RADAR KUDUS - Kenaikan harga cabai rawit kembali menjadi sinyal keras tentang rapuhnya stabilitas pangan nasional.
Hingga pekan ketiga Desember 2025, lonjakan harga komoditas pedas ini tidak hanya terjadi di satu-dua daerah, melainkan menyebar hampir merata di seluruh Indonesia.
Situasi ini menempatkan cabai rawit sebagai komoditas dengan tekanan inflasi paling nyata menjelang pergantian tahun.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga cabai rawit nasional melonjak hingga 52,86 persen dibandingkan posisi November 2025.
Kenaikan setajam ini membuat harga cabai rawit melampaui Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah di tingkat konsumen.
Direktur Statistik Harga BPS, Windhiarso Ponco Adi Putranto, menegaskan bahwa cabai rawit kini masuk kategori komoditas yang membutuhkan perhatian serius.
Menurutnya, lonjakan harga tidak hanya signifikan secara persentase, tetapi juga konsisten terjadi dari pekan ke pekan.
“Cabai rawit menjadi salah satu komoditas yang kenaikannya paling menonjol hingga pekan ketiga Desember,” ujar Windhiarso di Jakarta.
Harga Rata-rata Nasional Menembus Rp66 Ribu
Secara nasional, rata-rata harga cabai rawit saat ini tercatat Rp66.841 per kilogram. Angka tersebut melonjak tajam dari Rp43.728 per kilogram pada bulan sebelumnya.
Dengan posisi ini, harga cabai rawit telah melewati batas atas HAP konsumen sebesar Rp57 ribu per kilogram, sementara batas bawah HAP ditetapkan Rp40 ribu.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa mekanisme pasar tengah berada di luar koridor stabilitas yang dirancang pemerintah. Dampaknya tidak hanya dirasakan konsumen rumah tangga, tetapi juga pelaku usaha kuliner skala kecil yang sangat bergantung pada pasokan cabai.
Jurang Harga Antarwilayah Kian Lebar
Yang lebih mengkhawatirkan, disparitas harga antarwilayah semakin ekstrem. Di Kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, harga cabai rawit tercatat menyentuh Rp200 ribu per kilogram, menjadikannya yang termahal secara nasional.
Sebaliknya, harga terendah ditemukan di Kisaran, Sumatra Utara, yang masih berada di kisaran Rp26.800 per kilogram.
Perbedaan harga yang mencolok ini menegaskan persoalan klasik distribusi pangan di Indonesia. Akses logistik, kondisi geografis, hingga ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi faktor yang memperlebar ketimpangan harga.
Lonjakan Terjadi di Ratusan Daerah
BPS juga mencatat jumlah kabupaten dan kota yang mengalami kenaikan indeks perubahan harga cabai rawit terus bertambah.
Hingga pekan ketiga Desember, tercatat 276 daerah mengalami kenaikan harga, meningkat dari 272 daerah pada pekan sebelumnya.
Artinya, tekanan harga cabai rawit bukan fenomena lokal, melainkan telah menjelma menjadi persoalan nasional. Kenaikan yang terjadi serentak ini memperkuat sinyal bahwa faktor pasokan menjadi akar utama permasalahan.
Cuaca Jadi Biang Gangguan Pasokan
Dari sisi pasokan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengonfirmasi bahwa gangguan distribusi cabai rawit dipicu oleh faktor cuaca.
Hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan proses panen tertunda, meskipun kondisi tanaman di sentra produksi relatif normal.
Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, Maino Dwi Hartono, menyebutkan bahwa hasil pemantauan di daerah sentra seperti Magelang, Jawa Tengah, dan Sleman, DI Yogyakarta, menunjukkan pertanaman tidak bermasalah. Namun, curah hujan menghambat aktivitas panen di lapangan.
“Tanaman cabai tumbuh normal, tetapi hujan membuat sebagian petani menunda panen. Akibatnya, pasokan ke pasar berkurang,” kata Maino.
Penundaan panen ini berdampak langsung pada suplai harian di pasar tradisional dan pusat distribusi, yang kemudian memicu lonjakan harga di tingkat konsumen.
Ancaman Inflasi dari Dapur Rumah Tangga
Cabai rawit bukan sekadar komoditas pelengkap. Dalam struktur konsumsi masyarakat Indonesia, cabai memiliki bobot psikologis dan ekonomi yang besar.
Ketika harga cabai melonjak, tekanan inflasi pangan langsung terasa di dapur rumah tangga.
Kondisi ini menjadi ujian bagi efektivitas kebijakan stabilisasi harga pangan. Tanpa intervensi distribusi yang cepat dan adaptif terhadap perubahan cuaca, lonjakan harga cabai rawit berpotensi berulang, terutama pada periode rawan seperti akhir tahun.
Lebih dari sekadar soal pedas di lidah, mahalnya cabai rawit kini menjadi cermin rapuhnya rantai pasok pangan nasional di tengah tantangan iklim yang kian tidak menentu.
Editor : Mahendra Aditya