Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Kemiskinan Ekstrem 2026 Belum Usai, Tragedi Siswa SD NTT Jadi Peringatan Mendesak

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 5 Februari 2026 | 11:52 WIB
Miskin ekstrem di Indonesia. (Foto: ahcmadnurhidayat.id)
Miskin ekstrem di Indonesia. (Foto: ahcmadnurhidayat.id)

RADAR KUDUS - Kepergian seorang siswa SD kelas IV di Kabupaten Ngada, NTT, yang diyakini bunuh diri karena kemiskinan ekstrem di akhir Januari 2026 yang telah menarik perhatian secara luas di seluruh negeri.

Kasus ini menyoroti situasi 2,38 juta warga yang hidup dalam kemiskinan ekstrem di Indonesia per Maret 2025, di mana pemerintah berupaya menurunkan angka tersebut menjadi 0% pada akhir tahun 2026.

Siswa bernama YBS, yang berusia 10 tahun, ditemukan tidak bernyawa di dekat tempat tinggalnya bersama neneknya setelah meminta buku dan pena seharga kurang dari Rp10. 000 kepada ibunya, yang tidak dapat memenuhi permintaan tersebut.

Insiden yang terjadi pada 29 Januari 2026 ini memicu reaksi keras dari Amnesty International Indonesia, yang menyebutnya sebagai "ironi dalam hak asasi manusia" akibat kemiskinan yang sistemik.

Media seperti MetroTV dan Kompas. com menyoroti rasa putus asa siswa tersebut sebagai cerminan kegagalan dalam sistem pendidikan dan perlindungan anak.

Pemerintahan di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto bertekad untuk menghapus kemiskinan ekstrem (pendapatan di bawah US$2,15 per hari atau Rp322. 000 per bulan) melalui Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk memastikan bantuan sosial yang tepat sasaran, pelatihan kerja, dan pemberdayaan masyarakat.

Meskipun jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan ekstrem telah berkurang dari 3,1 juta menjadi 2,38 juta (hingga Maret 2025), hanya tersisa delapan bulan menuju target, dengan NTT menjadi salah satu daerah yang rentan.

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar menekankan pentingnya kolaborasi antar kementerian terkait.

Anggota DPR Hetifah Sjaifudian menyebutkan bahwa tragedi ini merupakan "peringatan serius" bagi negara untuk melindungi anak-anak dari rasa putus asa.

Aktivis seperti Ubaid Matraji menganggapnya sebagai "tanda kegagalan sistemik" terkait hak atas pendidikan dasar.

Kasus ini mendorong pembicaraan yang lebih luas mengenai akses pendidikan gratis dan bantuan sosial di daerah yang terpencil. (Anita F)

Editor : Ali Mustofa
#anak sd bunuh diri di ntt #ntt #miskin ekstrem