Radar Kudus - Banjir bandang pada dasarnya dipicu oleh faktor yang mirip dengan banjir biasa, terutama saat intensitas hujan meningkat secara drastis. Fenomena ini tetap merupakan ancaman serius di berbagai daerah Indonesia.
Banjir bandang sering kali terjadi dan menyebabkan korban jiwa serta kerugian besar bagi masyarakat.
Salah satu penyebab utama yang sering menyebabkan bencana ini adalah kerusakan lingkungan, seperti penebangan pohon ilegal yang kian meluas.
Baca Juga: Banjir Rendam Jalur Pantura Pati–Rembang, Antrean Kendaraan Mengular hingga 3 Kilometer
Secara umum, banjir terjadi saat hujan jatuh dengan intensitas tinggi sementara tanah tidak dapat menyerap air dengan baik. Keadaan ini semakin buruk karena aliran sungai terhalang, baik oleh sampah maupun rintangan lainnya.
Kebiasaan membuang limbah ke sungai dan pembangunan permukiman di sekitar tepi sungai meningkatkan potensi terjadinya banjir bandang.
Maka dari itu, penting bagi semua kalangan masyarakat untuk memahami berbagai faktor penyebab banjir bandang agar insiden serupa bisa diminimalkan di waktu yang akan datang.
Beberapa faktor kunci yang berkontribusi terhadap terjadinya banjir bandang dan sebaiknya dijauhi.
1. Kekuatan Hujan yang Tinggi
Hujan yang sangat lebat dapat mengakibatkan lonjakan debit air secara signifikan. Apabila air hujan itu tidak cepat diserap ke dalam tanah atau dialirkan dengan baik ke sungai, maka genangan akan muncul dan bisa berpotensi menjadi banjir bandang.
Risiko ini meningkat saat air mengumpul di daerah dataran tinggi karena alirannya dapat menerjang wilayah di bawahnya dengan kekuatan yang besar.
2. Kebiasaan Membuang Sampah Tidak Teratur
Sampah yang dibuang ke dalam sungai merupakan masalah klasik yang masih sering terjadi. Sampah, terutama yang terbuat dari plastik, dapat menghambat aliran air.
3. Penebangan Hutan Tanpa Izin
Hutan memainkan peran krusial dalam mempertahankan keseimbangan air. Akar pohon berfungsi menyerap air hujan dan menjaga tanah agar tetap kokoh.
Apabila hutan ditebangi secara asal-asalan, kemampuan tanah untuk menyerap air akan menurun dan kemungkinan terjadinya banjir bandang akan meningkat.
Selain itu, situasi ini juga bisa menyebabkan terjadinya tanah longsor, terutama di wilayah perbukitan dan lereng yang curam.
4. Pengembangan di Wilayah Penyerapan Air
Perubahan fungsi lahan resapan air menjadi daerah pemukiman atau bangunan semakin meningkatkan risiko terjadinya banjir bandang.
Saat hujan deras, air tidak ada tempat untuk diserap sehingga mengalir dengan cepat dan dalam jumlah banyak. Akibatnya, area tempat tinggal dapat bertransformasi seperti aliran air yang deras dan mengancam.
Baca Juga: Menembus Banjir Demi Warga: Perjuangan Kades Dukuhseti Salurkan Bantuan di Tengah Derasnya Air
5. Variasi Ketinggian Area
Bentuk lahan yang memiliki variasi ketinggian juga berkontribusi pada terjadinya banjir bandang. Air yang mengalir dari area tinggi ke area rendah akan memiliki kecepatan serta daya hancur yang lebih besar. Arus yang kuat ini bahkan sanggup menghancurkan bangunan dan infrastruktur yang dilewatinya.
6. Kuantitas Air yang Sangat Besar
Insiden jebolnya tanggul atau bendungan menunjukkan contoh nyata betapa hebatnya potensi air dalam jumlah besar.
Air yang datang secara tiba-tiba bisa merusak pemukiman dalam sekejap dan menyebabkan kehilangan nyawa.
Karena itu, pemilihan lokasi tempat tinggal yang terlindungi dari kemungkinan banjir besar menjadi faktor yang harus diperhatikan
Beragam faktor yang mengakibatkan banjir bandang tersebut seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua agar lebih peduli terhadap lingkungan.
Mengubah perilaku negatif dan menjaga keseimbangan lingkungan adalah langkah krusial untuk mengurangi risiko banjir bandang serta mencegah terulangnya di masa mendatang. (Apriyani)
Editor : Mahendra Aditya