RADAR KUDUS — Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO menginformasikan bahwa kemungkinan terjadinya El Nino antara bulan Juni hingga Agustus 2026 mencapai 80 persen.
Penemuan ini menarik perhatian karena menunjukkan bahwa kondisi cuaca global dapat berubah dalam waktu dekat, dan dampaknya dapat dirasakan di berbagai daerah, termasuk Indonesia.
WMO menjelaskan bahwa kemungkinan ini hasil dari pembaruan analisis iklim yang memperlihatkan peningkatan kondisi El Nino di pertengahan tahun ini.
Probabilitas El Nino tidak hanya muncul antara Juni dan Agustus, tetapi juga kemungkinan untuk bertahan hingga November 2026 dengan angka mendekati atau bahkan lebih dari 90 persen.
Baca Juga: BULOG Capai 3 Juta Ton Serapan Gabah dan Beras Petani hingga Awal Juni 2026
El Nino dikenal sebagai fenomena yang menyebabkan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator menjadi lebih panas, yang kemudian dapat memengaruhi pola curah hujan dan suhu udara.
Di Indonesia, keadaan ini biasanya menyebabkan penurunan curah hujan dan cuaca menjadi lebih kering, sehingga meningkatkan perhatian terhadap potensi kekeringan serta gangguan pada sektor air dan pertanian.
Peringatan dari WMO ini sangat penting karena muncul pada masa transisi musim yang sangat dipengaruhi oleh dinamika iklim global.
Baca Juga: Kerugian Korban Capai Belasan Miliar, Bos Hanania Umroh Kini Status Tersangka
Gejala awal El Nino harus diperhatikan sejak awal agar masyarakat dan pemerintah bisa mempersiapkan langkah-langkah pencegahan, terutama di daerah yang rentan terhadap cuaca kering yang berkepanjangan.
Di Indonesia, fokus utama sering kali tertuju pada ketersediaan air, sektor pertanian, dan kemungkinan meningkatnya suhu udara.
Oleh karena itu, informasi yang diberikan oleh WMO pada Juni 2026 ini dapat menjadi acuan bagi semua pihak agar dampak El Nino tidak berkembang menjadi isu yang lebih besar saat fenomena ini semakin kuat.
WMO menegaskan bahwa kemungkinan terjadinya El Nino di pertengahan 2026 cukup signifikan, mencapai 80 persen, dan dampaknya bisa berlanjut hingga akhir tahun. Data ini menjadikan kesiapsiagaan sejak dini sangat penting, terutama untuk menghadapi kemungkinan kondisi cuaca yang lebih kering dari biasanya. (*)
Editor : Anita Fitriani