RADAR KUDUS – Evakuasi korban banjir bandang di Padang Pariaman, Sumatera Barat terus berlangsung.
Hingga Sabtu (29/11), sebanyak 21 jenazah berhasil ditemukan di aliran Sungai Batang Anai, diduga akibat galodo yang melanda Jembatan Kembar, Padang Panjang, pada Kamis (27/11).
Kapolres Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir, mengatakan, “Hingga malam tadi, jumlah korban tewas yang berhasil dievakuasi mencapai 21 orang.”
Baca Juga: Tujuh WNI Tewas dalam Kebakaran Apartemen di Hong Kong, Proses Identifikasi Masih Berjalan
Korban ditemukan oleh tim gabungan yang terdiri atas personel kepolisian, TNI, aparat pemerintah daerah, serta relawan masyarakat.
Dari total korban, 19 jenazah ditemukan di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, satu di Kecamatan Lubuk Alung, dan satu lainnya di Kecamatan Batang Anai.
Seluruh korban kemudian dibawa ke puskesmas untuk penanganan awal, sebelum diantarkan ke RS Bhayangkara untuk identifikasi lebih lanjut.
“Beberapa jenazah telah diambil keluarga, sementara sebagian lain masih menunggu proses identifikasi,” kata Kapolres.
Tim pencarian hari ini masih melanjutkan operasi evakuasi di sepanjang aliran Sungai Batang Anai.
Banjir bandang yang membawa lumpur, tanah, bebatuan, dan material kayu ini menimbun jalan nasional Padang-Padang Panjang.
Terutama di gerbang Kota Padang Panjang, Tanah Datar, dan Jembatan Kembar menuju Lembah Anai.
Baca Juga: Kemenhaj Buka Rekrutmen TKHI 2026, Pendaftaran Hanya hingga 3 Desember, Ini Formasi Lengkapnya
Pelaksana Tugas Kepala BPBD Padang Panjang, Noviyati, menyebutkan bahwa material yang menutup badan jalan tersebut mengakibatkan jalur vital menuju Padang Panjang dan Lembah Anai tidak bisa dilalui.
Sementara itu, Pemkab Padang Pariaman memperkirakan kerugian akibat bencana cuaca ekstrem dalam sepekan terakhir mencapai lebih dari Rp268,5 miliar.
Sekretaris Daerah Padang Pariaman, Rudy Repenaldi, menjelaskan, “Banyak infrastruktur rusak, termasuk Jembatan Koto Buruak yang ambruk, dengan kerugian diperkirakan lebih dari Rp50 miliar.”
Rudy menambahkan, banjir, longsor, dan pohon tumbang menyebabkan akses jalan putus, irigasi rusak, serta kerusakan lahan pertanian seluas 341 hektare sawah dan 106 hektare jagung.
Ribuan rumah warga juga rusak atau hanyut terbawa banjir, termasuk fasilitas pendidikan dan sarana publik lainnya.
Sebanyak 10.575 warga terdampak bencana, dengan ribuan harus mengungsi. Untuk memenuhi kebutuhan mereka, Pemkab Padang Pariaman mendirikan dapur umum di sejumlah lokasi.
Pemkab Padang Pariaman menyebut bahwa tingginya dampak bencana selain akibat cuaca ekstrem juga karena sejumlah sungai yang bermuara di wilayah tersebut berada di bawah pengelolaan pemerintah pusat dan memerlukan normalisasi.
Jembatan Koto Buruak, yang memiliki panjang 185 meter dan menjadi akses vital warga ke pusat pemerintahan dan ekonomi, ambruk pada Kamis (27/11) pukul 09.00 WIB akibat debit air sungai yang tinggi.
Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, menceritakan, “Saat jembatan putus, seorang ibu beserta anaknya yang mengendarai sepeda motor jatuh bersama jembatan. Innalillahi wainnailaihiraji’un.”
Pemkab Padang Pariaman kini mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah provinsi dan pusat untuk memperbaiki infrastruktur yang rusak, karena daerah tersebut belum mampu menanganinya secara mandiri.
Editor : Ali Mustofa