Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Krisis Kemanusiaan Berdampak pada Satwa: Ratusan Hewan Peliharaan di Dubai Terlantar Akibat Konflik Timur Tengah

Ghina Nailal Husna • Rabu, 11 Maret 2026 | 16:01 WIB

Ilustrasi hewan satwa
Ilustrasi hewan satwa

RADAR KUDUS – Ketegangan geopolitik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah tidak hanya memicu eksodus besar-besaran warga sipil, tetapi juga menyisakan krisis tersembunyi bagi makhluk tak bersuara.

Di Dubai, Uni Emirat Arab, dilaporkan terjadi lonjakan drastis jumlah hewan peliharaan yang ditelantarkan oleh pemiliknya yang memilih untuk mengungsi secara mendadak ke luar negeri.

Fenomena ini menjadi pusat perhatian komunitas pencinta hewan internasional setelah ratusan anjing dan kucing ditemukan telantar di berbagai sudut kota tanpa perawatan, makanan, maupun perlindungan.

Sejumlah organisasi penyelamat hewan setempat mengungkapkan bahwa situasi ini berkembang sangat cepat dalam waktu singkat.

Kelompok relawan seperti K9 Friends Dubai melaporkan telah menerima ratusan panggilan darurat terkait hewan-hewan yang ditinggalkan begitu saja di kediaman pemiliknya atau di ruang publik.

Ironisnya, hewan yang ditemukan tidak hanya terdiri dari anak hewan yang baru diadopsi, tetapi juga anjing dan kucing dewasa yang telah bertahun-tahun menjadi bagian dari keluarga.

Relawan menemukan pemandangan memilukan di lapangan, mulai dari anjing yang ditemukan terikat di taman kota hingga kucing-kucing yang ditinggalkan di dalam kotak kardus tepat di depan pintu rumah yang sudah terkunci.

Kondisi ini membuat tempat-tempat penampungan hewan di Dubai mengalami tekanan luar biasa.

The Barking Lot, salah satu layanan penitipan dan penyelamatan hewan terkemuka, melaporkan adanya lonjakan permintaan penyerahan hewan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

 

"Kapasitas kami sudah hampir penuh. Setiap hari ada hewan baru yang masuk, sementara adopsi baru hampir tidak ada karena orang-orang lebih fokus untuk menyelamatkan diri mereka sendiri," ujar salah satu pengelola penampungan.

Kondisi semakin memprihatinkan ketika beberapa klinik dokter hewan melaporkan adanya peningkatan permohonan eutanasia (suntik mati) dari para pemilik.

Alasan yang dikemukakan serupa: mereka harus meninggalkan Dubai dengan segera dan merasa tidak mampu membawa hewan peliharaan mereka melintasi perbatasan karena biaya logistik yang mahal serta aturan karantina yang rumit.

Aksi penelantaran ini menuai kritik tajam dari para aktivis hak asasi hewan.

Mereka menegaskan bahwa situasi darurat atau perang bukanlah pembenaran untuk membiarkan hewan menderita tanpa solusi.

"Meninggalkan hewan di jalanan, diikat tanpa akses air, atau di perbatasan tanpa perawatan adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan dalam kondisi apa pun.

Hewan-hewan ini adalah anggota keluarga yang bergantung sepenuhnya pada manusia," tegas seorang perwakilan dari komunitas penyelamat satwa di Dubai.

Para aktivis kini berupaya menggalang bantuan internasional dan mendesak maskapai penerbangan untuk memberikan kelonggaran biaya atau prosedur bagi warga yang ingin membawa hewan peliharaan mereka mengungsi.

Mereka juga mengimbau bagi warga yang terpaksa pergi untuk setidaknya menitipkan hewan mereka ke lembaga resmi alih-alih membuangnya di tempat umum, guna memberikan kesempatan bagi hewan-hewan tersebut untuk mendapatkan pengasuh baru. (*)

Editor : Ali Mustofa
#dubai #konflik timur tengah #hewan terlantar