Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Literasi Al-Qur’an Jadi Fondasi Pembangunan Sosial, Wabup Sidrap Buka Ruang Kolaborasi FKCA Sulsel

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 2 Januari 2026 | 17:43 WIB
Ilustrasi seseorang tengah membaca Al Quran.
Ilustrasi seseorang tengah membaca Al Quran.

RADAR KUDUS - Penguatan literasi Al-Qur’an tak lagi diposisikan semata sebagai agenda keagamaan.

Di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), isu ini mulai ditempatkan sebagai fondasi pembangunan sosial yang berkelanjutan. Hal itu tercermin dari pertemuan Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah, dengan jajaran Forum Kajian Cinta Al-Qur’an (FKCA) Sulawesi Selatan, Jumat (2/1/2026).

Bertempat di ruang kerja Wakil Bupati, pertemuan berlangsung dalam suasana dialog terbuka. Bukan sekadar kunjungan silaturahmi, diskusi tersebut menyoroti peluang sinergi antara pemerintah daerah dan komunitas literasi Al-Qur’an untuk memperkuat budaya religius sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia di tingkat akar rumput.

Baca Juga: Puluhan Ribu Guru Akan Serbu Sidrap, PORSENIJAR PGRI Sulsel 2026 Jadi Magnet Besar

Literasi Al-Qur’an dan Tantangan Sosial Masyarakat

Dalam pembahasan, FKCA Sulsel memaparkan fokus utama gerakannya yang menitikberatkan pada peningkatan kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an di tengah masyarakat.

Ketua FKCA Sulsel, Hera Andi Djabbar, menegaskan bahwa literasi Al-Qur’an harus dipahami secara luas, tidak berhenti pada aspek teknis membaca, tetapi juga menyentuh pembentukan karakter dan etika sosial.

Menurutnya, rendahnya kemampuan membaca Al-Qur’an di sebagian lapisan masyarakat masih menjadi persoalan laten, terutama di wilayah pinggiran. Padahal, penguasaan dasar tersebut menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran spiritual, kedisiplinan, hingga kepekaan sosial.

“Literasi Al-Qur’an bukan sekadar urusan ibadah personal. Di dalamnya ada nilai kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial yang relevan dengan tantangan masyarakat hari ini,” ujar Hera dalam pertemuan tersebut.

Baca Juga: Jadwal Panas Pekan ke-16 Super League: Ujian Mental Persija dan Persib Jelang Duel Klasik

Respons Pemda: Literasi Religius sebagai Aset Daerah

Wakil Bupati Sidrap, Nurkanaah, menyambut baik gagasan yang disampaikan FKCA Sulsel. Ia menilai pendekatan literasi Al-Qur’an yang bersifat inklusif dan berbasis komunitas sejalan dengan visi pemerintah daerah dalam membangun masyarakat yang berkarakter.

Menurut Nurkanaah, penguatan budaya religius tidak dapat berjalan efektif jika hanya mengandalkan program formal pemerintah.

Dibutuhkan peran aktif komunitas, lembaga sosial, dan tokoh masyarakat agar nilai-nilai keagamaan benar-benar membumi dan dirasakan manfaatnya secara langsung.

“Pemerintah daerah terbuka untuk kolaborasi. Program literasi Al-Qur’an yang menyentuh masyarakat secara langsung akan menjadi aset sosial yang penting bagi Sidrap,” kata Nurkanaah.

Ia menambahkan, penguatan literasi religius dapat menjadi salah satu instrumen pencegahan berbagai persoalan sosial, mulai dari degradasi moral hingga melemahnya solidaritas sosial di tingkat lokal.

Ruang Sinergi yang Mulai Dibuka

Dalam pertemuan tersebut, FKCA Sulsel menyampaikan kesiapan untuk bersinergi dengan Pemkab Sidrap melalui berbagai skema kegiatan.

Mulai dari pelatihan membaca Al-Qur’an bagi masyarakat umum, pendampingan komunitas, hingga program edukasi berbasis masjid dan lingkungan pendidikan nonformal.

Pendekatan yang ditawarkan FKCA tidak bersifat seragam. Program dirancang fleksibel, menyesuaikan karakter sosial dan kebutuhan masyarakat setempat.

Dengan model ini, literasi Al-Qur’an diharapkan tidak terasa menggurui, tetapi tumbuh secara alamiah sebagai kebutuhan bersama.

Bagi Pemkab Sidrap, tawaran tersebut membuka peluang untuk memperkuat program pembinaan keagamaan yang selama ini telah berjalan. Sinergi dengan komunitas dinilai dapat memperluas jangkauan program sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaannya.

Baca Juga: Prediksi Persija vs Persijap Jepara di GBK, Laskar Kalinyamat Main Di Bawah Tekanan Degradasi

Lebih dari Seremonial

Yang menarik, pertemuan ini tidak berhenti pada tataran normatif. Diskusi juga menyentuh pentingnya keberlanjutan program dan evaluasi dampak di lapangan. Nurkanaah menekankan bahwa setiap kerja sama harus memiliki tujuan yang jelas dan hasil yang terukur.

“Kolaborasi akan bermakna jika ada keberlanjutan. Kita ingin program yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bukan sekadar kegiatan seremonial,” ujarnya.

Pendekatan ini menunjukkan perubahan paradigma dalam kebijakan sosial-keagamaan daerah. Literasi Al-Qur’an tidak lagi dipandang sebagai kegiatan tambahan, melainkan sebagai bagian dari strategi pembangunan manusia.

Menjawab Tantangan Generasi Muda

Isu literasi Al-Qur’an juga dikaitkan dengan tantangan generasi muda. FKCA Sulsel menilai bahwa generasi saat ini hidup di tengah arus informasi yang cepat, namun tidak selalu diiringi dengan penguatan nilai moral.

Melalui program literasi Al-Qur’an yang adaptif, FKCA berharap dapat menjangkau anak muda dengan metode yang lebih relevan. Bukan hanya pengajaran konvensional, tetapi juga dialog nilai, pembinaan karakter, dan pendekatan berbasis komunitas.

Pemerintah daerah melihat peluang ini sebagai investasi jangka panjang. Generasi muda yang memiliki dasar literasi religius yang kuat diyakini akan lebih siap menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan budaya di masa depan.

Arah Baru Penguatan Budaya Religius

Pertemuan antara Wakil Bupati Sidrap dan FKCA Sulsel menjadi penanda arah baru penguatan budaya religius di daerah.

Literasi Al-Qur’an mulai ditempatkan sebagai pilar pembangunan sosial, bukan sekadar aktivitas keagamaan yang berdiri sendiri.

Jika sinergi ini terwujud dalam program konkret dan berkelanjutan, Sidrap berpotensi menjadi contoh bagaimana kolaborasi pemerintah dan komunitas dapat melahirkan model penguatan literasi religius yang berdampak luas.

Di tengah tantangan sosial yang kian kompleks, pendekatan berbasis nilai menjadi semakin relevan. Literasi Al-Qur’an, dalam konteks ini, bukan hanya soal kemampuan membaca ayat, tetapi tentang membangun masyarakat yang berkarakter, beretika, dan berdaya.

Editor : Mahendra Aditya
#membaca Al Quran #sidrap #Literasi Al Quran