Sorotan utama tertuju pada posisi gerbong khusus wanita (KKW) yang berada di ujung rangkaian, titik yang paling hancur saat tabrakan terjadi.
Merespons dampak fatal yang dialami penumpang perempuan dalam tragedi tersebut, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, melontarkan usulan untuk menata ulang denah rangkaian KRL.
Baca Juga: Déjà Vu? Jerman Targetkan Bangun Kekuatan Militer Terkuat di Eropa pada 2039
Menurutnya, posisi gerbong perempuan yang selama ini berada di ujung depan dan belakang sangat rentan terhadap risiko benturan.
"Kalau bisa, posisi gerbong perempuan jangan di depan dan belakang. Saya menyarankan dipindah ke posisi paling tengah agar lebih safe dan aman bagi mereka," ujar Menteri Arifah saat meninjau situasi pasca-kecelakaan.
Pernyataan ini muncul sebagai bentuk keprihatinan setelah melihat data bahwa gerbong paling belakang—yang merupakan area khusus wanita—menjadi titik yang menerima hantaman langsung dari kereta api jarak jauh.
Usulan tersebut rupanya memicu reaksi beragam, termasuk dari Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Meski mengakui bahwa posisi gerbong perempuan saat ini berada di titik paling rentan, AHY menekankan bahwa solusi masalah ini tidak sesederhana memindahkan posisi penumpang berdasarkan gender.
"Memang benar, kebetulan yang paling belakang adalah gerbong khusus wanita, sehingga resikonya paling tinggi. Ini menjadi bahan evaluasi serius kami," ungkap AHY.
Namun, ia memberikan catatan tegas bahwa keselamatan harus bersifat universal.
"Laki-laki dan perempuan itu sama saja, tidak boleh ada yang menjadi korban dalam insiden apa pun. Fokus pemerintah bukan pada pemisahan penumpang laki-laki atau perempuan ke titik tertentu, melainkan bagaimana memastikan sistem transportasi publik kita secara keseluruhan benar-benar aman," tegasnya.
AHY menambahkan bahwa prinsip safety first harus diimplementasikan secara nyata melalui perbaikan sistem persinyalan dan operasional, bukan sekadar memindahkan risiko dari satu kelompok ke kelompok lain.
"Jangan sampai keselamatan hanya menjadi jargon, tapi harus benar-benar dirasakan oleh semua penumpang tanpa kecuali," imbuhnya.
Wacana pemindahan gerbong ini pun tak pelak mengundang reaksi keras dari warganet. Banyak pengguna media sosial, khususnya penumpang laki-laki, merasa keberatan jika usulan tersebut justru mengesampingkan keselamatan mereka dengan menempatkan mereka di posisi paling berisiko (ujung rangkaian).
"Apakah nyawa laki-laki dianggap lebih tahan benturan? Harusnya sistemnya yang diperbaiki agar tidak ada tabrakan, bukan malah pilih kasih posisi gerbong," tulis salah satu komentar warganet yang viral.
Kini, pemerintah dihadapkan pada tugas berat untuk merumuskan kebijakan yang tidak hanya memberikan proteksi bagi perempuan, tetapi juga menjamin standar keselamatan tinggi bagi seluruh pengguna jasa transportasi tanpa menciptakan diskriminasi risiko di atas rel. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna