RADAR KUDUS – Kabar duka kembali menyelimuti Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan korps perdamaian dunia.
Salah satu putra terbaik bangsa, Kopral Rico Pramudia (31), dilaporkan telah mengembuskan napas terakhirnya di Beirut, Lebanon, pada Jumat (24/4/2026).
Prajurit yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) ini gugur setelah berjuang melawan luka serius yang dideritanya saat bertugas.
Kopral Rico Pramudia meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama hampir satu bulan. Kondisi kesehatannya terus menurun akibat cedera berat yang dialaminya dalam sebuah insiden fatal pada akhir Maret lalu.
Saat itu, terjadi ledakan artileri di wilayah Adchit Al Qusayr, sebuah area yang memang dikenal memiliki tingkat kerawanan tinggi di Lebanon Selatan.
Tragedi ledakan tersebut tidak hanya melukai Rico, tetapi sebelumnya telah merenggut nyawa rekan seperjuangannya, Praka Farizal, yang gugur seketika di lokasi kejadian.
Kepergian Kopral Rico menambah daftar panjang pengorbanan prajurit Indonesia demi stabilitas dan perdamaian di wilayah konflik Timur Tengah.
Kehadiran Kopral Rico di Lebanon merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan Indonesia dalam pengiriman Pasukan Perdamaian PBB (Kontingen Garuda).
Tugas yang diemban bukanlah hal yang mudah, mengingat eskalasi ketegangan di wilayah tersebut seringkali menempatkan personel UNIFIL dalam risiko tinggi.
Pemerintah dan keluarga besar TNI menyatakan belasungkawa yang sedalam-dalamnya atas dedikasi tanpa batas yang ditunjukkan oleh almarhum.
"Kami berduka cita sedalam-dalamnya atas gugurnya personel terbaik kami dalam tugas mulia menjaga perdamaian dunia.
Pengorbanan mereka akan selalu diingat sebagai simbol keberanian dan cinta tanah air," bunyi pernyataan resmi terkait kepulangan sang prajurit.
Baca Juga: Amnesty International: 2025 Menjadi Tahun Mundurnya Demokrasi dan HAM di Indonesia
Saat ini, otoritas terkait tengah mengoordinasikan proses repatriasi jenazah Kopral Rico Pramudia dari Beirut menuju tanah air untuk dimakamkan secara militer.
Gugurnya Kopral Rico kembali menjadi pengingat bagi dunia internasional akan besarnya harga yang harus dibayar demi terciptanya perdamaian di bumi manusia.
Indonesia, sebagai salah satu penyumbang pasukan perdamaian terbesar, terus berdiri tegak di garis depan diplomasi militer, meski harus kehilangan putra-putra terbaiknya di medan tugas. Selamat jalan, Kopral Rico. Tunai sudah janji bakti. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna