RADAR KUDUS — Ibu kota Yaman, Sana'a, berubah menjadi lautan manusia ketika jutaan warga memadati jalan-jalan protokol dalam salah satu mobilisasi massa terbesar yang pernah tercatat di negara tersebut.
Aksi akbar ini digelar sebagai bentuk solidaritas tanpa batas terhadap rakyat Palestina, sekaligus menjadi pernyataan politik yang tegas di tengah eskalasi konflik yang terus membara di Timur Tengah.
Demonstrasi yang berlangsung di wilayah yang dikuasai oleh kelompok Ansar Allah (Houthi) ini menunjukkan skala dukungan yang luar biasa.
Sejak pagi hari, warga dari berbagai penjuru kota dan daerah pinggiran mulai mengalir menuju pusat kota, menciptakan pemandangan dramatis yang tertangkap oleh berbagai lensa media internasional.
Pemandangan di lapangan didominasi oleh ribuan bendera yang berkibar tertiup angin.
Para demonstran tidak hanya membawa bendera nasional Yaman, tetapi juga secara mencolok mengibarkan bendera Palestina sebagai simbol persaudaraan.
Selain itu, keberadaan bendera Iran di tengah massa juga menjadi sorotan tajam bagi para pengamat internasional.
Pengibaran bendera Iran dalam aksi tersebut dimaknai sebagai simbol aliansi politik dan ideologis yang semakin kuat di kawasan tersebut.
Hal ini mempertegas posisi kelompok Houthi dalam "Poros Perlawanan" (Axis of Resistance), sebuah blok regional yang secara konsisten menentang kebijakan Israel dan Amerika Serikat di tanah Arab.
Sepanjang aksi berlangsung, gema slogan-slogan anti-Israel dan anti-Amerika Serikat terdengar membahana di seluruh penjuru Sana'a.
Massa menyuarakan kecaman keras terhadap agresi militer di Jalur Gaza dan menuntut dihentikannya keterlibatan negara-negara Barat dalam konflik tersebut.
Bagi otoritas setempat, aksi akbar ini bukan sekadar unjuk rasa biasa, melainkan panggung politik yang strategis.
Melalui mobilisasi jutaan orang ini, kelompok Houthi ingin menunjukkan kepada dunia internasional—dan khususnya kepada lawan politik mereka—bahwa mereka memiliki dukungan akar rumput yang masif serta kontrol penuh atas wilayah utara Yaman.
Media internasional melaporkan bahwa frekuensi dan skala demonstrasi di Yaman telah meningkat secara signifikan sejak pecahnya konflik terbaru di Gaza.
Yaman, meskipun didera krisis kemanusiaan akibat perang saudara yang berkepanjangan, tetap menempatkan isu Palestina sebagai prioritas utama dalam narasi publik mereka.
Analis menilai bahwa aksi semacam ini berfungsi ganda:
1. Dukungan Psikologis: Memberikan dorongan moral bagi rakyat Palestina yang sedang berada di bawah tekanan militer.
2. Pesan Militer: Menjadi latar belakang bagi tindakan militer Houthi di Laut Merah, di mana mereka mengklaim tindakan menyerang kapal-kapal yang terkait dengan Israel adalah bentuk dukungan nyata bagi warga Gaza.
Aksi yang berakhir dengan tertib ini mengirimkan pesan yang tak terbantahkan ke seluruh dunia bahwa isu Palestina tetap menjadi pemersatu di tengah masyarakat Yaman yang terfragmentasi.
Di mata jutaan orang yang memadati jalanan Sana'a hari ini, perjuangan di Gaza adalah perjuangan mereka sendiri, dan mereka siap menjadi bagian dari dinamika kekuasaan yang sedang berubah di Timur Tengah. (*)
Editor : Ali Mustofa