RADAR KUDUS – Umat Buddha diajak untuk mengambil peran aktif sebagai pelopor perdamaian di tengah dunia yang semakin diwarnai berbagai konflik dan krisis kemanusiaan.
Pesan tersebut mengemuka dalam peringatan Tri Suci Waisak yang digelar di kawasan Candi Borobudur, Minggu (31/5).
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kementerian Agama, Supriyadi, menegaskan bahwa Waisak bukan hanya sekadar perayaan rutin tahunan, melainkan momentum penting untuk melakukan refleksi diri dalam menghadirkan kedamaian yang berawal dari dalam diri setiap individu.
“Umat Buddha harus mampu menjadi pelopor perdamaian, merajut kerukunan, serta mempererat persaudaraan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa sikap moderat menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai dinamika sosial yang kerap memicu ketegangan di masyarakat.
Dalam ajaran Buddha, umat diajarkan untuk tidak membalas kekacauan dengan kekacauan, melainkan meredamnya melalui kejernihan batin, kebijaksanaan, serta sikap toleran.
Peringatan Waisak tahun ini mengangkat tema “Dharma sebagai Sumber Moral dan Kebijaksanaan” dengan subtema “Cinta Kasih Sumber Perdamaian Dunia”.
Tema tersebut menjadi dasar seluruh rangkaian kegiatan sekaligus bentuk respons terhadap situasi global yang masih dipenuhi konflik, krisis energi, hingga ketidakpastian ekonomi.
Ketua Umum DPP Walubi, Siti Hartati Murdaya, menyampaikan bahwa tema tersebut sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini yang dinilai masih penuh tantangan.
Ia menekankan pentingnya kembali kepada ajaran Dharma sebagai pedoman untuk mengurangi penderitaan manusia.
Dalam ajaran Buddha, lanjutnya, manusia diajak untuk memahami akar penderitaan serta cara membebaskan diri dari kebencian, kemarahan, dan kebodohan yang menjadi sumber utama konflik.
Rangkaian peringatan Waisak diawali dengan kirab suci dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, membawa berbagai simbol sakral seperti api dharma abadi dan air berkah. Prosesi kemudian berakhir di zona I Lapangan Kenari.
Suasana peringatan berlangsung khidmat. Ribuan umat tampak duduk bersila dengan tenang, sebagian memejamkan mata dalam doa dan meditasi.
Kegiatan dilanjutkan dengan penyalaan lilin dan dupa, serta doa bersama sesuai tradisi masing-masing majelis.
Puncak perayaan terjadi pada detik-detik Waisak pukul 15.44.44 WIB yang ditandai dengan pemukulan gong sebanyak tiga kali.
Setelah itu, umat melaksanakan pradaksina, yakni mengelilingi Candi Borobudur yang dipimpin para bhikkhu sangha, sebelum ditutup dengan doa bersama.
Sementara itu, Ketua Dhammaduta Thailand untuk Indonesia, Bhikkhu Wongsin Labhiko Mahathera, menekankan pentingnya persatuan umat Buddha di tengah dunia yang dinilai semakin kehilangan nilai persaudaraan.
“Persaudaraan kini semakin memudar. Karena itu umat Buddha harus bersatu, tidak hanya sesama umat, tetapi juga dengan seluruh manusia dan alam,” tuturnya.
Ia menambahkan bahwa ajaran Buddha mengajarkan tiga prinsip utama, yaitu menghindari perbuatan jahat, memperbanyak kebajikan, serta menyucikan hati dan pikiran.
Ketiga hal tersebut menjadi fondasi dalam membangun kehidupan yang damai.
Bhikkhu Wongsin juga menjelaskan bahwa Tri Suci Waisak memperingati tiga peristiwa agung dalam kehidupan Siddharta Gautama, yakni kelahiran, pencapaian pencerahan sempurna, serta parinibbana.
Waisak, menurutnya, menjadi pengingat pentingnya cinta kasih sebagai kekuatan utama dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.