RADAR KUDUS — Pemerintah Iran dilaporkan tengah menggodok kebijakan radikal untuk membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz secara terbatas.
Namun, langkah ini membawa syarat geopolitik yang berat: setiap kapal tanker minyak yang ingin melintasi jalur strategis tersebut diwajibkan meninggalkan Dolar AS dan beralih menggunakan mata uang Yuan China dalam seluruh transaksi pelabuhan dan biaya transitnya.
Langkah ini mencuat di tengah kebuntuan pasokan energi global pasca-serangan militer yang menghantam wilayah kedaulatan Iran baru-baru ini.
Rencana penggunaan Yuan tersebut dipandang sebagai strategi ganda Teheran untuk mengamankan pendapatan negara sekaligus mempercepat de-dolarisasi di salah satu urat nadi perdagangan paling vital di dunia.
Sejak eskalasi konflik antara Iran dengan koalisi Amerika Serikat dan Israel memuncak, aktivitas di Selat Hormuz praktis terhenti.
Data pelayaran menunjukkan penurunan drastis arus lalu lintas kapal; dari yang biasanya mencapai ratusan kapal tanker per hari, kini menyusut drastis hingga hanya segelintir kapal dalam periode 24 jam.
Penutupan ini telah mengirimkan gelombang kejut ke pasar komoditas dunia. Iran, yang memegang kendali geografis atas selat tersebut, kini mulai menggunakan otoritas maritimnya sebagai instrumen tawar-menawar ekonomi.
Dengan menawarkan "jalur hijau" khusus bagi mereka yang bersedia bertransaksi dengan Yuan, Iran secara tidak langsung memperkuat aliansi strategisnya dengan Beijing sembari memberikan pukulan telak bagi dominasi finansial Washington.
Ketegangan tidak berhenti di Hormuz. Teheran juga telah mengeluarkan ancaman untuk memperluas tekanan ke jalur maritim lain, khususnya Selat Bab el-Mandeb yang merupakan pintu masuk selatan menuju Laut Merah.
Jika kedua selat ini terblokir total, rute pengiriman minyak dan barang antara Timur Tengah, Asia, dan Eropa akan mengalami disrupsi katastrofik.
Para pengamat maritim menyebut situasi ini sebagai "mimpi buruk logistik" yang memaksa kapal-kapal kargo raksasa melakukan manuver memutar melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan.
Pengalihan rute melalui jalur selatan Afrika bukanlah solusi tanpa risiko. Berdasarkan kalkulasi pakar logistik internasional, rute memutar ini mengakibatkan:
1. Penambahan waktu pelayaran: Kapal membutuhkan waktu ekstra sekitar 10 hingga 14 hari untuk sampai ke tujuan.
2. Lonjakan biaya operasional: Setiap perjalanan diperkirakan menelan biaya tambahan bahan bakar lebih dari satu juta dolar AS.
3. Disrupsi rantai pasok: Keterlambatan barang modal dan konsumsi yang memicu inflasi global.
Kondisi tersebut dipastikan akan memicu lonjakan harga energi di pasar internasional, yang pada gilirannya dapat memperparah ketidakstabilan ekonomi dunia yang saat ini masih dalam tahap pemulihan.
Hingga laporan ini diturunkan, pemerintah Iran belum memberikan pernyataan resmi mengenai detail teknis pemberlakuan syarat transaksi Yuan tersebut.
Di sisi lain, Amerika Serikat dan sekutunya terus memantau situasi dengan ketat, menganggap langkah Iran sebagai bentuk "pemerasan energi" yang melanggar hukum laut internasional.
Dunia kini menanti apakah negara-negara pengimpor minyak besar, terutama di kawasan Asia, akan tunduk pada syarat Teheran demi mengamankan pasokan energi mereka, atau tetap bertahan pada sistem keuangan berbasis Dolar dengan risiko menghadapi krisis energi yang berkepanjangan. (*)
Editor : Ali Mustofa