RADAR KUDUS - Gelombang kemarahan publik menyeruak setelah sebuah potongan video pemilik akun Resbob, yang bernama M Adimas Firdaus, menebar hinaan kepada suporter Viking Persib dan bahkan memperluas cercaan itu pada suku Sunda.
Potongan video singkat itu beredar cepat di X, Instagram, hingga TikTok—memantik tensi sosial yang nyaris tak terkendali.
Dalam video live streaming-nya, Adimas melontarkan kalimat kasar yang menjadi pemicu utama ledakan reaksi publik. Banyak warga Sunda menyebut pernyataan tersebut bukan sekadar emosi spontan, tetapi bentuk ujaran kebencian terbuka yang menyerang identitas budaya.
Narasi inilah yang kemudian membuat tokoh publik, pejabat daerah, dan warganet bersuara keras. Tapi ada satu figur yang memilih langkah berbeda: Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Dedi Mulyadi Tampil Tenang: “Stay Calm, Urang Sunda Teu Kalah Ku Emosi”
Berbeda dari banyak tokoh lain yang langsung mengecam, Dedi Mulyadi mengambil jalan yang tidak diduga publik: kesejukan.
Melalui unggahan di media sosialnya, Dedi menuliskan pesan singkat namun tajam:
“Warga Sunda sedang ramai dengan Resbob, stay calm.”
Alih-alih menambah bara, Dedi mengajak warga Sunda menahan diri. Ia bahkan menyebut bahwa masyarakat Sunda memiliki cara “membunuh tanpa menyentuh”. Sebuah metafora yang menunjukkan bahwa kelas seseorang tidak perlu dibuktikan dengan amarah.
Menurut Dedi, masyarakat Sunda dikenal dengan sopan santun. Maka, menjaga karakter itu lebih penting daripada membalas provokasi.
Pesan-pesan Dedi menjadi pembeda. Di tengah panasnya percakapan publik, ia memilih ‘jurus sunyi’: membiarkan hukum bekerja tanpa perlu ada konflik horizontal.
“Sudah dilaporkan. Biarkan hukum menyentuh, jangan kotori mulut dan tangan kita lagi,” tulisnya.
Reaksi Tokoh Publik: Sule Hingga Wakil Gubernur Turun Tangan
Sementara Dedi mengambil jalur damai, tokoh-tokoh lain tampil lebih lugas. Komedian Sule, asal Cimahi, memposting ulang video tersebut sembari menuliskan:
“Naon maksudna coba?”
Postingan Sule memantik ribuan komentar. Warga merasa diwakili oleh ekspresi kecewanya. Banyak yang menilai penghinaan itu bukan sekadar serangan personal, tapi penistaan identitas budaya.
Tak lama kemudian, Wakil Gubernur Jawa Barat, Erwan Setiawan, memberikan pernyataan resmi. Ia menilai pernyataan Resbob telah masuk kategori SARA dan bisa mengoyak harmoni antarkelompok.
Erwan tegas melaporkan kasus itu ke polisi dan meminta aparat segera bertindak agar menciptakan efek jera.
Pemicunya: Hinaan kepada Viking dan Suku Sunda dalam Siaran Live
Awal mula kegaduhan terjadi ketika Adimas menyinggung suporter Persib Bandung dalam sebuah siaran langsung di YouTube.
Pernyataannya langsung menyerang kelompok Viking dan diperluas dengan merendahkan suku Sunda.
Beberapa cuplikan ucapannya yang viral memperlihatkan bagaimana ia menyebut:
“Bonek Viking sama saja, tapi yang an***** cuma Viking.”
Baca Juga: Live Streaming Resbob Viral Hina Sunda, Wagub Jabar Desak Polisi Bergerak
Tak berhenti di situ, ia menambahkan:
“Pokoknya semua orang Sunda an*****.”
Dua kalimat itu menjadi bahan bakar untuk ledakan amarah yang menyapu seluruh platform media sosial.
Klarifikasi Resbob: Antara Penyesalan dan Alasan yang Tak Kuat
Melihat gejolak yang semakin besar, Adimas Firdaus akhirnya muncul memberikan klarifikasi dan permintaan maaf. Dalam videonya yang dibagikan akun @infojawabarat, ia berbicara panjang lebar.
Ia mengakui ucapannya, tetapi menyebut bahwa pernyataan tersebut seolah tak masuk akal karena dirinya justru besar di lingkungan keluarga Sunda.
Adimas mengatakan ia lahir dari ibu berdarah Padang, namun sejak usia dua tahun diasuh oleh ibu sambung asal Tasikmalaya. Ia bahkan mengaku dibimbing oleh seorang kiai besar asal Majalengka.
Menurutnya, ia tidak punya alasan membenci orang Sunda. Ungkapan yang keluar disebutnya tidak mewakili kebenciannya, tetapi ia tetap mengakui bahwa kalimat itu memang berasal dari dirinya.
Meski menyampaikan permintaan maaf, sebagian warganet menilai klarifikasinya tidak cukup kuat. Ia dianggap berusaha menurunkan tensi namun tidak menjelaskan alasan emosional soal ucapannya saat live.
Di tengah seluruh arus reaksi keras, langkah Dedi Mulyadi adalah angle yang belum banyak dibahas: strategi komunikasi damai untuk meredam konflik budaya.
Dedi tidak menaikkan tensi. Ia tidak menggunakan moral panic atau pernyataan keras. Justru ia memilih bahasa simbolik, metaforis, dan bernilai kultural. Pesannya sederhana: jangan balas api dengan api.
Dalam konteks sosial digital, langkah ini menjadi penting, karena kasus seperti ini sering berkembang menjadi provokasi massal. Satu kata kasar bisa berubah menjadi konflik antarkelompok jika tidak ditangani dengan kepala dingin.
Dedi memahami betul bahwa tensi publik tidak boleh dibiarkan memuncak. Karena itu ia memilih meredam, bukan menyulut.
Ini menjadi catatan penting: ketenangan pemimpin dapat meredam gejolak massa lebih cepat dibanding kecaman keras.
Baca Juga: Fakta Baru Adimas Firdaus Alias Resbob yang Hina Sunda, Live Streaming dan Mabuk Sambil Mengemudi
Kasus Berlanjut ke Polisi: Jalur Hukum Jadi Final
Setelah laporan resmi dari beberapa pihak, kasus Resbob kini berada di ranah kepolisian. Langkah ini diambil bukan sekadar untuk menghukum pelaku, tetapi juga sebagai bentuk edukasi publik bahwa ujaran kebencian punya konsekuensi nyata.
Ujaran SARA bukan sekadar pelanggaran etika. Ia bisa memecah masyarakat dan merusak keharmonisan budaya.
Kasus ini jadi pengingat bahwa ruang digital bukan tempat bebas tanpa batas.
Respons masyarakat Sunda patut diapresiasi. Meski banyak yang marah, tak sedikit pula yang mengikuti imbauan Dedi untuk tetap menjaga martabat.
Justru di sinilah kekuatan khas masyarakat Sunda terlihat: lembut bukan berarti lemah, damai bukan berarti pasrah.
Kasus ini menjadi ruang refleksi, bukan hanya bagi warga Sunda, tetapi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Identitas suku adalah warisan yang harus dirawat, bukan bahan ejekan demi sensasi.
Editor : Mahendra Aditya