraga global terbesar di Jawa Barat yang mempekerjakan total 14.000 hingga 17.000 karyawan, PT Feng Tay kini berada di ujung tanduk.
Berhentinya kontrak pesanan dari pemegang merek internasional membuat manajemen mengambil langkah darurat.
Tercatat, sedikitnya 4.000 pekerja telah dirumahkan demi menekan biaya operasional (overhead cost) sembari menunggu ketidakpastian pesanan baru.
3. Dua Raksasa Komponen Otomotif (Inisial J dan S, Jawa Timur)
Krisismonitor juga menghantam kluster industri otomotif di kawasan Pasuruan dan Mojokerto.
Dua perusahaan manufaktur komponen kendaraan dengan inisial PT J dan PT S dilaporkan bersiap melakukan rasionalisasi jumlah karyawan berskala besar yang dapat berdampak pada ribuan kepala keluarga.
Ancaman Relokasi ke Vietnam dan Transisi Menuju Kendaraan Listrik
Hal yang paling mengkhawatirkan dari ambruknya industri komponen otomotif ini adalah rencana hengkangnya investor asing.
Said Iqbal membeberkan bahwa prinsipal otomotif raksasa asal Jepang tengah mempertimbangkan secara serius untuk memindahkan sebagian besar lini produksi mereka dari Indonesia ke Vietnam.
Selain faktor ketidakpastian geopolitik global yang membuat investor mencari wilayah yang dinilai lebih aman dan produktif, migrasi modal ini didorong oleh percepatan transisi industri otomotif dunia yang mulai beralih dari mobil konvensional (Internal Combustion Engine) menuju ekosistem mobil listrik (Electric Vehicle/EV).
Vietnam dinilai bergerak lebih gesit dalam memberikan kepastian regulasi, pasokan energi bersih, serta insentif fiskal yang memikat bagi para raksasa otomotif dunia.
Jika pemerintah Indonesia tidak segera membenahi regulasi ketenagakerjaan dan kemudahan berusaha, relokasi ini akan menjadi pukulan telak yang memperpanjang daftar pengangguran di tanah air. (*)