RADAR KUDUS - Indonesia menghadapi puncak kemarau yang diperkirakan akan berjalan lebih lama serta gersang di beberapa wilayah karena datangnya fenomena El Nino “Godzilla” mulai April 2026.
Pola cuaca ekstrem tersebut dipantau akan terasa pada Jawa, Bali, NTB, serta NTT, yang akan mengalami kemarau lebih panjang dan minim hujan dibanding wilayah lain di Indonesia.
Pada wilayah tersebut, proses terbentuknya awan berkurang drastis dan intensitas hujan diprediksi berada di titik terendah, sehingga memicu risiko kekeringan akut bagi cadangan air permukaan atau tanah.
Pulau Jawa, khususnya kawasan pantai utara dan sebagian tengah, diperkirakan alami kkekeringan yang mengganggu ketersediaan air bagi rumah tangga, pertanian, dan industri.
Pengalaman dari El Nino 2023 yang memicu gagal panen serta krisis air di banyak kota Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah bukti nyata bahwa musibah serupa mengintai jika mitigasi daerah tidak ditingkatkan.
Untuk Bali, kekeringan berpotensi mengganggu ketersediaan air, untuk irigasi sawah, pertanian sayuran, dan kebutuhan pariwisata yang sangat bergantung pada kualitas air dan kenyamanan cuaca.
Baca Juga: Antisipasi El Nino Godzilla, Indonesia Harus Siap Hadapi Musim Kemarau Panjang
NTB dan NTT diprediksi menjadi pusat zona terdampak paling parah, sebab El Nino “Godzilla” diyakini akan membuat kemarau di wilayah ini semakin awet dengan intensitas hujan kian langka.
Di berbagai wilayah NTB, pemerintah daerah telah mulai memetakan desa-desa rentan kekeringan yang terancam mengalami keterbatasan stok air bersih dan risiko gagal tanam.
Situasi serupa kemungkinan melanda NTT, di mana minimnya curah hujan saat kemarau memang pemicu lama krisis pangan serta kekeringan, sehingga anomali tahun ini bisa memperburuk masalah tersebut.
Pada aspek lainnya, imbas zona turut menyentuh bidang pertanian maupun peternakan, utamanya pada pusat penghasil padi, jagung, serta sayur di Jawa dan Nusa Tenggara. Minimnya suplai irigasi bisa mengharuskan petani menunda jadwal tanam, memangkas luasan lahan, ataupun harus menderita gagal panen jika hujan tetap tidak turun.
Sejumlah titik pada sisi timur laut Indonesia, misalnya sebagian Sumatra serta Kalimantan timur, masih mungkin menerima curah hujan sedang hingga lumayan tinggi, sehingga risikonya lebih mengarah pada banjir dan longsor daripada kekeringan.
Meski begitu, temperatur udara yang diproyeksi meninggi sekitar 1,5–2 derajat Celsius dari standar akan tetap terasa merata di semua zona terdampak, khususnya area pesisir dan kota padat.
Situasi ini memicu kenaikan risiko gangguan medis seperti dehidrasi, migrain, serta keluhan napas, terutama bagi kalangan anak-anak dan warga kelompok rentan. (*)
Editor : Anita Fitriani