RADAR KUDUS - Beberapa hari terakhir, buku Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah karya Aurelie Moeremans ramai diperbincangkan dan banyak diminta untuk dibahas.
Buku memoar setebal 214 halaman dengan 24 bab ini tersedia gratis dalam bahasa Indonesia dan Inggris melalui tautan yang dibagikan langsung oleh penulisnya.
Meski ringkas, Broken Strings membuka diskusi penting tentang relasi dengan jarak usia jauh, ketimpangan kekuasaan, serta kekerasan dalam hubungan, khususnya yang melibatkan anak di bawah umur.
Sebagai memoar, buku ini mengisahkan perjalanan hidup Aurelie Moeremans sejak kecil. Aurelie lahir di Brussel, Belgia, dari ayah berkewarganegaraan Belgia dan ibu asal Indonesia.
Ia tumbuh sebagai anak yang pendiam, pemalu, dan sangat patuh pada orang tua.
Perbedaan latar budaya, bahasa, dan identitas membuat Aurelie kerap merasa asing di lingkungannya, bahkan mengalami perundungan semasa sekolah dasar.
Pengalaman tersebut perlahan meruntuhkan rasa percaya dirinya.
Pada usia 13 tahun, Aurelie berlibur ke Bandung dan mulai tertarik pada dunia hiburan setelah mengikuti ajang bakat Fresh Multitalented 2007.
Kemenangannya membuka jalan ke dunia akting dan periklanan di Indonesia.
Di usia yang masih sangat muda, ia sudah bekerja dan membantu perekonomian keluarga, meski seluruh penghasilannya dikelola oleh ibunya.
Titik balik hidup Aurelie bermula ketika ia menjalin relasi dengan pria-pria yang jauh lebih tua darinya.
Salah satunya adalah Bobby, seorang aktor berusia 29 tahun, yang pertama kali ia temui saat Aurelie masih berusia 15 tahun.
Relasi tersebut sejak awal dibangun di atas manipulasi, pujian berlebihan, dan rasa “diistimewakan” yang membuat Aurelie merasa berharga, sesuatu yang jarang ia rasakan sebelumnya.
Seiring waktu, hubungan itu berubah menjadi posesif dan penuh kontrol.
Bobby menuntut laporan terus-menerus, membatasi pergaulan Aurelie, memicu pertengkaran dari hal-hal sepele, serta memanipulasi emosi dengan membuat Aurelie merasa bersalah atas kemarahannya.
Dalam dinamika tersebut, Aurelie selalu diposisikan sebagai pihak yang harus meminta maaf dan menyesuaikan diri.
Kekerasan meningkat dari tekanan psikologis menjadi kekerasan seksual, verbal, dan fisik. Aurelie mengalami ancaman, pemaksaan, serta pemerasan menggunakan foto pribadi.
Ia juga didorong untuk melawan orang tuanya sendiri, bahkan dilibatkan dalam konflik hukum yang semakin memisahkannya dari keluarga.
Pada usia 18 tahun, Aurelie dipaksa menandatangani dokumen dan akhirnya “dinikahkan” secara tidak sah tanpa kehadiran orang tuanya.
Setelah pernikahan, kekerasan semakin parah. Aurelie diperlakukan sebagai pembantu rumah tangga, dipaksa bekerja saat sakit, dikontrol secara ekonomi, dan mengalami kekerasan fisik yang berulang.
Bobby menggunakan dalil agama untuk membenarkan tindakannya, sementara di ruang publik mereka ditampilkan sebagai pasangan harmonis.
Perlahan, keberanian Aurelie tumbuh. Ia mulai membuka diri, membiarkan luka-lukanya terlihat, hingga akhirnya mendapatkan bantuan untuk keluar dari hubungan tersebut dan kembali ke keluarganya.
Pernikahan yang tidak sah itu kemudian dibatalkan secara hukum setelah bukti-bukti manipulasi dan kekerasan terungkap.
Bertahun-tahun kemudian, Aurelie membangun hidup baru. Ia akhirnya menikah dengan pasangan yang menghormati dan mencintainya, serta menantikan kehadiran anak pertamanya.
Memoar Broken Strings awalnya ditulis untuk dirinya sendiri, namun dipublikasikan dengan harapan dapat membantu para penyintas lain yang terjebak dalam hubungan serupa.
Kisah Aurelie menegaskan bahwa relasi dengan jarak usia jauh dan ketimpangan kekuasaan bukan sekadar “toxic relationship” atau “red flag” biasa, melainkan pola kekerasan yang memiliki ciri dan tahapan jelas.
Keberanian penyintas untuk bersuara menjadi langkah penting dalam mencegah korban baru dan membuka kesadaran publik tentang bahaya penyalahgunaan kekuasaan dalam hubungan personal. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa