RADAR KUDUS - Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dapat berdampak negatif pada industri kreatif di Indonesia, khususnya sektor yang sangat bergantung pada impor bahan mentah dan ekspor ke wilayah itu.
Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menjelaskan bahwa ketergantungan ini membuat pelaku bisnis rentan terhadap ketidakpastian dalam rantai pasok global dan penurunan daya beli konsumen.
Untuk mengurangi dampak tersebut, pemerintah mendorong pengembangan produk di subsektor ekonomi kreatif seperti fashion, makanan, dan kerajinan tangan, dengan mengganti produk impor dengan barang lokal yang diproduksi dan dijual di dalam negeri.
Langkah ini bertujuan untuk menjadikan industri kreatif sebagai "pihak utama di tanah air" dan mengurangi dampak dari gejolak politik global.
Selain itu, Kementerian Ekonomi Kreatif juga meningkatkan kemampuan literasi digital melalui kerjasama dengan perusahaan swasta seperti Shopee Indonesia, untuk mengadakan pelatihan-pelatihan untuk para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) di berbagai wilayah.
Kerja sama juga berlangsung dengan Kementerian Perdagangan, Kementerian Luar Negeri, dan BPS untuk memantau gangguan pada ekspor, sambil tetap mendukung pasar domestik dengan produk lokal.
Diharapkan UMKM dan industri kreatif kembali menjadi tulang punggung perekonomian nasional, seperti yang terlihat selama krisis Covid-19.
Dengan adanya dukungan dari semua pihak pemerintah daerah dan pusat, sektor swasta, lembaga perbankan, akademisi, media, serta asosiasi strategi ini dioptimalkan untuk menghidupkan kembali industri kreatif Indonesia di tengah ketegangan global.
Pemerintah menggarisbawahi pentingnya pasar domestik yang kuat untuk memastikan ketahanan ekonomi secara keseluruhan.
Editor : Ali Mustofa