RADAR KUDUS – Prolematik penanganan ikan sapu-sapu di perairan Jakarta memasuki babak baru. Setelah metode penguburan hidup-hidup menuai kritik tajam dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) karena dianggap tidak etis, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, muncul dengan usulan yang lebih produktif dan ramah lingkungan.
Susi menyarankan agar ribuan ton ikan invasif tersebut tidak sekadar dibuang, melainkan diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi
Susi Pudjiastuti menekankan bahwa ikan sapu-sapu memiliki potensi besar jika diproses secara benar melalui teknologi penggilingan. Alih-alih dikubur sia-sia, ikan ini dapat diolah menjadi pakan ternak atau pelet ikan.
"Dibuat pakan ikan atau pakan ternak saja, digiling dijadikan pelet ikan," ujar Susi saat dihubungi pada Senin (20/4/2026).
Langkah ini dinilai sangat efisien karena kandungan protein dalam ikan, meskipun tidak layak konsumsi bagi manusia akibat pencemaran logam berat di sungai Jakarta, masih dapat dimanfaatkan sebagai nutrisi pertumbuhan hewan ternak melalui pengolahan suhu tinggi yang aman.
Selain pakan, Susi juga melihat peluang besar di sektor pertanian. Ikan sapu-sapu yang memiliki cangkang keras dan kandungan mineral tinggi dapat dikonversi menjadi pupuk organik.
Metodenya cukup sederhana namun efektif untuk meningkatkan kesuburan tanah di lahan-lahan perkebunan.
"Atau pupuk tanaman bisa juga, dikirim ke perkebunan. Caranya dicincang, lalu dikubur di lahan pertanian," jelas Susi.
Dengan cara ini, residu biologis dari ikan tersebut akan terurai dan menjadi unsur hara yang bermanfaat bagi tanaman, sekaligus menghindari bau menyengat dan penyiksaan hewan jika dilakukan dalam kondisi sudah mati dan terpotong.
Susi juga memberikan alternatif jalur distribusi hasil tangkapan tersebut kepada sektor peternakan spesifik. Ia menyarankan agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berkoordinasi dengan para peternak kepiting dan peternak buaya.
Peternak Kepiting: Ikan dapat dibekukan terlebih dahulu agar awet, kemudian digunakan sebagai umpan atau pakan kepiting.
Peternak Buaya: Tekstur daging dan kulit ikan sapu-sapu yang keras bukan menjadi masalah bagi sistem pencernaan reptil besar seperti buaya, sehingga dapat menjadi sumber pangan yang murah bagi para pengelola penangkaran.
Baca Juga: Nemesis: Dashboard Berbasis AI Karya Anak Bangsa yang Menelanjangi Kejanggalan Anggaran Negara
Usul dari Susi Pudjiastuti ini secara tidak langsung mendorong implementasi ekonomi sirkular di ibu kota. Alih-alih mengeluarkan biaya besar hanya untuk memusnahkan hama, pemerintah dapat menciptakan ekosistem di mana limbah biologis diubah menjadi komoditas.
Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, diharapkan dapat mempertimbangkan aspek pengolahan ini untuk meredam kontroversi metode pemusnahan sebelumnya.
Dengan kolaborasi antara dinas lingkungan hidup dan para pelaku usaha pengolahan pakan, masalah ikan sapu-sapu di Jakarta tidak hanya berakhir bersih di sungai, tetapi juga membawa manfaat bagi sektor agronomi dan peternakan nasional. (*)
Editor : Ghina Nailal Husna