Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Abah Sarnuh Ciptakan Listrik Mandiri dari Kincir Air, Terangi Rumah dan Musala di Pelosok Sukabumi

Nabila Agustin • Sabtu, 20 Juni 2026 | 10:00 WIB
Nampak kediaman Mbah Sarnuh, rumah dengan Listrik Rp.0 di Sukabumi. (KOMPAS.com RIKI ACHMAD SAEPULLOH )
Nampak kediaman Mbah Sarnuh, rumah dengan Listrik Rp.0 di Sukabumi. (KOMPAS.com RIKI ACHMAD SAEPULLOH )

RADAR KUDUS – Di tengah keterbatasan akses listrik yang masih dialami sejumlah wilayah terpencil, seorang petani lansia di Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya. 

Abah Sarnuh (80) berhasil merakit pembangkit listrik sederhana berbasis tenaga air yang telah menerangi rumah hingga musala di lingkungannya selama hampir 20 tahun.

Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Kecamatan Caringin. Camat Caringin, Ridwan Agus Mulyawan, menilai apa yang dilakukan Abah Sarnuh merupakan wujud nyata kemandirian warga dalam menghadapi minimnya infrastruktur dasar.

“Kami sangat mengapresiasi inovasi ini. Ini membuktikan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha,” ujar Ridwan, Jumat (19/6/2026).

Abah Sarnuh tinggal bersama istrinya di kawasan terpencil Desa Sukamulya, yang berada di lereng Gunung Gede Pangrango.

Lokasinya cukup terisolasi dengan jarak sekitar 7–10 kilometer dari permukiman warga terdekat, sehingga belum terjangkau jaringan listrik PLN.

“Letaknya memang terpencil di kaki Gunung Gede Pangrango, akses ke pemukiman lain cukup jauh,” kata Ridwan.

Menurut Abah Sarnuh, sebelum memiliki pembangkit listrik sendiri, ia hanya mengandalkan lampu minyak tanah sejak mulai menetap dan bertani di wilayah tersebut pada tahun 1998.

Namun, kesulitan mendapatkan minyak tanah serta mahalnya biaya mesin berbahan bakar fosil membuatnya mencari solusi lain.

“Dulu pakai petromak. Setelah minyak tanah sulit, saya pikir harus cari cara lain. Kalau pakai diesel juga mahal karena harus beli bensin atau solar,” ujarnya.

Pada 2007, ia sempat ditawari pemasangan listrik PLN, tetapi biaya penarikan kabel yang mencapai jutaan rupiah menjadi kendala karena jarak rumah yang terlalu jauh dari jaringan utama.

“Waktu itu biaya kabel saja sudah jutaan, jadi saya pikir lebih baik cari alternatif lain,” ungkapnya.

Akhirnya, Abah Sarnuh memilih menggunakan dana tersebut untuk membeli dinamo dan peralatan kincir air di Sukabumi.

Dari situlah ia mulai merancang sistem listrik tenaga air sederhana yang masih digunakan hingga sekarang.

Dengan memanfaatkan aliran sungai di sekitar rumahnya, ia memasang kincir air yang terhubung ke dinamo untuk menghasilkan listrik, lalu menyalurkannya ke rumah dan musala dengan instalasi sederhana.

“Air menggerakkan kincir, lalu dinamo menghasilkan listrik yang dialirkan ke rumah,” jelasnya.

Selama hampir dua dekade, sistem tersebut berjalan stabil tanpa kendala berarti, bahkan saat musim kemarau panjang.

Perawatan yang dilakukan pun relatif sederhana, hanya mengganti lampu jika sudah rusak karena usia pemakaian.

“Tidak ada masalah besar, paling hanya ganti lampu saja kalau sudah rusak,” ujarnya.

Kini, listrik buatan Abah Sarnuh mampu menerangi dua rumah dan satu musala tanpa biaya bulanan.

Sistem tersebut juga cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar penerangan warga sekitar.

Meski telah berusia lanjut, Abah Sarnuh masih aktif bertani bersama istrinya. Hasil panen mereka kini bahkan dijemput langsung oleh pengepul, sehingga tidak perlu lagi turun ke pasar.

Sementara itu, Pemerintah Kecamatan Caringin berencana menjalin koordinasi dengan pihak swasta yang beroperasi di wilayah sekitar untuk membantu mendukung keberlanjutan sistem listrik mandiri tersebut.

“Kami akan terus berupaya berkoordinasi dengan pihak terkait agar inovasi ini bisa terus berjalan dan mendapat dukungan,” kata Ridwan.

Kisah Abah Sarnuh menjadi gambaran nyata bahwa inovasi sederhana berbasis potensi alam dapat memberikan manfaat besar, sekaligus menjadi solusi alternatif bagi daerah yang belum tersentuh listrik konvensional.

Editor : Ali Mustofa
#Abah Sarnuh #Listrik tenaga air #inovasi