RADAR KUDUS — Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) sekarang dijadikan contoh oleh banyak negara, sehingga Indonesia tidak perlu merasa rendah diri di hadapan negara lain.
Pada acara peresmian 13 proyek hilirisasi nasional tahap II di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026), Prabowo menyatakan bahwa semakin banyak negara yang datang untuk mempelajari MBG dari Indonesia, bukan Indonesia yang selalu mengikuti program dari luar negeri.
Pernyataan ini merupakan bagian dari usaha untuk meningkatkan rasa percaya diri nasional saat pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 semakin cepat.
Baca Juga: Dialog Nasional di Semarang, Agustina Wilujeng Sebut Makan Bergizi Gratis Investasi Besar Masa Depan
Prabowo mengungkapkan bahwa MBG bukan hanya sekadar program bantuan pangan, melainkan merupakan model intervensi gizi besar yang sudah direncanakan, terukur, dan terintegrasi dengan sistem logistik dan perekonomian dalam negeri.
Ia menambahkan, skala program yang ditargetkan menjangkau 82,9 juta penerima manfaat setiap harinya di tahun 2026 telah membuat banyak negara mulai menaruh perhatian yang serius.
MBG dilaksanakan melalui ribuan Satuan Pelaksana Pelayanan Gizi (SPPG) yang tersebar di seluruh Indonesia, dari kota besar hingga daerah terpencil, menjadikan Indonesia memiliki pengalaman nyata dalam mengelola program gizi berskala besar.
Baca Juga: Usai Gangguan Operasional, Daop 4 Semarang–Jakarta Kembali Berjalan Normal
Dalam berbagai kesempatan tahun 2026, termasuk saat menjelaskan lingkup MBG di forum internasional seperti World Economic Forum (WEF), Prabowo menekankan bahwa keberhasilan awal program ini telah menarik perhatian banyak negara untuk mempelajari cara pelaksanaannya.
Presiden juga menyebutkan bahwa sejumlah ahli dan delegasi asing menganggap Indonesia sebagai salah satu negara yang paling serius dalam menjalankan program gizi massal, termasuk dalam hal perencanaan anggaran, distribusi logistik, dan pengawasan di lapangan.
Baca Juga: Lonjakan Harga Minyak Goreng April 2026: Penyebab dan Dampaknya
Hal tersebut, kata Prabowo, menunjukkan bahwa Indonesia kini tidak hanya sebagai pengguna model pembangunan dunia, tetapi juga mulai menjadi sumber inspirasi untuk kebijakan sosial lainnya.
Anggaran besar yang dialokasikan untuk MBG pada tahun 2026 dengan total proyeksi sekitar Rp335 triliun juga menarik perhatian negara lain.
Menurut penjelasan pemerintah, alokasi ini tidak semata untuk menyediakan makanan bergizi, tetapi juga untuk membangun infrastruktur dapur komunitas, menciptakan lapangan pekerjaan lokal, serta memperkuat rantai pasok produk pangan domestik.
Data dari Kementerian Sekretariat Negara menunjukkan bahwa ribuan SPPG yang sudah beroperasi tidak hanya mengurangi beban pengeluaran masyarakat, tetapi juga menyerap puluhan hingga ratusan ribu tenaga kerja di tingkat desa dan kelurahan.
Baca Juga: Avtur Mahal, Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat Ekonomi 60 Hari
Dari segi kebijakan, Prabowo menegaskan bahwa MBG dirancang sebagai bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia yang jangka panjang, bukan sekadar program bantuan temporer.
Tujuan program ini tidak hanya untuk anak-anak sekolah, tetapi juga untuk ibu hamil, ibu menyusui, lansia, dan kelompok rentan gizi lainnya, sehingga diharapkan mampu menurunkan stunting, anemia, dan defisiensi gizi kronis dalam beberapa dekade mendatang.
Hal ini menjadi daya tarik banyak negara, terutama negara berkembang yang menghadapi masalah gizi dan kemiskinan tinggi, untuk mempelajari bagaimana Indonesia mengintegrasikan program gizi dengan kebijakan di bidang ekonomi, kesehatan, dan pendidikan.
Baca Juga: Masih Ada Celah, Komdigi Sebut Roblox Belum Penuhi Standar Perlindungan Anak pada PP Tunas
Presiden Prabowo juga menyatakan bahwa Indonesia tidak perlu mencontoh semua negara besar, meskipun ada negara seperti China yang sudah menerapkan program serupa sebelumnya.
Namun, menurut pandangannya, Indonesia dianggap menarik karena memulai program gizi besar pada situasi demografi dan ekonomi yang berbeda, serta mampu menjalankan sistem logistik yang rumit dalam waktu yang cukup singkat. Dalam hal ini, inti dari pesan Prabowo adalah bahwa rakyat Indonesia harus memiliki rasa percaya diri, tidak lagi selalu merasa “kalah” atau “ketinggalan” dibanding negara lain, karena saat ini banyak negara yang datang untuk belajar dari program MBG di Indonesia.
Dengan kata lain, pernyataan Prabowo mengenai banyak negara yang mempelajari MBG di Indonesia bukan sekadar retorika politik, melainkan mencerminkan tren nyata minat internasional terhadap model kebijakan gizi nasional Indonesia di tahun 2026.
Program MBG berfungsi sebagai simbol bahwa Indonesia mampu menyelesaikan masalah-masalah kompleks, gizi, kemiskinan, dan ketidakadilan melalui kebijakan publik yang terencana, dan hal ini kini menjadi rujukan bagi negara lain.
Bagi Prabowo, hal ini penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri di tingkat nasional sekaligus mendorong Indonesia untuk menjadi negara yang tidak hanya menerima, tetapi juga memberikan kontribusi pemikiran untuk menciptakan tata dunia yang lebih inklusif. (*)
Editor : Anita Fitriani