Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Harga LPG Naik, Dedi Mulyadi Tawarkan Biogas dan Energi Lokal sebagai Solusi Ketahanan Energi

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 21 April 2026 | 19:28 WIB
Gubernur Jawa barat Dedi Mulyadi
Gubernur Jawa barat Dedi Mulyadi

RADAR KUDUS - Kenaikan harga LPG non-subsidi bukan sekadar isu ekonomi rumah tangga. Ia mulai memicu pergeseran cara pandang terhadap energi—dari ketergantungan menuju diversifikasi. Di Jawa Barat, gagasan ini muncul bukan dari laboratorium teknologi tinggi, melainkan dari praktik sederhana berbasis kearifan lokal.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menawarkan pendekatan yang tidak biasa: mengembalikan solusi energi ke akar masyarakat. Dalam pandangannya, kenaikan harga LPG justru bisa menjadi momentum untuk memperkuat kemandirian energi berbasis lokal.


Ketika Harga Naik, Pilihan Harus Bertambah

Sejak 18 April 2026, harga LPG non-subsidi mengalami penyesuaian. Tabung 12 kilogram di wilayah Jawa Barat kini berada di kisaran Rp228.000, sementara ukuran 5,5 kilogram naik menjadi sekitar Rp107.000.

Kenaikan ini tidak menyentuh LPG subsidi 3 kilogram, tetapi tetap berdampak pada kelompok masyarakat tertentu—terutama kelas menengah dan pelaku usaha kecil. Dalam kondisi seperti ini, pilihan energi menjadi isu krusial.

Alih-alih hanya mengandalkan subsidi, Dedi Mulyadi mendorong masyarakat untuk mulai melihat alternatif yang lebih berkelanjutan.


Biogas: Energi dari Limbah yang Terabaikan

Salah satu solusi yang diangkat adalah biogas—energi yang dihasilkan dari pengolahan limbah organik, khususnya kotoran ternak. Di wilayah seperti Kabupaten Bandung Barat, praktik ini sebenarnya sudah berjalan.

Peternak memanfaatkan limbah sapi untuk menghasilkan gas yang dapat digunakan sebagai bahan bakar memasak. Hasilnya tidak bisa dianggap remeh. Nyala api dari kompor biogas cukup stabil dan mampu memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari.

Lebih dari itu, biogas menawarkan manfaat ganda:

Dalam konteks krisis energi global, solusi sederhana ini justru menjadi relevan.


Kearifan Lokal sebagai Strategi Energi

Pendekatan yang ditawarkan bukan sekadar teknis, tetapi juga filosofis. Kearifan lokal diposisikan sebagai fondasi strategi energi.

Di pedesaan, penggunaan kayu bakar masih menjadi praktik umum. Meski sering dianggap tradisional, metode ini tetap relevan jika dikelola secara berkelanjutan.

Sementara di perkotaan, opsi seperti kompor listrik mulai didorong. Dengan semakin luasnya akses listrik, terutama dari sumber energi yang lebih bersih, kompor listrik bisa menjadi alternatif realistis.

Pendekatan ini menekankan satu hal: solusi energi tidak harus seragam. Ia harus menyesuaikan kondisi geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat.


Energi Tidak Lagi Terpusat

Yang jarang dibahas adalah bahwa kebijakan energi selama ini cenderung terpusat—bergantung pada distribusi dari perusahaan besar dan impor bahan bakar.

Namun, gagasan diversifikasi berbasis lokal membuka kemungkinan baru: desentralisasi energi.

Artinya, masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen energi dalam skala kecil. Biogas adalah contoh nyata dari model ini.

Jika dikembangkan secara luas, pendekatan ini bisa mengurangi tekanan terhadap distribusi energi nasional sekaligus meningkatkan ketahanan di tingkat lokal.


Tantangan Implementasi

Meski menjanjikan, penerapan energi alternatif tidak lepas dari tantangan. Untuk biogas, misalnya, dibutuhkan:

Begitu pula dengan kompor listrik, yang memerlukan pasokan listrik stabil dan biaya operasional yang kompetitif.

Tanpa dukungan kebijakan dan insentif, adopsi energi alternatif bisa berjalan lambat.


Peran Pemerintah: Dari Subsidi ke Fasilitasi

Kenaikan harga LPG seharusnya tidak hanya direspons dengan kebijakan subsidi, tetapi juga dengan strategi jangka panjang.

Pemerintah dapat berperan sebagai fasilitator, misalnya dengan:

Dengan pendekatan ini, masyarakat tidak hanya dilindungi dari kenaikan harga, tetapi juga diberdayakan untuk mandiri.


Dampak Jangka Panjang

Jika diversifikasi energi berhasil, dampaknya bisa signifikan:

Dalam jangka panjang, ini bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal keberlanjutan lingkungan.


Optimisme di Tengah Tekanan

Dedi Mulyadi menyampaikan keyakinannya bahwa masyarakat Indonesia memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Dalam banyak kasus, inovasi justru muncul dari keterbatasan.

Kenaikan harga LPG bisa menjadi tekanan, tetapi juga peluang untuk berubah. Dari konsumsi yang pasif menuju produksi yang lebih aktif.

Kenaikan harga LPG non-subsidi adalah realitas yang tidak bisa dihindari di tengah dinamika energi global. Namun, cara meresponsnya akan menentukan arah ke depan.

Pendekatan berbasis kearifan lokal menawarkan alternatif yang tidak hanya praktis, tetapi juga berkelanjutan. Dari biogas hingga kompor listrik, pilihan energi kini semakin beragam.

Pertanyaannya bukan lagi apakah masyarakat mampu bertahan, tetapi apakah sistem mampu mendukung perubahan tersebut.

Jika iya, maka kenaikan harga bukan akhir dari cerita—melainkan awal dari transformasi energi yang lebih mandiri.

Editor : Mahendra Aditya
#subsidi energi Indonesia #harga LPG naik 2026 #biogas Indonesia #energi alternatif Jawa Barat #kompor listrik vs LPG