Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tragedi Banjir-Longsor Sumut: Korban Terus Bertambah, 240 Warga Tewas, 182 Hilang

Mahendra Aditya Restiawan • Selasa, 2 Desember 2025 | 02:48 WIB
Warga menunaikan shalat di area rumah yang rusak akibat banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025).
Warga menunaikan shalat di area rumah yang rusak akibat banjir bandang di Desa Aek Garoga, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025).

RADAR KUDUS - Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatra Utara sejak 24 November 2025 kini memasuki fase paling kelam.

Dalam laporan resmi BPBD Sumut per Senin (1/12) pukul 08.00 WIB, angka korban jiwa melonjak hingga 240 orang meninggal dunia, sementara 182 warga masih belum ditemukan.

Jumlah ini membuat bencana tersebut menjadi salah satu yang paling mematikan dalam satu dekade terakhir di wilayah Sumatra.

“Rekapitulasi dampak korban bencana alam sementara, meninggal dunia 240 jiwa, hilang 182 jiwa, 614 terluka, dan 73.199 mengungsi,” ungkap Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati.

Data ini bukan hanya angka, melainkan potret duka ribuan keluarga yang dalam sekejap kehilangan rumah, harta benda, hingga orang-orang tercinta.

Baca Juga: ‘Saya Tak Mengira Sebesar Ini’ — Pengakuan Mengejutkan Kepala BNPB Soal Banjir Sumatra

Wilayah Paling Parah: Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga

Dari total 18 kabupaten/kota terdampak banjir-longor, tiga wilayah mengalami keadaan terburuk. Ketinggian banjir, runtuhan material longsor, dan rusaknya jalan membuat sejumlah kawasan nyaris terputus total dari dunia luar.

Tapanuli Tengah

Daerah ini mengalami dampak terbesar. Sebanyak 294.924 warga terdampak, dengan 82 korban meninggal dan 104 masih hilang.
Selain itu, 6.636 warga harus mengungsi, sementara ratusan lainnya mengalami luka-luka. Banyak desa tertutup lumpur dan tidak bisa dijangkau tim darurat.

Tapanuli Selatan

Sebanyak 8.219 warga terdampak, dengan 50 korban meninggal, serta 46 warga masih hilang. Kondisi medan yang curam dan rawan longsor menghambat pencarian.

Kota Sibolga

Sebanyak 91.747 warga terdampak, dengan 47 korban meninggal, 12 hilang, dan 17.824 mengungsi. Sebagian wilayah kota lumpuh total akibat air setinggi lebih dari dua meter.

Kondisi ini menunjukkan bahwa skala bencana tidak hanya merusak, tetapi juga memperlihatkan betapa rentannya infrastruktur dan sistem mitigasi bencana di wilayah pesisir dan dataran tinggi Sumut.

Baca Juga: Google Rilis Peringatan Darurat Banjir Sumatera: Cek Status Wilayah Anda Dalam Hitungan Detik

Tim SAR Tak Henti Bekerja: Pencarian Hingga ke Lokasi Terisolasi

Di tengah cuaca yang masih berubah-ubah dan tanah yang labil, tim SAR gabungan terus melakukan pencarian.

Fokus utama adalah menemukan 182 korban hilang yang diperkirakan tertimbun longsor atau terseret arus banjir.

Salah satu kendala terbesar adalah akses darat yang rusak parah. Beberapa desa tidak bisa ditembus sama sekali karena jembatan roboh, jalan tertutup material longsor, dan aliran sungai berubah drastis.

Untuk itu, bantuan logistik terpaksa dilakukan melalui metode airdrop.

Helikopter digunakan untuk menjatuhkan barang bantuan ke desa-desa seperti Pagaran Lambung (Tapanuli Utara), Naga Timbul (Tapanuli Tengah), dan Desa Nauli (Tapanuli Tengah).

Bantuan tersebut meliputi makanan instan, beras, air mineral, perlengkapan kebersihan, selimut, serta kebutuhan darurat lain yang sangat dibutuhkan warga yang sudah berhari-hari terisolasi tanpa suplai logistik.

“Bantuan yang dijatuhkan melalui udara merupakan kebutuhan mendesak warga yang tidak dapat dijangkau tim darat,” ujar Kabid Humas Polda Sumut Kombes Ferry Walintukan.

Baca Juga: Gelandang Persiraja Menangis di Tengah Banjir Bandang: Lima Hari Tanpa Kabar Anak dan Istri!

Listrik dan Komunikasi Putus: Informasi Tersendat, Koordinasi Sulit

Bencana besar juga menyebabkan kerusakan jaringan listrik dan komunikasi di sejumlah titik, terutama di Tapanuli Tengah dan Sibolga.
Putusnya sinyal membuat BPBD, TNI, dan Polri kesulitan memantau kondisi terkini di desa-desa terpencil.

Gubernur Sumut Bobby Nasution yang turun langsung ke lapangan mengakui bahwa hambatan komunikasi membuat banyak keputusan harus diambil dengan informasi terbatas.

“Komunikasi dan listrik terputus. Kita sulit mendapatkan data pasti terkait kebutuhan warga di lokasi terisolir. Telkom dan PLN diminta mempercepat perbaikan,” ujarnya saat meninjau lokasi banjir.

Baca Juga: Akses Terputus, Ribuan Mengungsi Akibat Banjir Aceh Sumut Sumbar: Pos Indonesia Gerak Cepat Antar BLT Kesra hingga ke Tenda-Tenda Darurat!

Harapan di Tengah Kehancuran: Upaya Perbaikan dan Evakuasi Berlanjut

Meski situasi masih jauh dari aman, proses evakuasi, penyaluran bantuan, dan pemulihan infrastruktur terus dilakukan.
Fokus pemerintah kini adalah:

Namun, dengan curah hujan yang masih tinggi dan kondisi tanah yang belum stabil, ancaman longsor susulan masih membayangi.

Editor : Mahendra Aditya
#banjir #banjir sumatera #banjir Sumatera Utara #Banjir Sumatera 2025 #Banjir Sumatera Barat #BPBD