Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Investor Global Ramai-Ramai Jual Aset Indonesia, Kampanye "Buy Indonesia" Muncul di Tengah Tekanan Pasar

Nabila Agustin • Jumat, 12 Juni 2026 | 09:14 WIB
Ilustrasi foto "buy Indonesia, sell Singapore" (Generated by AI)
Ilustrasi foto "buy Indonesia, sell Singapore" (Generated by AI)

JAKARTA – Kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia dilaporkan mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Seiring melemahnya nilai tukar rupiah dan penurunan tajam di pasar saham domestik sepanjang 2026.

Di tengah kondisi tersebut, sejumlah tokoh publik mulai mengampanyekan slogan “Buy Indonesia” sebagai upaya membangun kembali optimisme terhadap ekonomi nasional.

Baca Juga: Aksi Kejam Ayah dan Anak di Tangerang Habisi Pedagang Cilok dengan Cutter

Berdasarkan laporan Bloomberg, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat sebagai salah satu indeks dengan performa terlemah secara global pada tahun ini.

Dalam kurun waktu sekitar lima bulan setelah mencapai rekor tertinggi, indeks saham acuan Indonesia terkoreksi lebih dari 30 persen, sementara rupiah juga menyentuh posisi terendah sepanjang sejarah.

George Boubouras, Head of Research K2 Asset Management yang mengelola dana sekitar US$4,3 miliar, menyebut bahwa sentimen investor terhadap Indonesia saat ini berada pada level yang sangat lemah.

Ia bahkan menggambarkan tren yang berkembang di pasar sebagai “Sell Indonesia”.

Baca Juga: Arahan Presiden Prabowo, Bahlil Tegaskan Tidak Naikkan BBM dan LPG Bersubsidi

“Tren utama di Asia saat ini adalah ‘Sell Indonesia’,” ujar Boubouras seperti dikutip dari Bloomberg melalui Kontan.

Boubouras juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menarik seluruh eksposur dari pasar Indonesia sejak 2024.

“Saya tidak memiliki eksposur sama sekali ke Indonesia. Saya tidak melihat alasan untuk kembali masuk,” katanya.

Di sisi lain, pelaku pasar global menyoroti sejumlah faktor yang menjadi sumber kekhawatiran, mulai dari meningkatnya ketidakpastian arah kebijakan ekonomi.

Perluasan peran negara dalam aktivitas ekonomi, hingga berbagai program prioritas pemerintah yang dinilai berpotensi menambah beban fiskal.

Baca Juga: Kejadian Tragis di Bogor, Bocah 9 Tahun Tewas Diserang Anjing Pemburu

Mundurnya mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 2025 juga disebut sebagai salah satu momen penting yang memengaruhi persepsi investor.

Sosoknya selama ini dianggap sebagai simbol disiplin fiskal dan stabilitas kebijakan ekonomi Indonesia.

Sementara itu, Yuxuan Tang, Head of Rates and Foreign Exchange Strategy Asia di JPMorgan Private Bank Hong Kong, menilai investor cenderung bersikap menunggu sebelum kembali masuk ke pasar Indonesia.

“Ketidakpastian politik domestik merupakan risiko umum di pasar negara berkembang, sehingga investor memilih menunggu hingga ada kepastian kebijakan,” ujarnya.

Baca Juga: Kemenhaj Ungkap Kasus Badal Haji Fiktif, 140 Jemaah Jadi Korban

Tekanan terhadap pasar turut tercermin dari pelemahan rupiah yang tercatat turun sekitar 14 persen sejak awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Bahkan, pasar opsi masih memperkirakan kemungkinan rupiah melemah hingga mendekati Rp19.000 per dolar AS pada akhir tahun.

Menurut Gary Tan, Portfolio Manager Allspring Global Investments, kekhawatiran utama investor saat ini terletak pada prospek rupiah yang masih rentan.

“Faktor utama dari posisi jual terhadap Indonesia adalah outlook rupiah yang masih lemah, disertai kekhawatiran terhadap ketidakseimbangan makro dan kredibilitas kebijakan fiskal,” ujarnya.

Di pasar obligasi, investor asing tercatat mengurangi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) sekitar Rp86 triliun sejak Agustus tahun lalu.

Pada saat yang sama, muncul perhatian terhadap meningkatnya porsi kepemilikan obligasi pemerintah oleh Bank Indonesia.

Rajeev De Mello, Portfolio Manager GAMA Asset Management, menyebut bahwa kondisi tersebut dapat mengubah persepsi pasar.

“Apa yang awalnya untuk menjaga likuiditas, kini oleh sebagian pihak dipandang menyerupai bentuk pelonggaran kuantitatif,” katanya.

Di tengah tekanan tersebut, kampanye “Buy Indonesia” mulai mencuat dan dipopulerkan oleh Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad serta Yudo Achilles Sadewa, putra Menko Perekonomian Purbaya Yudhi Sadewa.

Kampanye ini mengajak masyarakat untuk lebih percaya dan berinvestasi pada aset domestik.

Baca Juga: Ayu Puspita Divonis 1,5 Tahun Penjara: Akhir Kasus Penipuan Wedding Organizer

Namun, perhatian publik juga tertuju pada penggunaan istilah tambahan “Sell Singapore” dalam salah satu unggahan yang memicu beragam respons di media sosial.

Secara umum, gerakan “Buy Indonesia” dimaknai sebagai dorongan untuk memperkuat kepercayaan terhadap instrumen investasi dalam negeri seperti saham, obligasi, dan aset keuangan lainnya.

Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa keputusan investasi tetap harus berbasis pada analisis fundamental dan risiko yang terukur, bukan semata mengikuti tren atau kampanye publik.

Di sisi lain, sebagian investor masih menilai prospek jangka panjang Indonesia tetap menjanjikan, didukung oleh pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, rasio utang yang relatif terjaga, bonus demografi, serta posisi strategis Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia.

“Selama belum ada kepastian kebijakan fiskal dan mitra yang jelas di pasar obligasi, sentimen ‘Sell Indonesia’ masih akan bertahan,” ujar Boubouras.

Para pelaku pasar menilai bahwa kepastian arah kebijakan fiskal, independensi Bank Indonesia, transparansi pengelolaan Danantara, serta konsistensi kebijakan ekonomi akan menjadi faktor kunci dalam memulihkan kembali kepercayaan investor global terhadap Indonesia.

Editor : Ali Mustofa
#buy Indonesia #investor #Danantara