RADAR KUDUS - Pada masa lampau, di sebuah pesisir pantai hiduplah seorang perempuan cantik bernama Roro Kuning.
Ia telah bersuami dan menjalani kehidupan rumah tangga yang sederhana namun penuh cinta.
Keduanya saling menyayangi dan berjanji untuk hidup bersama hingga tua. Kedamaian itu menjadi sumber kebahagiaan bagi Roro Kuning.
Namun kebahagiaan tersebut tidak berlangsung lama. Suatu hari, sang suami berpamitan untuk melaut mencari ikan karena persediaan makanan di rumah telah habis.
Tanpa disadari, perpisahan itu menjadi pertemuan terakhir mereka. Sang suami meninggal dunia di tengah lautan, meninggalkan Roro Kuning dalam kesedihan mendalam.
Kehilangan orang yang paling dicintainya membuat Roro Kuning larut dalam duka.
Ia mengurung diri di rumah selama berhari-hari, menolak berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Masyarakat setempat menjulukinya sebagai lancar, sebutan bagi perempuan yang ditinggal mati suami dan belum memiliki keturunan.
Hari-harinya dihabiskan hanya dengan menatap laut, mengenang masa lalu yang tak mungkin kembali.
Merasa bahwa kesedihan yang terus dipendam hanya akan menghancurkan dirinya, Roro Kuning memutuskan meninggalkan kampung halaman.
Ia berkelana tanpa tujuan pasti, menembus hutan dan lembah dengan langkah penuh keputusasaan.
Perjalanan panjang itu membawanya ke tepian Sungai Opa, tempat ia secara tak sengaja bertemu dengan Panembahan Senopati, Raja Mataram, beserta patihnya, Singoranu.
Kepada Panembahan Senopati, Roro Kuning menceritakan seluruh kisah hidup dan penderitaannya.
Ia mengaku tidak ingin menikah lagi, namun juga tidak tahu ke mana harus melangkah.
Mendengar kisah tersebut, Panembahan Senopati menyarankan agar Roro Kuning pergi ke pantai selatan dan bertapa untuk menemui Ratu Kidul, penguasa laut selatan, guna menemukan jawaban atas kegundahan hatinya.
Berbekal saran itu, Roro Kuning melanjutkan perjalanannya. Setibanya di pantai selatan, ia memantapkan tekad dan menjalani pertapaan dengan penuh ketekunan.
Karena ketulusan dan keyakinannya, Roro Kuning akhirnya mencapai moksa dan dihadapkan langsung dengan Ratu Kidul di sebuah istana megah di alam gaib.
Roro Kuning memohon izin untuk menjadi pengikut Ratu Kidul karena merasa tak lagi memiliki siapa pun di dunia manusia.
Melihat keteguhan hati dan kesungguhannya, Ratu Kidul menerima Roro Kuning sebagai Abdi Kinasih dan memberinya kesaktian serta kepercayaan untuk memimpin pasukan jin.
Tugas pertama yang diberikan Ratu Kidul adalah menggagalkan Raden Bahurekso, seorang tokoh sakti yang tengah membuka hutan Gambiren untuk pemukiman baru.
Roro Kuning berusaha menjalankan tugasnya dengan berbagai cara, mulai dari merayu hingga mengacaukan pembangunan.
Namun Raden Bahurekso, yang memiliki kesaktian tinggi dari tapa kalong, tidak gentar menghadapi gangguan tersebut.
Pertarungan besar pun tak terhindarkan. Roro Kuning memanggil pasukan jin, tetapi semuanya berhasil dikalahkan oleh Raden Bahurekso.
Saat akhirnya Roro Kuning turun langsung ke medan laga, ia pun mengalami kekalahan. Menyadari kegagalannya, Roro Kuning memohon ampun dan enggan kembali ke pantai selatan.
Raden Bahurekso mengampuni Roro Kuning dan memberinya tugas baru, yakni menjaga pantai utara. Sejak saat itu, Roro Kuning tidak lagi menjadi manusia seutuhnya.
Jiwanya menyatu dengan alam dan ia dikenal sebagai Dewi Lanja, penguasa laut utara atau Laut Jawa, yang dipercaya menjaga keseimbangan alam dan kehidupan di wilayah pesisir.
Legenda Roro Kuning hingga kini masih hidup dalam ingatan masyarakat pesisir sebagai kisah tentang cinta, kesetiaan, pengorbanan, dan takdir yang mengubah manusia menjadi bagian dari alam semesta. (Ghina Nailal Husna)
Editor : Ali Mustofa