Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Indonesia Resmi Masuki Musim Kemarau April 2026, BMKG: Lebih Awal dan Lebih Kering

Anita Fitriani • Senin, 6 April 2026 | 18:05 WIB
Ilustrasi musim kemarau (Foto: Istock)
Ilustrasi musim kemarau (Foto: Istock)

 

RADAR KUDUS — Sebagian besar wilayah di Indonesia mulai memasuki musim kemarau pada akhir Maret dan awal April 2026, dengan transisi yang bertahap dari Nusa Tenggara ke pulau-pulau lain.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan bahwa sekitar 16,3 persen wilayah musim di Indonesia atau sebanyak 114 Zona Musim sudah menginjak fase kemarau pada bulan April, terutama di pesisir utara Jawa bagian barat, Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, Bali, serta Nusa Tenggara Barat dan Timur. 

Daerah Nusa Tenggara menjadi salah satu tempat pertama yang merasakan musim kemarau ini, sebelum kondisi kering ini menyebar ke Sumatra, Jawa, Bali, dan beberapa daerah timur Indonesia.

Pada bulan Mei 2026, diperkirakan wilayah yang mengalami musim kemarau akan meningkat menjadi sekitar 26,3 persen, dan pada bulan Juni angka tersebut akan naik menjadi sekitar 23,3 persen, sehingga sebagian besar wilayah Indonesia sudah memasuki masa kemarau sebelum pertengahan tahun.

Baca Juga: Stok Beras Capai 4,5 Juta Ton, Pemerintah Jamin Pasokan Aman di Tengah Ancaman El Nino

BMKG juga menyatakan bahwa musim kemarau 2026 dimulai lebih awal dan berpotensi lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, setelah fenomena La Niña yang lemah berakhir pada Februari 2026 dan berubah menjadi fase iklim netral. 

Dalam kondisi ini, sebagian besar daerah di Indonesia diperkirakan akan mencapai puncak kemarau pada bulan Agustus 2026, mencakup sekitar 61,4 persen Zona Musim, diikuti dengan puncak lanjutan pada bulan Juli dan September di beberapa wilayah lainnya.

Pola hujan pada awal April 2026 masih menunjukkan sisa-sisa musim hujan, dengan hujan menengah yang masih sering terjadi di berbagai daerah, meskipun jumlah hari hujan mulai berkurang dan intensitasnya cenderung menurun seiring berjalannya waktu.

Kondisi ini menunjukkan adanya fase peralihan, di mana cuaca menjadi lebih fluktuatif, sehingga kemungkinan terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan lebat disertai petir, angin kencang, atau bahkan puting beliung masih mungkin terjadi di beberapa wilayah, terutama di zona peralihan. 

Masyarakat diingatkan untuk tetap waspada terhadap risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir mendadak, tanah longsor di daerah hulu, dan genangan air, meskipun secara bertahap frekuensi kejadian tersebut akan berkurang seiring dengan peralihan ke musim kemarau.

Dampak musim kemarau yang datang lebih awal dan cenderung lebih kering sudah mulai dirasakan di sektor pertanian, ketersediaan air bersih, dan risiko kebakaran hutan serta lahan.

Di beberapa daerah di Nusa Tenggara, Jawa, dan sebagian Sumatra, petani mulai melaporkan kesulitan dalam mengatur jadwal tanam akibat curah hujan yang tidak stabil dan berkurangnya pasokan air irigasi, sehingga pemerintah daerah dan lembaga terkait diharapkan dapat mengoptimalkan pengelolaan sumber daya air, termasuk embung, waduk, dan sumur resapan.

Masyarakat yang tinggal di daerah beriklim kering dan semi-kering disarankan untuk mulai menyiapkan cadangan air bersih, lebih baik mengelola limbah, serta menjaga kebersihan lingkungan guna mengurangi risiko penyakit musiman seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akibat debu dan polusi.

Baca Juga: BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal, Waspada Kekeringan

Pihak yang bertanggung jawab semakin waspada akan kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, khususnya di area gambut serta lahan kering yang ada di Sumatra, Kalimantan, dan bagian Papua, karena musim kemarau yang lebih panjang dan kering dapat meningkatkan risiko kebakaran.

BMKG meminta masyarakat dan pengelola lahan untuk menghormati larangan membakar, meningkatkan sistem pengawasan kebakaran, serta memperkuat koordinasi antar lembaga agar bisa menangani titik api dengan cepat.

Selain itu, pemerintah daerah diharapkan untuk meningkatkan kesiapan dalam tanggap darurat, termasuk penyediaan mobil pemadam, tenaga kerja, serta infrastruktur pendukung seperti jalur evakuasi dan sumber air alternatif di sekitar daerah rawan kebakaran.

Pemantauan terhadap kondisi iklim, perubahan pola curah hujan, dan suhu harian menjadi penting sebagai referensi dalam merencanakan aktivitas di sektor pertanian, perikanan, transportasi, serta untuk kegiatan ekonomi dan kehidupan sehari-hari.

Memahami bahwa kemarau tahun 2026 akan dimulai lebih awal, berlangsung lebih kering, dan puncaknya diprediksi akan terjadi pada bulan Agustus, langkah pencegahan yang tepat dan cepat dapat membantu mengurangi risiko dampak negatif serta menjaga ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. (*)

Editor : Anita Fitriani
#el nino #kekeringan #musim kemarau #bmkg #cuaca