RADAR KUDUS – Kabar duka datang dari misi perdamaian dunia setelah seorang prajurit TNI yang bertugas bersama United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) dilaporkan gugur di Lebanon.
Prajurit tersebut adalah Farizal Rhomadhon berpangkat Prajurit Kepala (Praka) asal Lendah, Kulon Progo.
Praka Farizal meninggal dunia diduga akibat serpihan tembakan artileri Israel pada Minggu (29/3) sekitar pukul 20.44 waktu setempat.
Dalam kejadian itu, beberapa prajurit lainnya juga dilaporkan mengalami luka-luka.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, Farizal merupakan anggota Batalyon Infanteri 113/Jaya Sakti yang tergabung dalam Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S UNIFIL di Lebanon Selatan.
Suasana duka tampak di rumah keluarga di Padukuhan Ledok, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah.
Tenda takziah telah dipasang sebagai persiapan menyambut kepulangan jenazah yang masih berada di Lebanon.
Warga sekitar berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa, sementara gotong royong dilakukan membersihkan akses jalan menuju rumah duka.
Pihak keluarga memilih menunggu keterangan resmi dari TNI maupun pemerintah terkait kepastian informasi.
Dukuh Ledok, Wakidi, membenarkan kabar wafatnya Farizal setelah menerima informasi dari warga serta aparat TNI setempat.
Ia menyebut penyebab pasti masih menunggu penjelasan resmi dari pihak berwenang.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Republik Indonesia memastikan satu prajurit TNI gugur akibat serangan artileri saat menjalankan tugas perdamaian di Lebanon Selatan.
Farizal merupakan bagian dari Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-S yang bertugas dalam misi UNIFIL.
Prajurit kelahiran Kulon Progo, 3 Januari 1998 itu meninggalkan seorang istri dan putri berusia dua tahun yang kini tinggal di rumah dinas di Bireuen, Aceh.
Selama bertugas, ia dikenal sebagai prajurit berprestasi dan telah menerima penghargaan SL Dharma Nusa serta SL Kesetiaan VIII Tahun.
Farizal gugur di area Indobatt UNP 7-1, Desa Achid Alqusayr, Lebanon Selatan. Dugaan sementara, korban terkena tembakan artileri milik Israel Defense Forces.
Sebelumnya, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia juga mengonfirmasi insiden tersebut di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah.
Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang menyatakan pemerintah menyampaikan duka mendalam atas gugurnya satu personel penjaga perdamaian serta tiga prajurit lain yang mengalami luka akibat serangan artileri tidak langsung di dekat Adchit Al Qusayr.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya intensitas saling serang antara militer Israel dan kelompok bersenjata di Lebanon selatan yang memicu kekhawatiran eskalasi konflik lebih luas.
Pemerintah Indonesia mengecam keras serangan tersebut serta mendesak penyelidikan menyeluruh dan transparan untuk mengungkap peristiwa yang menelan korban dari pasukan penjaga perdamaian.