Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Harga LPG Indonesia dan India Sama-Sama Naik, Siapa Lebih Murah?

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 21 April 2026 | 19:25 WIB
Ilustrasi penjualan gas LPG 3 kg. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
Ilustrasi penjualan gas LPG 3 kg. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

RADAR KUDUS - Lonjakan harga energi global kembali mengguncang dua negara dengan populasi besar: Indonesia dan India. Keduanya sama-sama melakukan penyesuaian harga Liquefied Petroleum Gas (LPG) dalam waktu hampir bersamaan.

Namun, pertanyaan yang muncul bukan sekadar siapa yang lebih mahal, melainkan apa yang sebenarnya membentuk harga tersebut.

Di Indonesia, penyesuaian dilakukan oleh PT Pertamina Patra Niaga untuk LPG non-subsidi. Sementara di India, kenaikan terjadi terutama pada segmen komersial. Meski terlihat serupa di permukaan, struktur harga di kedua negara menyimpan perbedaan mendasar yang jarang dibahas.


Indonesia: Kenaikan Terkontrol di Tengah Subsidi

Mulai April 2026, harga LPG non-subsidi di Indonesia mengalami kenaikan signifikan. Tabung 5,5 kg naik menjadi sekitar Rp107.000, sementara ukuran 12 kg menyentuh kisaran Rp228.000 di wilayah Jawa dan Bali.

Kenaikan ini mencerminkan tekanan global terhadap harga energi, terutama karena LPG sangat bergantung pada harga kontrak internasional seperti Saudi Contract Price (CP). Ketika harga global naik, penyesuaian di dalam negeri menjadi sulit dihindari.

Namun, yang membuat Indonesia unik adalah keberadaan subsidi besar untuk LPG 3 kg. Tabung ini tetap dijaga harganya agar terjangkau masyarakat berpenghasilan rendah.

Artinya, meskipun LPG non-subsidi naik, sebagian besar rumah tangga tidak langsung merasakan dampaknya secara penuh. Di sinilah peran kebijakan fiskal menjadi penyeimbang antara pasar dan perlindungan sosial.


India: Lonjakan di Segmen Komersial

Berbeda dengan Indonesia, India menunjukkan pola yang lebih tersegmentasi. Harga LPG komersial di kota seperti New Delhi melonjak tajam hingga lebih dari ₹2.000 per tabung 19 kg.

Kenaikan ini setara dengan lebih dari Rp35.000 per tabung dalam sekali penyesuaian—angka yang cukup signifikan bagi pelaku usaha seperti restoran dan hotel.

Namun menariknya, LPG rumah tangga ukuran 14,2 kg di beberapa kota besar seperti Mumbai relatif stabil. Pemerintah India memilih menjaga daya beli masyarakat dengan menahan harga domestik, sementara membiarkan sektor komersial menyesuaikan diri dengan pasar.

Pendekatan ini menunjukkan strategi berbeda: subsidi tetap ada, tetapi lebih selektif dan terfokus.


Faktor Global: Konflik dan Jalur Energi

Kenaikan harga LPG di kedua negara tidak bisa dilepaskan dari dinamika global. Ketegangan di kawasan Timur Tengah, termasuk konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat, berdampak langsung pada pasokan energi dunia.

Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran pasar. Jalur ini merupakan salah satu titik terpenting dalam distribusi energi global. Ketika risiko meningkat, harga otomatis ikut terdorong naik.

Bagi negara importir seperti Indonesia dan India, kondisi ini berarti satu hal: biaya energi akan naik, terlepas dari kebijakan domestik.


Siapa Lebih Mahal?

Jika dibandingkan secara langsung, harga LPG non-subsidi di India cenderung lebih tinggi dibanding Indonesia, terutama untuk segmen komersial.

Namun, perbandingan ini tidak sepenuhnya adil jika tidak melihat konteks:

Di Indonesia, harga tampak lebih rendah karena adanya intervensi pemerintah. Di India, harga lebih mencerminkan kondisi pasar, terutama di sektor komersial.

Dengan kata lain, tanpa subsidi, harga LPG di kedua negara sebenarnya bergerak dalam pola yang hampir sama—mengikuti dinamika global.


Harga Energi Ditentukan di Luar Negeri

Satu hal yang jarang disorot adalah bahwa harga LPG domestik sebenarnya tidak sepenuhnya ditentukan oleh kebijakan dalam negeri.

Baik Indonesia maupun India sangat bergantung pada impor LPG. Artinya, harga di dalam negeri sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal—mulai dari konflik geopolitik hingga fluktuasi nilai tukar.

Dalam kondisi ini, pemerintah hanya memiliki dua pilihan:

Kedua pilihan memiliki konsekuensi masing-masing.


Dampak bagi Masyarakat dan Dunia Usaha

Kenaikan LPG non-subsidi di Indonesia kemungkinan besar akan dirasakan oleh kelas menengah dan pelaku usaha kecil. Sementara di India, dampaknya lebih terasa di sektor komersial.

Restoran, hotel, dan usaha kecil menjadi pihak yang paling terdampak. Biaya operasional meningkat, yang pada akhirnya bisa memicu kenaikan harga makanan dan jasa.

Di sisi lain, rumah tangga berpenghasilan rendah relatif lebih terlindungi berkat subsidi. Namun, ketergantungan terhadap subsidi juga menciptakan tantangan jangka panjang bagi anggaran negara.


Dilema Kebijakan Energi

Baik Indonesia maupun India menghadapi dilema yang sama: menjaga harga tetap terjangkau tanpa membebani anggaran negara.

Subsidi memang efektif dalam jangka pendek, tetapi bisa menjadi beban besar jika harga energi global terus naik. Sebaliknya, membiarkan harga mengikuti pasar berisiko menekan daya beli masyarakat.

Karena itu, banyak negara mulai mencari solusi alternatif, seperti:

Namun, transisi ini membutuhkan waktu dan investasi besar.


Perbandingan yang Lebih Dalam dari Sekadar Angka

Pertanyaan “lebih mahal mana?” sebenarnya hanya permukaan dari isu yang jauh lebih kompleks.

Indonesia dan India menunjukkan dua pendekatan berbeda dalam menghadapi kenaikan harga LPG. Indonesia mengandalkan subsidi untuk menjaga stabilitas, sementara India lebih selektif dalam memberikan perlindungan.

Namun pada akhirnya, keduanya tetap berada dalam sistem yang sama: pasar energi global.

Selama ketergantungan terhadap impor masih tinggi, harga LPG di dalam negeri akan selalu dipengaruhi oleh faktor eksternal. Kebijakan domestik hanya berperan sebagai penyeimbang, bukan penentu utama.

Editor : Mahendra Aditya
#subsidi energi Indonesia #harga LPG Indonesia 2026 #harga LPG India terbaru #kenaikan LPG global #perbandingan harga gas LPG