Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Waspada Badai PHK 2026: KSPI Prediksi 5 Sektor Industri Ini Paling Rawan dalam 3 Bulan ke Depan

Ghina Nailal Husna • Selasa, 5 Mei 2026 | 20:54 WIB
 KSPI Prediksi 5 Sektor Industri Ini Paling Rawan dalam 3 Bulan ke Depan
KSPI Prediksi 5 Sektor Industri Ini Paling Rawan dalam 3 Bulan ke Depan

 

RADAR KUDUS – Awan mendung kembali menggelayuti dunia ketenagakerjaan Indonesia.

Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran yang diprediksi akan menghantam setidaknya lima sektor industri utama dalam tiga bulan ke depan.

Presiden KSPI, Said Iqbal, mengungkapkan bahwa kombinasi antara kenaikan harga bahan baku global, pelemahan daya beli, hingga kondisi kelebihan pasokan menjadi pemicu utama perusahaan mulai mempertimbangkan langkah efisiensi tenaga kerja.

Baca Juga: Tragedi Sepatu Sempit di Samarinda: Siswa SMK Meninggal Dunia Akibat Infeksi Luka yang Terabaikan

Sektor tekstil beserta produk turunannya, seperti benang, kain, hingga polyester, menempati urutan pertama yang paling terancam.

Industri ini sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi global karena ketergantungannya yang tinggi pada pasar ekspor.

"Industri TPT adalah yang paling cepat merasakan tekanan. Permintaan ekspor yang menurun dan fluktuasi harga bahan baku sintetis membuat margin keuntungan perusahaan tergerus tajam," ujar Said Iqbal dalam keterangannya.

Industri plastik kini tengah menghadapi tantangan berat akibat lonjakan harga bijih plastik di pasar internasional.

Karena plastik merupakan bahan baku hulu bagi banyak produk lainnya, kenaikan biaya produksi di sektor ini menciptakan efek domino yang mematikan bagi kelangsungan usaha.

Sektor elektronik juga tidak luput dari ancaman. Said menjelaskan bahwa banyak komponen elektronik, seperti *frame* televisi, perangkat rumah tangga, hingga casing gawai, menggunakan material plastik. 

"Mudah-mudahan konflik global segera mereda agar harga plastik turun. Namun, perusahaan sudah mulai memberikan sinyal kepada serikat pekerja bahwa dalam tiga bulan ke depan, beban biaya ini sulit dibendung," tambahnya.

Serupa dengan elektronik, industri otomotif sangat bergantung pada komponen berbahan plastik untuk bagian interior maupun eksterior, seperti spakbor dan panel dasbor.

 Kenaikan biaya produksi di level komponen dikhawatirkan akan memicu penyesuaian skala produksi yang berdampak langsung pada pengurangan jumlah pekerja di pabrik-pabrik perakitan maupun vendor suku cadang.

Berbeda dengan sektor lain yang tertekan biaya bahan baku, industri semen menghadapi masalah overkapasitas.

Di tengah perlambatan ekonomi yang menurunkan aktivitas konstruksi, masuknya pabrik-pabrik baru dengan izin operasional yang tetap diberikan justru memperkeruh persaingan.

"Permintaan semen sedang turun drastis, sementara pasokan melimpah ruah akibat pabrik baru mulai beroperasi.

Jika permintaan tidak kunjung naik, otomatis perusahaan akan menempuh jalur efisiensi buruh melalui PHK," jelas Said.

KSPI mendesak pemerintah untuk segera melakukan intervensi guna melindungi hak-hak pekerja dan menjaga stabilitas industri. Beberapa langkah yang diharapkan antara lain:

Baca Juga: Rupiah Terhempas ke Level Terendah Sepanjang Sejarah, Tembus Rp17.412 per Dolar AS

1. Pemberian insentif fiskal bagi industri padat karya yang terdampak.

2. Pengetatan izin bagi pabrik baru di sektor yang sudah mengalami oversupply.

3. Diplomasi ekonomi untuk menstabilkan harga bahan baku impor.

Pekerja dan buruh kini diimbau untuk tetap waspada dan memperkuat koordinasi dengan serikat pekerja masing-masing guna memitigasi dampak dari potensi badai PHK yang diprediksi akan terjadi di pertengahan tahun 2026 ini. (*)

Editor : Ghina Nailal Husna
#Sektor Industri Rawan #Krisis Tekstil #ekonomi indonesia 2026 #kspi #badai phk