RADAR KUDUS - Banjir bandang yang meluluhlantakkan sejumlah daerah di Sumatra tidak hanya meninggalkan jejak kerusakan fisik.
Di balik arus air yang menghanyutkan rumah dan memutuskan akses jalan, ada cerita manusia yang berusaha bertahan — salah satunya datang dari lapangan sepak bola.
Muammar Khadafi, gelandang Persiraja Banda Aceh, kini menjalani hari-hari paling menegangkan dalam hidupnya. Ketika air bah melanda Aceh, Sumatra Utara, hingga Sumatra Barat, ia kehilangan kontak dengan keluarga inti dan sanak saudara di kampung halaman.
Lima hari tanpa suara apa pun dari anak dan istrinya membuat dunia Khadafi seakan runtuh. “Saya sudah lima hari tidak bisa komunikasi dengan anak, istri, dan keluarga di kampung,” ungkapnya dengan suara yang berusaha tegar melalui keterangan klub.
Bencana yang datang bertubi-tubi membuat jaringan komunikasi di Aceh Timur lumpuh total. Telepon tak terhubung. Pesan tak terbaca. Setiap detik menjadi penantian panjang yang menyiksa.
“Seluruh Aceh Timur tidak ada jaringan. Tempat mengungsi pun saya belum tahu,” ujarnya. Kalimat pendek yang menggambarkan betapa gelapnya situasi di lapangan. Tidak ada informasi resmi. Tidak ada laporan warga. Hanya kabar simpang siur dari mereka yang selamat.
Di saat sebagian besar orang berlari menjauh dari bencana, Khadafi justru memutuskan untuk kembali ke daerah terdampak. Ia memilih menembus ketidakpastian demi harapan kecil menemukan orang-orang yang paling dicintainya.
Rumah Terendam, Wilayah Terisolasi
Aceh menjadi salah satu daerah paling terpukul oleh hujan ekstrem yang tidak kunjung berhenti. Banyak pemukiman terendam, membuat akses masuk dan keluar desa nyaris tak mungkin dilakukan. Beberapa wilayah bahkan sepenuhnya terisolasi.
Dalam kondisi seperti itu, Khadafi sebenarnya sadar bahwa mencari keluarganya bukan perkara mudah. Namun, ia tetap berangkat pada Minggu (30/11/2025), hanya berbekal tekad dan doa.
“Saya pulang untuk mencari keluarga, tapi saya juga tidak tahu harus mencari ke mana,” tuturnya.
Di balik kata-kata itu, ada suara seorang ayah dan suami yang hatinya sedang retak. Ia tak memiliki petunjuk apa pun — hanya keyakinan bahwa keluarganya sedang menunggu ditemukan.
Di tengah kekacauan ini, manajemen Persiraja memastikan bahwa seluruh pemain dan ofisial dalam kondisi aman di Banda Aceh. Tim memang sedang libur, dan beberapa pemain pulang ke kampung halaman masing-masing.
Namun, rasa aman itu tidak sepenuhnya menenangkan. Beberapa keluarga pemain juga menjadi korban atau terdampak banjir. Media officer Persiraja, Ariful Usman, mengungkapkan bahwa klub terus mengumpulkan informasi, meskipun komunikasi dan listrik di wilayah tertentu masih mati total.
“Beberapa keluarga pemain terdampak. Kami terus mengupdate kondisi di daerah banjir,” kata Ariful.
Situasi ini memperlihatkan satu kenyataan: sepak bola, dengan segala hiruk pikuknya, tidak mampu berdiri terpisah dari tragedi kemanusiaan yang sedang terjadi.
Di tengah arus yang menghancurkan, selalu ada doa yang mengapung. Khadafi berharap menemukan titik terang — sekecil apa pun. Ia tahu, ketidakpastian lebih menyakitkan daripada kabar buruk sekalipun.
Yang ia butuhkan saat ini hanyalah satu suara: kabar bahwa keluarganya selamat.
Dan di antara reruntuhan bencana, para pemain, manajemen, serta para pendukung Persiraja melayangkan doa yang sama.
Tragedi banjir bandang di Sumatra bukan hanya cerita tentang kerusakan alam. Ia adalah potret ketahanan manusia, terutama mereka yang tetap mencari meski diterpa kesulitan luar biasa.
Kisah Muammar Khadafi mengingatkan bahwa atlet, yang seringkali kita lihat hanya sebagai pemain di lapangan, tetaplah manusia yang membawa beban hidup di bahu mereka. Di balik jersey dan sorot pertandingan, ada keluarga, ada rumah, ada cinta yang bisa saja hilang seketika ketika bencana datang tanpa permisi.
Dan hari ini, Khadafi sedang menapaki perjalanan terpenting dalam hidupnya — mencari keluarganya dalam puing-puing bencana yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Editor : Mahendra Aditya