Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Waspada Dampak El Nino: Dari Karhutla sampai Gangguan Sektor Pertanian

Anita Fitriani • Jumat, 5 Juni 2026 | 22:04 WIB
Ilustrasi kekeringan (Foto: Istock)
Ilustrasi kekeringan (Foto: Istock)

 

 

 

 

RADAR KUDUS — Fenomena El Niño diperkirakan akan muncul dan akan membawa panas pada cuaca di Indonesia, menggantikan La Niña yang telah berakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan bahwa El Niño akan mulai aktif pada bulan Juni 2026 dengan intensitas yang sedang hingga kuat.

Fenomena El Niño dan IOD positif diperkirakan akan terjadi di Indonesia antara bulan April dan Oktober 2026, bersamaan dengan periode musim kemarau.

Situasi ini mengharuskan masyarakat dan pemerintah untuk lebih waspada terhadap berbagai dampak negatif yang mungkin muncul.

Dampak Kekeringan Ekstrem dan Krisis Air Bersih

Saat El Niño terjadi, Indonesia umumnya mengalami kekeringan yang parah akibat penurunan curah hujan yang drastis.

Penurunan curah hujan yang signifikan menyebabkan terjadinya kekeringan berkepanjangan yang berdampak pada sektor pertanian, terutama tanaman padi dan pangan lainnya. 

Hingga Maret 2026, BMKG mencatat bahwa sekitar 7% dari Zona Musim (ZOM) di Indonesia telah memasuki fase kemarau.

Sebagian besar daerah di Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada bulan April, Mei, dan Juni 2026.

Baca Juga: Waspada El Nino Menguat, WMO Sebut Peluang Terjadi Mencapai 80 Persen

Krisis air bersih menjadi salah satu konsekuensi paling serius dari fenomena ini. Berkurangnya pasokan air akibat rendahnya curah hujan berdampak pada kebutuhan rumah tangga dan industri.

Wilayah yang paling rentan terhadap kekeringan selama El Niño meliputi Provinsi Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, serta Kalimantan.

Salah satu dampak utama El Niño di Indonesia adalah penurunan curah hujan yang drastis, yang mengakibatkan kekeringan di berbagai area. Hal ini mengakibatkan pasokan air bersih di banyak tempat menjadi berkurang.

Ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan

Kondisi tanah yang kering, risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat.

El Niño membuat kemungkinan kebakaran hutan dan lahan semakin tinggi, khususnya di wilayah seperti Sumatra dan Kalimantan. Dampak kebakaran di beberapa daerah Sumatera dan Kalimantan menjadi salah satu ancaman serius yang harus diperhatikan.

Terik panas yang menyelimuti setiap bagian kota di Indonesia diperkirakan tidak hanya menyebabkan kehausan, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.

Keadaan tanah yang kering akibat berkurangnya curah hujan membuat kebakaran lebih mudah terjadi, yang dapat menghasilkan polusi udara dan masalah kesehatan.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Potong Harga Avtur hingga 10%, Berlaku Mulai Juni 2026

Walaupun khususnya bagian utara Sumatera dan Kalimantan diprediksi masih akan mengalami hujan yang tinggi, sebagian besar wilayah di kedua pulau tersebut tetap berisiko dari kebakaran lahan.

Fenomena El Niño menyebabkan Indonesia mengalami penurunan curah hujan karena suhu air laut yang lebih hangat di Samudra Pasifik tengah dan timur mengganggu proses terbentuknya awan hujan di daerah ini.

Gangguan Sektor Pertanian dan Pangan

Sektor pertanian juga akan terdampak, karena tanaman bergantung pada hujan, seperti padi, mengalami kesulitan untuk tumbuh dengan baik, sehingga berisiko gagal panen.

Dampak kekeringan di daerah selatan Indonesia dapat mengancam cadangan padi nasional, terutama di Pantura Jawa.

Ancaman krisis pangan menjadi salah satu kekhawatiran utama seiring dengan fenomena El Niño yang ekstrem ini, yang menyebabkan kondisi kekeringan tinggi dan berkepanjangan.

Produktivitas pangan terancam akibat kondisi kekeringan yang disebutkan dalam penelitian dari Megasains.

Baca Juga: Mulai Semester II 2026, Seluruh SPBU Harus Campur BBM dengan Etanol 5%

Musim kemarau di tahun 2026 diprediksi akan tiba lebih awal, disebabkan oleh perubahan iklim global, yang kemungkinan akan memperburuk keadaan di bidang pertanian.

Beberapa area tertentu diperkirakan akan mengalami masa kemarau yang paling parah pada bulan Agustus.

Fenomena El Niño akan menyebabkan musim kemarau berlangsung lebih lama dan lebih kering dari biasanya, yang semakin memperdalam masalah di sektor pertanian.

Baca Juga: BULOG Capai 3 Juta Ton Serapan Gabah dan Beras Petani hingga Awal Juni 2026

Dampak pada Sektor Perikanan dan Kesehatan

Sektor perikanan juga terpengaruh, sebab suhu air laut yang meningkat mengakibatkan penurunan jumlah ikan di perairan Indonesia, yang merugikan para nelayan lokal.

Secara umum, pengaruh El Niño terhadap Indonesia membuat suhu permukaan laut di sekitarnya menurun, yang menyebabkan pembentukan awan berkurang.

Selain itu, suhu udara yang lebih tinggi dari biasanya dapat memicu terjadinya gelombang panas, yang berisiko bagi kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua.

Peningkatan kadar klorofil-a menunjukkan adanya kenaikan pasokan makanan di laut Indonesia, yang seharusnya meningkatkan populasi ikan di wilayah perairannya, meskipun secara keseluruhan jumlah ikan semakin menurun.

Baca Juga: Menhaj: Kuota Haji Indonesia 2027 Diprediksi Tetap di Angka 221 Ribu Jemaah

Gelombang panas yang melanda setiap sudut kota di Indonesia dapat menimbulkan masalah kesehatan serius bagi masyarakat.

 

Langkah Mitigasi yang Harus Dilakukan

BMKG memprediksi bahwa El Niño akan mulai aktif pada bulan Juni 2026 dengan intensitas sedang hingga tinggi, sehingga pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai dampak yang mungkin timbul.

Untuk itu, seluruh masyarakat diimbau untuk lebih waspada dengan melakukan langkah-langkah berikut: menghemat air bersih dan menyimpan cukup cadangan air. Masyarakat juga diharapkan tidak membuka lahan dengan cara membakar untuk menghindari risiko kebakaran hutan.

Menjaga kesehatan dengan cukup hidrasi dan menghindari aktivitas berlebih di bawah sinar matahari merupakan langkah penting dalam menghadapi El Niño.

Baca Juga: Mendikdasmen Ingatkan Memanggil Teman dengan Julukan Bisa Termasuk Bentuk Bullying

Masyarakat harus rutin memonitor informasi cuaca resmi dari BMKG untuk mendapatkan pembaruan terkini tentang kondisi cuaca. Saling berkoordinasi dan bekerja sama dalam merawat lingkungan sekitar juga sangat penting untuk mengatasi fenomena ini.

Fenomena El Niño 'Godzilla seharusnya menjadi panggilan serius bagi pemerintah Indonesia untuk segera memperkuat upaya mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim.

Perlindungan terhadap ekosistem penting seperti hutan, lahan gambut, area karst, dan mangrove sebagai langkah pencegahan dampak El Niño di hulu harus menjadi prioritas utama.

Mengoptimalkan produksi garam untuk mencapai kemandirian garam selama tahun 2026-2027, terutama di wilayah selatan Indonesia, juga merupakan salah satu langkah mitigasi yang disarankan.

Baca Juga: Wujud Kepedulian Sosial, Bank Mandiri Gelar Donor Darah untuk Menyambut HUT ke-28

Seruan untuk Beraksi Segera

Fenomena El Niño 'Godzilla' yang terjadi saat ini memerlukan respon cepat dan terkoordinasi dari semua pihak.

Fenomena ini harus dianggap sebagai peringatan serius bagi Indonesia untuk segera memperkuat langkah-langkah mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim. 

Masyarakat Indonesia harus bersiap menghadapi musim kemarau yang lebih panas dan kering akibat El Niño yang menggantikan La Nina.

Kewaspadaan bersama dan tindakan nyata dari pemerintah serta masyarakat menjadi kunci dalam mereduksi dampak negatif dari fenomena iklim ini.

Melalui pemahaman mendalam tentang dampak El Niño dan langkah mitigasi yang diperlukan, Indonesia bisa mengurangi risiko krisis air, kebakaran hutan, dan gangguan di sektor pertanian yang dapat mengancam ketahanan pangan nasional. (*) 

Editor : Anita Fitriani
#El Nino Godzilla #dampak el nino #el nino #kekeringan #musim kemarau