RADAR KUDUS – Peristiwa kecelakaan maut di Exit Tol Krapyak, Kota Semarang, membuat nama PO Cahaya Trans mendadak menjadi sorotan publik.
Bus pariwisata milik perusahaan tersebut mengalami kecelakaan tunggal yang merenggut banyak korban jiwa, sekaligus memantik perhatian luas masyarakat di berbagai daerah.
Tragedi ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan beragam pertanyaan krusial.
Baca Juga: Bus Maut di Tol Krapyak Semarang: Warga Grobogan Turut Jadi Korban Kecelakaan, Ini Identitasnya
Mulai dari kepemilikan perusahaan, status perizinan armada, hingga sejauh mana standar keselamatan diterapkan dalam operasional angkutan pariwisata tersebut.
Besarnya jumlah korban, lokasi kejadian yang berada di ruas tol utama, serta keterlibatan puluhan penumpang menjadikan insiden ini menyedot perhatian nasional.
Aparat kepolisian bersama instansi terkait hingga kini masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengurai penyebab kecelakaan sekaligus memastikan apakah prosedur keselamatan telah dijalankan sesuai ketentuan yang berlaku.
Secara umum, PO Cahaya Trans dikenal sebagai perusahaan penyedia jasa transportasi darat yang melayani berbagai rute perjalanan.
Namun, dalam penyelidikan kecelakaan tunggal yang terjadi di Simpang Susun Tol Krapyak pada Senin (22/12/2025) dini hari itu, sejumlah fakta baru mulai terungkap.
Salah satunya terkait pengemudi bus. Sopir yang mengemudikan kendaraan saat kejadian diketahui masih relatif baru menangani perjalanan jarak jauh.
Informasi tersebut disampaikan langsung oleh kernet bus sekaligus korban selamat, Robi Sugianto (51), warga Bumiayu, Kabupaten Brebes.
Menurut Robi, warga Dukuh Tengah RT 01 RW 02 Desa Kalisumur, Kecamatan Bumiayu, sopir tersebut baru dua kali menjalani perjalanan pulang-pergi untuk rute Bogor–Yogyakarta sebelum kecelakaan nahas itu terjadi.
Sopir dimaksud adalah Gilang Ihsan Faruq (22), warga Jalan Komplek PJKA RT 01 RW 01 Kelurahan Tarok Dipo, Kecamatan Guguak Panjang, Kota Bukittinggi, Sumatera Barat.
Penelusuran melalui akun media sosial Facebook menunjukkan bahwa sebelumnya Gilang tercatat sebagai pengemudi bus PO Al Hijrah yang melayani rute Padang–Jakarta–Bandung.
Dalam insiden di Tol Krapyak tersebut, pemuda kelahiran Lubuk Alung, 27 Januari 2003 itu hanya mengalami luka ringan dan telah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.
Saat ini, Gilang menjalani perawatan di RSUD dr. Adhyatma atau RS Tugurejo, Kota Semarang.
Baca Juga: Harga Pangan Nasional Terbaru, Cabai Rawit Merah dan Telur Ayam Masih Tinggi
Robi sendiri menuturkan bahwa selama perjalanan, bus tidak melaju dalam kecepatan tinggi sebagaimana yang banyak diasumsikan.
Di sisi lain, suasana di Instalasi Gawat Darurat RSUD dr. Adhyatma dipenuhi aktivitas penanganan korban.
Tangis keluarga bercampur dengan langkah cepat tenaga medis yang hilir mudik, sementara aroma obat-obatan menyelimuti ruangan.
Tercatat sebanyak 18 korban luka dirawat intensif, sedangkan 16 penumpang lainnya dinyatakan meninggal dunia.
Robi terbaring lemah di ruang perawatan dengan kondisi kaki kanan patah dan kepala dibalut perban. Meski demikian, ia masih dalam keadaan sadar penuh.
Di sampingnya, keluarga setia menunggu dengan wajah cemas, berharap kondisi Robi segera membaik.
Detik-detik kecelakaan masih teringat jelas dalam benaknya. Robi mengisahkan, bus tiba-tiba oleng dan miring ke arah kanan sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan.
Dalam hitungan detik, benturan keras terjadi, membuatnya terlempar ke tengah jalan. Akibat insiden itu, ia mengalami patah kaki serta luka di bagian kepala.
Tragedi tersebut kini menjadi catatan kelam yang menuntut perhatian serius semua pihak, khususnya dalam memastikan keselamatan transportasi umum di jalan raya.