Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Resmi Ditahan, Momen Pimpinan Ponpes Pekalongan Tersangka Pencabulan Diwarnai Isak Tangis dan Aksi Cium Tangan Para Santri

Ghina Nailal Husna • Senin, 1 Juni 2026 | 21:50 WIB
Pimpinan Ponpes Pekalongan Resmi Ditahan
Pimpinan Ponpes Pekalongan Resmi Ditahan

 

RADAR KUDUS — Penyidik Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Pekalongan Kota resmi melakukan penahanan terhadap Abdul Khalim Fadlun (AKF), pimpinan salah satu pondok pesantren di Pekalongan, Jawa Tengah.

AKF sebelumnya telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan kekerasan seksual dan pencabulan massal yang korbannya diduga mencapai 23 orang santriwati di bawah umur.

Langkah penahanan ini diambil demi kelancaran proses penyidikan serta mengantisipasi adanya upaya penghilangan barang bukti atau intimidasi terhadap para korban.

Baca Juga: Survei APJII 2026: Generasi Z Jadi Pengguna AI Terbesar di Indonesia

Namun, proses eksekusi penahanan yang berlangsung di markas kepolisian tersebut diwarnai oleh pemandangan yang tidak biasa dan memicu sorotan tajam dari publik.

Isak Tangis dan Reaksi Emosional di Mapolres

Suasana di area Mapolres Pekalongan Kota mendadak haru dan penuh kepanikan emosional saat AKF hendak digiring ke dalam ruang tahanan.

Puluhan santri beserta para simpatisan tampak hadir memadati area sekitar kepolisian untuk memberikan dukungan moral kepada sang pimpinan pesantren.

Di tengah pengawalan ketat barisan aparat kepolisian, sejumlah santri tidak dapat membendung rasa sedih mereka. Isak tangis histeris pecah ketika AKF yang sudah mengenakan rompi tahanan berjalan melintas.

Tidak sedikit dari para santri yang nekat menerobos barikade petugas demi bisa mendekat, memeluk, hingga saling berebut untuk mencium tangan sang kiai untuk terakhir kalinya sebelum ia resmi dijebloskan ke sel tahanan.

Rekaman video yang menampilkan momen emosional tersebut langsung viral di berbagai platform media sosial dan memantik perdebatan sengit di kalangan warganet.

Banyak masyarakat yang menyayangkan reaksi tersebut dan menilai adanya fenomena kepatuhan buta yang tertanam di lingkungan institusi tersebut, hingga mengaburkan empati terhadap puluhan korban yang mengalami trauma mendalam.

Pengaruh Kuat Figur dan Pengawalan Kasus Hukum

Pihak kepolisian menyatakan bahwa respons emosional para pengikut tersangka merupakan bukti nyata dari betapa besarnya pengaruh sosial, karisma, serta dominasi psikologis yang dimiliki AKF di dalam ekosistem pesantren yang dipimpinnya selama bertahun-tahun.

Hal inilah yang diduga menjadi salah satu faktor mengapa aksi bejat tersebut bisa berlangsung lama tanpa terendus, karena adanya relasi kuasa yang timpang antara pengajar dan santri.

Baca Juga: Heboh Pocong Bercelurit Teror Warga Bangkalan, Camat Tegaskan Video Viral Itu Hoaks

Kasus hukum yang menjerat AKF kini menjadi salah satu perhatian utama dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mengingat jumlah korban yang dilaporkan sangat masif.

Pihak kepolisian menegaskan bahwa proses hukum akan tetap berjalan secara objektif dan transparan tanpa terpengaruh oleh tekanan massa ataupun intervensi dari pihak simpatisan.

Pemerintah daerah bersama psikolog klinis juga telah diterjunkan ke lapangan untuk memberikan pendampingan trauma (trauma healing) secara intensif kepada seluruh korban beserta keluarganya guna memulihkan kondisi psikologis mereka. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Kasus Pencabulan Ponpes Pekalongan #Penahanan Abdul Khalim Fadlun #Eksploitasi Seksual Santriwati #Kepatuhan Buta Pesantren #Pendampingan Korban Kekerasan Seksual