Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Putra Khamenei Mengambil Alih Kekuasaan di Tengah Perang, AS dan Israel Langsung Beri Ancaman!

Ali Mustofa • Senin, 9 Maret 2026 | 15:52 WIB

Mojtaba Khamenei (The Guardian)
Mojtaba Khamenei (The Guardian)

RADAR KUDUS – Mojtaba Khamenei kini resmi mengemban posisi Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran setelah dipilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts).

Penunjukan ini menutup spekulasi panjang pasca wafatnya ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari 2026.

Pengumuman resmi disiarkan melalui televisi nasional Iran pada Minggu malam waktu setempat, atau Senin pagi WIB.

Baca Juga: Majelis Ahli Tetapkan Mojtaba Khamenei Sebagai Pemimpin Iran, Ini Profilnya

Majelis Ahli menegaskan bahwa pemilihan Mojtaba dilakukan melalui “pemungutan suara yang menentukan.”

Sejumlah besar warga Iran turun ke jalan di Teheran dan kota-kota utama lainnya untuk merayakan pengangkatan Mojtaba, meski situasi keamanan tetap tegang karena konflik regional yang terus meningkat.

Mojtaba Hosseini Khamenei lahir pada 8 September 1969 di Mashhad, Iran, dan berusia 56 tahun pada 2026. Ia merupakan putra kedua dari Ayatollah Ali Khamenei dan Mansoureh Khojasteh Bagherzadeh.

Sebelum diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi, Mojtaba dikenal sebagai figur berpengaruh di balik layar, menjabat sebagai Deputi Kepala Staf Politik dan Keamanan di Kantor Pemimpin Tertinggi sejak 1999.

Ia memiliki kedekatan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta milisi Basij, dan disebut-sebut sebagai otak di balik kebijakan keamanan internal dan penindasan demonstrasi besar di Iran.

Meski tidak pernah menempati jabatan publik atau dipilih melalui pemilu, ia lama dianggap sebagai calon utama pengganti ayahnya.

Pernikahannya dengan Zahra Haddad-Adel, putri mantan ketua parlemen Gholam-Ali Haddad-Adel, memperkuat posisinya di kalangan elit garis keras ulama.

Baca Juga: Swiss Nilai Serangan AS–Israel ke Iran Langgar Hukum Internasional

Sayangnya, istrinya juga menjadi korban dalam serangan yang menewaskan ayah mertuanya.

Penunjukan ini dilakukan hanya beberapa hari setelah kematian Ali Khamenei pada 28 Februari 2026, yang menandai gelombang pertama serangan AS-Israel terhadap kompleks kediaman pemimpin tertinggi di Teheran.

Konflik ini mengakibatkan kerusakan signifikan pada infrastruktur minyak, kilang, dan fasilitas desalinasi di Iran maupun wilayah Teluk.

Sementara Presiden AS Donald Trump menegaskan penunjukan Mojtaba tidak dapat diterima dan menuntut AS terlibat dalam proses suksesi, pemerintah Iran tetap melanjutkan pemilihan internal tanpa mengindahkan tekanan tersebut.

Pengamat menilai kepemimpinan Mojtaba menegaskan kelanjutan kebijakan garis keras ayahnya, termasuk dukungan terhadap kelompok “poros perlawanan” seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi, kelanjutan program nuklir, serta penolakan untuk melakukan negosiasi dengan Barat.

Baca Juga: Garis Merah Terlampaui: Bahrain di Ambang Krisis Energi dan Air Akibat Penetrasi Rudal Iran

Namun, ada yang mempertanyakan legitimasi dinasti karena Mojtaba belum memiliki prestise keilmuan Syiah setinggi ayahnya.

Militer IRGC dan pejabat senior Iran langsung menyatakan kesetiaan kepada pemimpin baru. Di Teheran, warga merayakan pengumuman dengan sorak sorai, meski sebagian tetap khawatir eskalasi konflik akan semakin memburuk.

Dengan ancaman serangan lanjutan dari AS dan Israel, serta tantangan ekonomi dan kerusakan infrastruktur, kepemimpinan Mojtaba Khamenei diperkirakan akan menghadapi periode yang sangat sulit.

Pertanyaannya kini, apakah ia mampu menjaga stabilitas rezim di tengah tekanan internal dan eksternal yang besar?

Editor : Ali Mustofa
#perang #iran #amerika serikat #Mojtaba Khamenei