Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Keempat Konflik Iran–Israel–AS: Serangan Meluas, Situasi Kawasan Kian Memanas

Ghina Nailal Husna • Selasa, 3 Maret 2026 | 20:02 WIB

Ilustrasi konflik Iran - Israel - AS
Ilustrasi konflik Iran - Israel - AS

RADAR KUDUS – Memasuki hari keempat konflik terbuka antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS), eskalasi militer di Timur Tengah menunjukkan intensitas yang semakin tinggi.

Serangan udara, peluncuran rudal, serta operasi drone terus berlangsung di berbagai titik strategis kawasan. Angkatan udara Israel dan Amerika Serikat dilaporkan terus memperluas kendali udara di atas wilayah Iran.

Serangan udara disebut menargetkan puluhan peluncur rudal, pangkalan belakang, dan pusat komando, terutama di ibu kota, Tehran.

Selain Teheran, citra satelit yang beredar menunjukkan adanya serangan besar di sejumlah kota lain, termasuk Tabriz, Bandar Abbas, serta fasilitas nuklir di Natanz.

Wilayah pesisir seperti Konarak juga dilaporkan menjadi sasaran, memperlihatkan perluasan target ke basis-basis strategis dan infrastruktur militer penting.

Langkah ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk melemahkan kemampuan peluncuran rudal dan struktur komando Iran.

Serangan Balasan Iran Meluas

Di sisi lain, Iran terus melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke berbagai titik di Timur Tengah.

Beberapa proyektil dilaporkan mencapai pangkalan militer AS di kawasan tersebut, meskipun tingkat kerusakan dan korban belum dapat dipastikan secara independen.

Serangan Iran disebut meluas ke sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, Irak, Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Yordania, Siprus, dan Israel.

Di Arab Saudi, fasilitas energi strategis Ras Tanura/ARAMCO dilaporkan menjadi target, begitu pula Kedutaan Besar AS di Riyadh.

Beberapa negara Teluk, seperti Qatar dan UEA, merilis data awal mengenai serangan yang masuk ke wilayah mereka, dengan klaim sebagian besar berhasil dicegat sistem pertahanan udara. Namun, angka pasti terkait dampak serangan di berbagai negara masih belum jelas.

Di Kuwait, laporan awal menyebut tiga jet tempur F-16 milik AS jatuh akibat kesalahan identifikasi pada pagi hari. Hingga kini, belum ada konfirmasi resmi yang merinci insiden tersebut.

Keterlibatan Aktor Regional

Konflik juga meluas ke Lebanon setelah kelompok Hezbollah dilaporkan ikut terlibat dalam pertempuran. Israel merespons dengan melancarkan sejumlah serangan udara ke wilayah Lebanon.

Di Irak dan Bahrain, yang memiliki populasi mayoritas Syiah, sebagian warga dilaporkan menggelar aksi protes di sekitar Kedutaan Besar AS, mencerminkan meningkatnya ketegangan politik domestik di tengah konflik regional.

Sementara itu, pemerintah AS menyerukan warganya di seluruh negara kawasan untuk segera meninggalkan wilayah Timur Tengah sebagai langkah antisipatif terhadap kemungkinan eskalasi lebih lanjut.

Meski telah berlangsung selama empat hari dengan intensitas serangan tinggi, pemerintahan Republik Islam Iran dilaporkan belum menunjukkan tanda-tanda perubahan posisi politik secara signifikan. Situasi domestik di Iran juga terpantau relatif terkendali, tanpa gelombang demonstrasi besar di jalanan.

Namun, sejumlah pengamat mulai mempertanyakan ketahanan logistik kedua belah pihak. Di satu sisi, stok rudal dan drone Iran menjadi tanda tanya besar apabila konflik berlanjut dalam jangka panjang.

Di sisi lain, negara-negara Teluk dan Israel juga disebut berpotensi mengalami keterbatasan sistem pertahanan udara dan amunisi pencegat.

Sebagai respons, sekitar 20 pesawat kargo militer AS dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju kawasan untuk memperkuat suplai dan dukungan logistik.

Dengan semakin banyaknya negara yang terdampak langsung maupun tidak langsung, konflik ini tidak lagi bersifat bilateral.

Eskalasi cepat dan meluasnya serangan lintas batas meningkatkan risiko konfrontasi regional yang lebih besar.

Hingga kini, belum ada tanda-tanda deeskalasi yang jelas. Komunitas internasional menghadapi tantangan besar untuk mendorong dialog diplomatik di tengah intensitas operasi militer yang terus berlangsung.

Hari keempat konflik menunjukkan bahwa situasi di Timur Tengah kian kompleks dan berpotensi menimbulkan dampak luas, baik secara militer, politik, maupun ekonomi global. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#konflik #Iran Israel AS