Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Dampak Konflik Timur Tengah, Harga Bensin Amerika Naik Tajam, Kini Tembus 3,25 Dolar AS per Galon

Ali Mustofa • Jumat, 6 Maret 2026 | 13:26 WIB

ilustrasi BBM (Foto: istock)
ilustrasi BBM (Foto: istock)

RADAR KUDUS – Harga bensin di Amerika Serikat kembali mengalami lonjakan cukup tajam dalam sepekan terakhir.

Data dari American Automobile Association (AAA) menunjukkan rata-rata harga nasional untuk bensin reguler kini mencapai 3,25 dolar AS per galon pada Kamis (5/3).

Angka tersebut naik hampir 27 sen dibandingkan pekan sebelumnya. Dengan kurs sekitar Rp16.886 per dolar AS, harga tersebut setara dengan lebih dari Rp54 ribu per galon.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Iran Menolak Negosiasi dengan Amerika Serikat

AAA menyebutkan bahwa kenaikan mingguan sebesar itu terakhir kali terjadi pada Maret 2022, tepat pada periode awal pecahnya konflik antara Rusia dan Ukraina yang juga mengguncang pasar energi global.

Menurut laporan AAA, lonjakan terbaru ini membuat harga bensin rata-rata nasional kembali berada di kisaran yang sama seperti yang tercatat pada awal April 2025.

Kenaikan harga bahan bakar pada periode ini sebenarnya bukan hal yang sepenuhnya mengejutkan.

Memasuki musim semi, permintaan bensin di Amerika Serikat biasanya meningkat seiring bertambahnya aktivitas perjalanan masyarakat.

Selain itu, kilang minyak juga mulai memproduksi bensin campuran musim panas atau summer-blend gasoline, yang umumnya lebih mahal karena standar lingkungan yang lebih ketat.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia juga menunjukkan tren kenaikan yang signifikan.

Baca Juga: Tujuh Pangkalan Militer AS Diserang Iran, Kerugian Nyaris 2 Miliar Dolar

Kontrak berjangka minyak mentah acuan Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman April, melonjak sekitar 8,51 persen dan ditutup di atas level 81 dolar AS per barel pada Kamis.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Juli 2024.

Kenaikan harga minyak global ini tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Serangan militer yang dilakukan Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran memicu respons keras dari Teheran, termasuk langkah yang secara efektif menutup Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang sangat penting bagi perdagangan energi dunia.

Sekitar 25 persen distribusi minyak global yang diangkut melalui jalur laut biasanya melewati kawasan tersebut.

Gangguan di jalur ini langsung memicu kekhawatiran pasar akan terganggunya pasokan energi.

Para analis memperingatkan bahwa jika penutupan Selat Hormuz berlangsung dalam waktu lama, harga minyak mentah dunia berpotensi melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel.

Dalam catatan riset yang dirilis pada Selasa (3/3), perusahaan manajemen aset dan perbankan investasi asal Amerika Serikat, Stifel, menyebutkan bahwa harga minyak yang bertahan tinggi berisiko mendorong inflasi kembali meningkat.

Kenaikan harga energi akan berdampak langsung pada indeks harga konsumen (IHK), sekaligus menambah tekanan terhadap sektor kredit. Kondisi tersebut juga berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi jika lonjakan harga minyak terus berlanjut dalam jangka panjang.

 
 
Editor : Ali Mustofa
#bensin #timur tengah #amerika serikat #kilang minyak