Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pola Asuh Permisif Kian Marak: Apa Dampaknya bagi Anak?

Redaksi Radar Kudus • Jumat, 5 Desember 2025 | 17:31 WIB
Photo
Photo

RADAR KUDUS - Banyak orang tua kerap menuruti keinginan anak karena rasa sayang atau demi menghindari konflik.

Namun pendekatan tersebut dapat berkembang menjadi pola asuh permisif—gaya pengasuhan yang hangat, tetapi nyaris tanpa aturan dan struktur, seperti dijelaskan dalam Psychology Today.

Orang tua dengan pola ini biasanya ingin menjaga suasana rumah tetap damai. Namun, keinginannya untuk menghindari pertengkaran membuat mereka sulit memberikan batasan tegas.

 

Baca Juga: Viral Pola Asuh Ala VOC, Efektif atau Berisiko untuk Anak?

Contohnya dalam penggunaan gawai tanpa aturan waktu atau membiarkan anak tidak ikut tugas rumah.

Kebiasaan ini justru menjauhkan anak dari interaksi bermakna serta melemahkan pembentukan disiplin.

Psikolog Lisa Liggins-Chambers, PhD, mengatakan bahwa pola asuh yang terlalu longgar dapat membuat anak kehilangan kejelasan tentang aturan.

Anak akhirnya tidak memahami mana batasan yang boleh dan tidak boleh dilampaui.

Dalam jangka waktu lama, mereka tumbuh dengan rasa tidak pasti akan harapan orang tua.

Pengaruh Media Sosial dan Tren Parenting Modern

Lisa juga menyoroti bahwa media sosial memperkuat tren pola asuh permisif.

Banyak konten influencer memperlihatkan hubungan orang tua-anak yang selalu harmonis, tanpa menampilkan dinamika atau konflik sehari-hari. Hal ini menimbulkan tekanan tersendiri bagi orang tua.

Akibatnya, tidak sedikit orang tua yang ragu berkata “tidak” atau menetapkan batasan karena khawatir dianggap kuno, keras, atau kurang modern.

Selain itu, pola asuh permisif juga dipengaruhi pengalaman generasi sebelumnya—misalnya orang tua yang dulu dibesarkan dalam pola asuh tak konsisten atau minim dukungan emosional.

Faktor lain seperti stres berkepanjangan, depresi, atau kecemasan, membuat sebagian orang tua kesulitan menerapkan aturan yang memerlukan kehadiran emosional serta keterlibatan penuh.

Dampak Jangka Panjang Jika Anak Terlalu Dimanjakan

Menurut Lisa, anak membutuhkan batasan yang wajar agar merasa aman. Tanpa struktur yang jelas, mereka berisiko mengalami berbagai kendala perkembangan, di antaranya:

Anak-anak tumbuh berdasarkan apa yang mereka pelajari sejak kecil. Mereka yang dibesarkan dengan konsistensi cenderung lebih percaya diri.

Sebaliknya, anak yang mengalami pola asuh permisif bisa tumbuh bingung tentang aturan dan ekspektasi.

Lisa menegaskan bahwa banyak orang tua permisif sebenarnya tidak bermaksud mengabaikan anak.

Mereka berupaya sebaik mungkin di tengah tekanan yang besar, namun sering kali belum memiliki panduan menyeimbangkan empati dan ketegasan.

Jenis Pola Asuh yang Perlu Dikenali

Untuk membantu orang tua memahami spektrum pola asuh, berikut empat pendekatan umum:

  1. Otoritatif (tuntutan tinggi, respons tinggi)
    Orang tua tegas tetapi tetap hangat. Aturan diberikan dengan penjelasan yang sesuai usia anak.

  2. Otoriter (tuntutan tinggi, respons rendah)
    Mengutamakan kepatuhan ketat dengan minim dialog emosional.

  1. Permisif (tuntutan rendah, respons tinggi)
    Ramah dan suportif, tetapi aturan jarang ditegakkan.

  2. Lalai / Tidak Terlibat (tuntutan rendah, respons rendah)
    Minim kedekatan emosional, kurang pengawasan, dan jarang memberi bimbingan.

Lisa menyarankan orang tua untuk menyeimbangkan kasih sayang dengan struktur agar anak tumbuh kuat secara emosional dan siap menghadapi tantangan hidup.

“Berikan cinta sepenuhnya dan bimbing dengan lembut. Anak membutuhkan keduanya,” ujarnya.(laura)

Editor : Ali Mustofa
#Pola asuh Permisif #Dampak memanjakan anak #Lisa Liggins Chambers #Parenting Modern #Batasan pada anak