Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Panen Padi Menyusut, Produksi Beras Terancam Turun

Anita Fitriani • Selasa, 2 Juni 2026 | 15:29 WIB
Ilustrasi beras
Ilustrasi beras

 

 

 

RADAR KUDUS — Produksi beras di Indonesia diperkirakan akan mengalami penurunan sebesar 8,3% antara April hingga Juni 2026.

Hal ini disebabkan oleh berkurangnya area panen padi, yang dapat menyebabkan pasokan beras menjadi lebih terbatas hingga bulan Juli 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa estimasi produksi beras untuk kebutuhan konsumsi masyarakat pada periode tersebut mencapai 9,61 juta ton, mengalami penurunan sekitar 8,30% dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada waktu yang sama.

Penurunan ini menunjukkan bahwa tahap panen besar mulai menurun dan pasokan beras di pasar akan semakin ketat ketika memasuki kuartal kedua tahun 2026.

Baca Juga: Jemaah Haji 2026 Harus Tahu: Air Zamzam Dilarang Masuk Koper Bagasi maupun Kabin

Faktor utama penyebab penurunan produksi beras adalah berkurangnya luas area panen padi yang diperkirakan mencapai 3,16 juta hektare pada April hingga Juni 2026, turun 7,66% dari tahun sebelumnya yang juga sebesar 3,16 juta hektare.

BPS menilai bahwa kondisi cuaca yang tidak stabil atau curah hujan yang bervariasi akan berdampak pada hasil produksi padi selama periode tersebut.

Selain itu, BPS juga mengingatkan adanya kemungkinan serangan hama yang dapat berpengaruh pada waktu panen dan mutu produksi beras nasional.

Baca Juga: Moratorium Dicabut, Indonesia Kembali Bisa Ekspor Udang ke Arab Saudi

Produksi beras pada bulan April 2026 diperkirakan mencapai 4,39 juta ton, kemudian menurun menjadi 2,75 juta ton pada bulan Mei 2026, dan penurunan berlanjut hingga Juni 2026 menjadi 2,48 juta ton.

Pola penurunan ini mengindikasikan bahwa pasokan beras akan terus berkurang menjelang bulan Juli 2026 jika tidak ada tindakan yang signifikan dari pemerintah.

Penurunan produksi beras ini berpotensi mengakibatkan pasokan menjadi lebih ketat pada kuartal II tahun 2026, dan dapat menimbulkan kelangkaan beras jenis medium dan premium di pasar modern.

Adanya kelangkaan ini, harga beras di pasar bisa melonjak seperti yang terjadi di periode sebelumnya.

Baca Juga: Ada Ritual Yadnya Kasada, Aktivitas Wisata Gunung Bromo Ditutup Sementara Mulai 30 Mei hingga 2 Juni 2026

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyatakan bahwa potensi produksi beras antara bulan April hingga Juni 2026 diperkirakan akan berkurang sekitar 8,30% dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu.

Untuk semester pertama tahun 2026, BPS memproyeksikan bahwa produksi beras nasional hanya akan meningkat sebesar 0,26% menjadi 19,31 juta ton dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Salah satu ancaman utama bagi produksi beras di Indonesia adalah kemungkinan terjadinya fenomena El Niño yang dapat berlangsung hingga Juli 2027, yang berisiko mengurangi produksi padi selama dua tahun berturut-turut.

Baca Juga: Viral! Bahlil Lahadalia Dipuji Lewat Lagu "MBG Mas Bahlil Ganteng", Golkar: Ini Kreativitas

Keadaan ini membuat situasi produksi beras semakin serius dan memerlukan perhatian dari pemerintah untuk memastikan ketahanan pangan nasional.

Durasi El Niño yang berkepanjangan dapat memperburuk kondisi kekeringan di berbagai daerah penghasil padi, sehingga area panen akan semakin menyusut dan produksi beras akan semakin terancam.

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPS, penurunan produksi beras diperkirakan akan terus berlanjut hingga Juli 2026 karena fase panen besar telah berakhir dan tidak ada pengganti yang signifikan.

Baca Juga: Stok Beras Bulog Capai 5,3 Juta Ton, Ketahanan Pangan Nasional Terjamin

Total estimasi produksi beras pada semester pertama tahun 2026 mencapai 19,31 juta ton, meningkat sedikit sebesar 0,26% secara tahunan, namun tren penurunan pada bulan April hingga Juni menunjukkan bahwa bulan Juli akan menjadi saat yang kritis bagi pasokan beras nasional.

Pemerintah kemungkinan perlu menyiapkan stok cadangan beras dan melakukan impor jika diperlukan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan di pasar.

Keadaan ini memerlukan kerjasama yang lebih baik antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengatur penyebaran beras, memaksimalkan pemanfaatan cadangan yang ada, serta menjamin harga beras tetap dapat dijangkau oleh masyarakat hingga panen besar berikutnya. (*) 

Editor : Anita Fitriani
#beras #stok beras #el nino #stok pangan #Produksi Beras