Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lonjakan Harga Minyak Goreng April 2026: Penyebab dan Dampaknya

Anita Fitriani • Senin, 27 April 2026 | 08:14 WIB
Ilustrasi minyak goreng
Ilustrasi minyak goreng

 

 

 

RADAR KUDUS — Harga minyak goreng di Indonesia kembali mengalami lonjakan besar pada pekan ketiga April 2026, dengan rata-rata nasional mencapai Rp19.592 per liter, naik dari Rp19.358 per liter sebelumnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa 57,50% atau 207 kabupaten dan kota mengalami kenaikan harga ini, dengan harga tertinggi mencapai Rp60.000 per liter di Kabupaten Intan Jaya, Papua. 

Kenaikan ini menimbulkan kekhawatiran di masyarakat karena minyak goreng merupakan kebutuhan dasar sehari-hari yang berdampak langsung pada daya beli rumah tangga dan UMKM.

Kenaikan harga minyak goreng kali ini disebabkan oleh beberapa faktor utama, mulai dari peningkatan biaya produksi hingga gangguan pada pasokan global.

Baca Juga: Avtur Mahal, Pemerintah Tanggung PPN Tiket Pesawat Ekonomi 60 Hari

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa lonjakan harga untuk kemasan premium diakibatkan oleh meningkatnya biaya plastik sebagai bahan kemasan, yang berpengaruh kepada total biaya distribusi.

Selain itu, harga minyak sawit mentah (CPO) domestik diperkirakan akan mencapai Rp18. 776 per kilogram pada April 2026, yang dipicu oleh peningkatan konflik di Timur Tengah yang menjadikan CPO sebagai komoditas strategis untuk biodiesel.

Rendahnya realisasi Domestic Market Obligation (DMO) juga menjadi penyebab yang berkepanjangan, di mana pasokan minyak goreng dalam negeri terganggu karena eksportir lebih memilih untuk mengekspor.

Baca Juga: 15.349 Jemaah Haji Indonesia Diberangkatkan, Pemerintah Imbau Jaga Kesehatan di Cuaca Panas

harga minyak goreng memang berfluktuasi dari tahun 2023 hingga 2026, dengan peningkatan yang konsisten di awal tahun ini. Pada Januari 2026, BPS mencatat adanya kenaikan sebesar 0,18% menjadi Rp19.616 per liter di 109 wilayah.

Sementara itu, di pertengahan April, harga minyak curah naik 1,25% menjadi Rp20.250 per kilogram, dan harga kemasan merek 1 naik 0,65% menjadi Rp23.350 per kilogram.

Di daerah seperti Jawa Tengah, tantangan distribusi semakin memperburuk keadaan, dengan Minyakita sempat mencapai Rp18.000 per liter di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sebesar Rp15.700 per liter.

Baca Juga: Rekor Sejarah Bulog, Capaian Stok Beras Nasional Tembus 5 Juta Ton

Dampak dari kenaikan harga ini sangat dirasakan oleh masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah dan pelaku UMKM yang memerlukan minyak goreng untuk kegiatan sehari-hari.

Anggota DPR Nasim menekankan bahwa lonjakan harga ini akan menggeser pengeluaran rumah tangga, meningkatkan biaya dapur, dan dapat memicu inflasi bagi harga makanan olahan di pasar.

Bagi UMKM seperti warung makan dan pedagang gorengan, biaya produksi bisa naik hingga 10-15%, yang pada akhirnya berdampak pada daya saing dan pendapatan. 

Baca Juga: Masih Ada Celah, Komdigi Sebut Roblox Belum Penuhi Standar Perlindungan Anak pada PP Tunas

Pemerintah telah mengambil beberapa langkah untuk meredakan ketidakstabilan harga, walaupun tantangan tetap ada.

Kemendag memastikan pasokan aman dan produksi berjalan normal, dengan melakukan komunikasi intensif kepada produsen untuk menjaga persediaan.

Ke depannya, diperlukan keberagaman sumber minyak nabati dan penguatan logistik di daerah untuk menghindari kenaikan berulang.

Meskipun begitu, ahli ekonomi mengingatkan bahwa tanpa adanya langkah-langkah struktural seperti peningkatan produksi dalam negeri dan pengawasan distribusi yang ketat, harga minyak goreng bisa terus meningkat hingga akhir tahun 2026.

Masyarakat disarankan untuk lebih bijaksana dalam menggunakan dan menghindari pembelian yang berlebihan yang dapat memicu spekulasi.

Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan pangan nasional di saat terjadi gejolak global. (*) 

Editor : Anita Fitriani
#Harga minyak goreng naik #dampak minyak goreng naik #harga minyak goreng #minyak goreng #BPS