JAKARTA – Kepercayaan investor global terhadap pasar keuangan Indonesia dilaporkan mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir.
Seiring melemahnya nilai tukar rupiah dan penurunan tajam di pasar saham domestik sepanjang 2026.
Di tengah kondisi tersebut, sejumlah tokoh publik mulai mengampanyekan slogan “Buy Indonesia” sebagai upaya membangun kembali optimisme terhadap ekonomi nasional.
Baca Juga: Aksi Kejam Ayah dan Anak di Tangerang Habisi Pedagang Cilok dengan Cutter
Baca Juga: Arahan Presiden Prabowo, Bahlil Tegaskan Tidak Naikkan BBM dan LPG Bersubsidi
Baca Juga: Kejadian Tragis di Bogor, Bocah 9 Tahun Tewas Diserang Anjing Pemburu
Baca Juga: Kemenhaj Ungkap Kasus Badal Haji Fiktif, 140 Jemaah Jadi Korban
Tekanan terhadap pasar turut tercermin dari pelemahan rupiah yang tercatat turun sekitar 14 persen sejak awal masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Bahkan, pasar opsi masih memperkirakan kemungkinan rupiah melemah hingga mendekati Rp19.000 per dolar AS pada akhir tahun.
Menurut Gary Tan, Portfolio Manager Allspring Global Investments, kekhawatiran utama investor saat ini terletak pada prospek rupiah yang masih rentan.
“Faktor utama dari posisi jual terhadap Indonesia adalah outlook rupiah yang masih lemah, disertai kekhawatiran terhadap ketidakseimbangan makro dan kredibilitas kebijakan fiskal,” ujarnya.
Di pasar obligasi, investor asing tercatat mengurangi kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) sekitar Rp86 triliun sejak Agustus tahun lalu.
Pada saat yang sama, muncul perhatian terhadap meningkatnya porsi kepemilikan obligasi pemerintah oleh Bank Indonesia.
Rajeev De Mello, Portfolio Manager GAMA Asset Management, menyebut bahwa kondisi tersebut dapat mengubah persepsi pasar.
“Apa yang awalnya untuk menjaga likuiditas, kini oleh sebagian pihak dipandang menyerupai bentuk pelonggaran kuantitatif,” katanya.
Di tengah tekanan tersebut, kampanye “Buy Indonesia” mulai mencuat dan dipopulerkan oleh Utusan Khusus Presiden Raffi Ahmad serta Yudo Achilles Sadewa, putra Menko Perekonomian Purbaya Yudhi Sadewa.
Kampanye ini mengajak masyarakat untuk lebih percaya dan berinvestasi pada aset domestik.
Baca Juga: Ayu Puspita Divonis 1,5 Tahun Penjara: Akhir Kasus Penipuan Wedding Organizer
Namun, perhatian publik juga tertuju pada penggunaan istilah tambahan “Sell Singapore” dalam salah satu unggahan yang memicu beragam respons di media sosial.
Secara umum, gerakan “Buy Indonesia” dimaknai sebagai dorongan untuk memperkuat kepercayaan terhadap instrumen investasi dalam negeri seperti saham, obligasi, dan aset keuangan lainnya.
Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa keputusan investasi tetap harus berbasis pada analisis fundamental dan risiko yang terukur, bukan semata mengikuti tren atau kampanye publik.
Di sisi lain, sebagian investor masih menilai prospek jangka panjang Indonesia tetap menjanjikan, didukung oleh pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen, rasio utang yang relatif terjaga, bonus demografi, serta posisi strategis Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia.
“Selama belum ada kepastian kebijakan fiskal dan mitra yang jelas di pasar obligasi, sentimen ‘Sell Indonesia’ masih akan bertahan,” ujar Boubouras.
Para pelaku pasar menilai bahwa kepastian arah kebijakan fiskal, independensi Bank Indonesia, transparansi pengelolaan Danantara, serta konsistensi kebijakan ekonomi akan menjadi faktor kunci dalam memulihkan kembali kepercayaan investor global terhadap Indonesia.
Editor : Ali Mustofa