RADAR KUDUS – Presiden Prabowo Subianto menanggapi sorotan publik terkait intensitas kunjungan luar negeri yang dilakukannya sejak resmi memimpin Indonesia.
Menurutnya, kritik tersebut cukup menarik karena berbeda dengan kritik yang pernah diterima Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang justru dinilai terlalu jarang melakukan lawatan ke negara lain.
Prabowo mengungkapkan hal tersebut saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) di Lampung, Rabu (10/6).
Ia menilai munculnya kritik terhadap aktivitas presiden di luar negeri merupakan hal yang wajar dalam dinamika politik.
Namun, menurutnya, ada kontradiksi karena pemimpin yang jarang ke luar negeri maupun yang aktif melakukan kunjungan internasional sama-sama mendapatkan kritik.
Dinamika Global Menuntut Indonesia Lebih Aktif
Sejak dilantik pada 20 Oktober 2024, Prabowo tercatat telah menjalani puluhan agenda kunjungan kerja ke berbagai negara. Langkah tersebut, menurutnya, bukan tanpa alasan.
Prabowo menjelaskan bahwa kondisi geopolitik dunia saat ini jauh lebih kompleks dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Perubahan konstelasi global membuat setiap negara perlu memperkuat komunikasi dan kerja sama internasional untuk menjaga kepentingan nasional.
Ia menilai situasi internasional yang terus berubah menuntut Indonesia untuk aktif menjalin hubungan dengan berbagai pihak.
Dalam kondisi yang penuh ketidakpastian, menjaga komunikasi dengan banyak negara menjadi langkah strategis.
Tetap Berpegang pada Politik Luar Negeri Bebas Aktif
Prabowo menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia tetap berada pada jalur yang selama ini dianut, yakni politik bebas aktif dan non-blok.
Menurutnya, sejak menerima mandat sebagai presiden, ia langsung menegaskan bahwa Indonesia tidak akan berpihak pada blok kekuatan tertentu.
Sebaliknya, pemerintah berupaya menjaga hubungan baik dengan sebanyak mungkin negara demi kepentingan nasional.
Prinsip tersebut dinilai penting agar Indonesia dapat tetap independen dalam menentukan sikap di tengah persaingan global yang semakin dinamis.
Jalin Hubungan dengan Berbagai Pemimpin Dunia
Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga mencontohkan hubungan diplomatik yang dijalin Indonesia dengan sejumlah negara besar.
Ia menyebut tetap memiliki hubungan yang baik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin maupun Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Menurutnya, membangun komunikasi dengan berbagai pihak tidak berarti Indonesia harus memilih salah satu kubu.
Pendekatan itu sejalan dengan prinsip diplomasi Indonesia yang mengedepankan persahabatan dan kerja sama dengan semua negara selama memberikan manfaat bagi rakyat.
Fokus Utama Tetap Kepentingan Rakyat
Prabowo mengakui bahwa kritik dan perbedaan pendapat akan selalu hadir dalam kehidupan politik.
Namun, ia menegaskan hal tersebut tidak akan mengubah fokus pemerintah dalam menjalankan tugas.
Menurutnya, selama kebijakan yang diambil bertujuan untuk kepentingan bangsa dan masyarakat Indonesia, berbagai kritik yang muncul merupakan bagian dari proses demokrasi yang harus dihormati.
Ia menegaskan bahwa prioritas utama pemerintahannya adalah bekerja untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat serta menjaga posisi Indonesia di tengah perubahan situasi global yang terus berkembang.
Bagi Prabowo, yang terpenting bukan banyaknya kritik yang muncul, melainkan keyakinan bahwa setiap langkah yang diambil tetap berada di jalur yang benar dan berpihak pada kepentingan nasional.
Editor : Ali Mustofa