OLEH: Eka Fitri Suryani (Finalis Duta Wisata 2018, Pegiat Seni dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Tenaga Ahli Anggota DPR RI)
JAKARTA - Apa yang dipentaskan di ruang suci Museum Nasional Indonesia pada 29 April 2026, bukan sekadar sebuah pameran yang dibuka, melainkan jiwa Jepara yang bernapas kembali dengan penuh martabat.
Pameran Seni Ukir Jepara 2026 bertajuk Tatah 2026: “Suluk – Sulur – Jepara” yang resmi dibuka oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon ini menjadi momentum bersejarah yang jauh melampaui sekadar pajangan keindahan kayu.
Sebagai seorang yang sejak lama bergelut sebagai pegiat seni dan kebudayaan di Kabupaten Jepara, saya melihat pameran ini sebagai perjalanan batin yang panjang. Sebuah suluk yang penuh kesabaran dan ketelatenan.
Suluk para empu, maestro, dan pengukir yang selama puluhan tahun mengubah serpihan kayu jati menjadi doa yang berwujud. Setiap goresan pahat adalah doa. Setiap sulur yang merambat adalah napas kehidupan yang tak pernah putus, meski angin zaman terus berhembus kencang.
Di sini, tatah bukan lagi sekadar alat ukir. Ia adalah perpanjangan jiwa para pengukir. Ketika tangan menggetarkan pahat di bengkel-bengkel kecil Jepara, yang sesungguhnya bergetar adalah hati. Dari ketukan itu lahir bukan hanya relief indah, melainkan kenangan kolektif sebuah bangsa.
Kenangan yang merentang dari era keagungan Ratu Kalinyamat yang gagah berani, hingga hembusan semangat emansipasi Raden Ajeng Kartini yang berhasil membawa ukiran Jepara melintasi samudra ke Eropa.
Prosesi Wiwitan pembuatan Macan Kurung yang dilakukan dalam pembukaan pameran ini sungguh menyentuh relung paling dalam jiwa.
Macan yang dikurung itu adalah metafor hidup kita semua. Ia melambangkan nafsu liar yang harus dikekang oleh kesabaran, kekuatan yang pernah dibelenggu penjajah, sekaligus semangat yang tetap menggelegak meski terkurung dalam jeruji sejarah. Kini, melalui pameran ini, macan itu kita lepaskan lagi. Bukan untuk mengamuk, melainkan untuk melompat dengan penuh martabat ke panggung dunia.
Pameran Tatah 2026 ini adalah sulur yang merambat menuju masa depan. Ia mengingatkan kita semua bahwa seni ukir Jepara bukanlah warisan mati yang hanya dipajang di museum, melainkan benih peradaban yang terus tumbuh dan berkembang.
Dari tangan-tangan kasar para pengukir lahir kehalusan jiwa yang luar biasa. Dari sebuah kota kecil di pesisir utara Pulau Jawa, lahir bahasa universal yang mampu berbicara kepada dunia tanpa perlu diterjemahkan.
Melalui tema “Suluk – Sulur – Jepara”, pameran ini menegaskan bahwa ukir Jepara bukan sekadar produk kerajinan, melainkan cara kita mengukir takdir bangsa, pelan, telaten, penuh makna, dan abadi.
Di balik setiap karya yang dipamerkan terdapat ribuan keluarga yang menggantungkan harapan, ribuan jiwa yang melahirkan karya independen, serta generasi muda yg diharapkan tidak hanya mewarisi teknik, tetapi juga mewarisi jiwa yang mendalam.
Saya haturkan sembah penghormatan yang paling dalam kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon beserta jajaran Kementerian Kebudayaan, Bupati Jepara Witiarso Utomo, HIMKI DPD Jepara Raya, Direktur Pelaksana Veronica Rompies, Kurator, serta sebelas seniman yang terlibat.
Kehadiran Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, dan Duta Besar dalam pembukaan pameran membuka harapan besar akan lahirnya jejaring kolaborasi internasional yang lebih luas.
Semoga dari “Suluk – Sulur – Jepara” ini tumbuh ribuan sulur baru, berupa kolaborasi yang indah antara seniman, desainer, akademisi, dan pelaku industri; inovasi yang tak pernah kehilangan akar; serta regenerasi generasi muda yang mencintai pahat dan jiwa ukir.
Karena sesungguhnya, seni ukir Jepara bukan sekadar seni. Ia adalah cara kita mengukir peradaban, mengukir identitas, dan mengukir masa depan bangsa di pentas dunia.
Tatah… tetaplah bertatah.
Jepara… tetaplah mengukir dunia. (*)
Editor : Admin