Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dijamu Teh di Istana, Mahasiswa Ungkap Momen Langka Bertemu Langsung dengan Wapres Gibran

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 16 Juni 2026 | 18:25 WIB

 

Wakil Presiden Gibran Rakabuming menemui mahasiswa di Istana Wapres, Jakarta Pusat (ANTARA)
Wakil Presiden Gibran Rakabuming menemui mahasiswa di Istana Wapres, Jakarta Pusat (ANTARA)

JAKARTA – Demonstrasi mahasiswa di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, pada Senin (15/6/2026), berakhir dengan sebuah peristiwa yang tak banyak diperkirakan sebelumnya. Di tengah ketegangan aksi dan negosiasi dengan aparat keamanan, sebanyak 15 mahasiswa justru melangkah masuk ke Istana Wakil Presiden untuk bertatap muka langsung dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog yang langka. Bukan hanya karena berlangsung di tengah aksi unjuk rasa, tetapi juga karena mahasiswa dapat menyampaikan tuntutan mereka secara langsung kepada orang nomor dua di Indonesia.

Salah satu peserta pertemuan, Muhammad Abdi Maludin, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (BEM FH UBK) sekaligus koordinator aksi, mengisahkan bahwa sebelum undangan dari Istana datang, massa mahasiswa masih bertahan di Jalan Medan Merdeka Selatan menjelang waktu magrib.

Kala itu, mahasiswa berupaya mendekati kawasan Istana Negara untuk menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Presiden Prabowo Subianto. Mereka juga melakukan negosiasi dengan aparat kepolisian agar barikade yang dipasang di sekitar Patung Kuda dapat dibuka.

Baca Juga: Prediksi Argentina vs Aljazair: Ujian Perdana Juara Bertahan, Messi Bidik Awal Sempurna di Piala Dunia 2026

"Kami berharap ada pihak pemerintah yang bersedia menemui mahasiswa. Siapa pun perwakilan Istana yang hadir, kami siap menyampaikan aspirasi secara langsung," ujar Abdi.

Namun, negosiasi tidak membuahkan hasil. Aparat tetap mempertahankan pengamanan di lokasi. Di tengah situasi tersebut, muncul informasi bahwa Wakil Presiden Gibran bersedia menerima perwakilan mahasiswa di Istana Wakil Presiden.

Bagi mahasiswa, kesempatan itu menjadi jalan agar tuntutan mereka tidak berhenti sebagai teriakan di jalanan.

Sekitar pukul 17.20 WIB, Abdi bersama 14 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi berjalan menuju Istana Wakil Presiden. Setibanya di lokasi, mereka menjalani pemeriksaan keamanan oleh Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) sebelum dipersilakan memasuki kompleks Istana.

Di dalam ruangan pertemuan, suasana yang semula dibayangkan kaku ternyata berlangsung cukup cair.

Wapres Gibran, yang mengenakan batik bernuansa cokelat dan biru, menyambut kedatangan para mahasiswa satu per satu. Ia menyalami mereka sambil menanyakan asal kampus masing-masing.

"Kalau yang biru dari kampus mana?" tanya Gibran kepada salah seorang peserta.

"Dari kampus MH Thamrin," jawab mahasiswa tersebut.

Wapres kemudian menyampaikan permintaan maaf karena tidak semua peserta aksi dapat masuk ke dalam Istana.

"Titip salam untuk teman-teman yang masih di luar. Maaf belum bisa masuk semuanya," ujarnya.

Setelah duduk melingkar, dialog berlangsung terbuka. Mahasiswa menyampaikan berbagai keresahan, mulai dari evaluasi terhadap kebijakan pemerintah, kondisi sosial-ekonomi masyarakat, hingga tuntutan agar pemerintah lebih responsif terhadap suara publik.

Baca Juga: Gelombang Aksi Mahasiswa Menguat di Sejumlah Daerah, Ini Daftar Lengkap Tuntutan kepada Pemerintah

Menurut Abdi, hal yang paling menarik perhatian mereka adalah sikap Gibran yang tidak sekadar mendengar.

Ia membawa sebuah buku catatan kecil dan menuliskan poin demi poin kritik yang disampaikan mahasiswa.

"Wapres mencatat berbagai kritik dan masukan yang menurut kami harus menjadi bahan evaluasi pemerintah demi Indonesia yang lebih baik," kata Abdi.

Dalam kesempatan itu, Gibran mengakui bahwa berbagai program pemerintah masih memiliki banyak kekurangan yang perlu diperbaiki.

"Apa yang sudah dibangun harus kita rawat bersama. Saya sadar masih banyak kekurangannya dan itu harus kita perbaiki bersama," ujar Gibran sebagaimana disampaikan dalam keterangan resmi Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Wakil Presiden.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap kritik selama disampaikan secara tertib dan konstruktif.

Menurutnya, mahasiswa memiliki peran penting sebagai mitra kritis dalam mengawal jalannya pemerintahan.

"Saya senang mahasiswa kritis, ikut mengevaluasi, dan memberikan saran," katanya.

Dalam dialog tersebut, mahasiswa menyerahkan memorandum berisi tuntutan serta meminta Wakil Presiden menandatangani dokumen tersebut sebagai bukti bahwa aspirasi telah diterima secara resmi.

Namun, pihak Istana tidak memberikan tanda tangan pada memorandum tersebut.

Pemerintah beralasan bahwa penyampaian aspirasi secara langsung dalam forum dialog telah menjadi bentuk penerimaan atas tuntutan yang disampaikan mahasiswa.

Meski demikian, Gibran memastikan seluruh masukan akan diteruskan kepada Presiden Prabowo Subianto sebagai bahan evaluasi pemerintah.

Salah satu momen yang paling membekas bagi mahasiswa justru hadir di luar substansi diskusi.

Abdi mengungkapkan bahwa Wapres menjamu mereka dengan minuman teh serta menawarkan makanan selama pertemuan berlangsung.

Meski tidak dalam kondisi lapar atau haus, mahasiswa tetap menerima suguhan teh tersebut sebagai bentuk penghormatan atas sambutan yang diberikan tuan rumah.

Sementara tawaran makan bersama diputuskan untuk ditolak.

"Kami sempat ditawari makan bersama, tetapi kami memilih tidak mengambil tawaran itu," ujarnya.

Menjelang pertemuan berakhir, Gibran juga mengajak mahasiswa melaksanakan salat berjamaah. Sebagian peserta memenuhi ajakan tersebut sebelum meninggalkan Istana Wakil Presiden.

Bagi mahasiswa, dialog tersebut bukan akhir dari perjuangan menyampaikan aspirasi.

Mereka memberikan tenggat waktu selama lima hari atau 5x24 jam kepada pemerintah untuk menunjukkan tindak lanjut konkret atas tuntutan yang telah disampaikan.

Jika tidak ada respons yang dinilai memadai, mahasiswa mengancam akan kembali turun ke jalan dalam aksi lanjutan dengan skala yang lebih besar.

"Kalau ultimatum 5x24 jam itu tidak dipenuhi, kami akan melakukan konsolidasi jilid kedua dan menggelar aksi yang lebih masif," tegas Abdi.

Pertemuan di Istana Wakil Presiden itu akhirnya menyisakan dua gambaran yang berjalan beriringan: mahasiswa tetap menjaga sikap kritis terhadap pemerintah, sementara pemerintah mencoba membuka ruang dialog yang lebih langsung.

Di antara catatan tuntutan, secangkir teh, dan ultimatum lima hari, tersimpan pesan bahwa demokrasi tidak hanya hidup melalui demonstrasi di jalanan, tetapi juga melalui keberanian untuk duduk bersama dan mendengarkan satu sama lain.

Editor : Mahendra Aditya
#mahasiswa bertemu Gibran #demonstrasi mahasiswa 2026 #Istana Wakil Presiden #ultimatum mahasiswa 5x24 jam #gibran rakabuming raka