Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Harga Cabai Merah Mulai Turun, Tapi Kenapa Daerah Masih Menjerit?

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 26 November 2025 | 00:59 WIB

 

ILUSTRASI CABAI
ILUSTRASI CABAI

RADAR KUDUS - Pasar komoditas pangan kembali bergerak dinamis. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga cabai merah nasional menunjukkan tren penurunan pada pekan keempat November 2025. Namun ironisnya, penurunan ini tidak seragam.

Sementara angka nasional tampak menenangkan, beberapa daerah justru mengalami lonjakan ekstrem yang memicu kekhawatiran baru terkait stabilitas harga bumbu dapur utama ini.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa secara rata-rata nasional harga cabai merah kini berada pada kisaran Rp53.161 per kilogram, lebih rendah dibanding periode yang sama bulan sebelumnya. Angka ini masih berada dalam Harga Acuan Penjualan (HAP) sebesar Rp37.000–Rp55.000 per kilogram.

Sekilas, data ini tampak memberi kabar baik. Namun kenyataan di lapangan ternyata jauh lebih kompleks.

Baca Juga: Permintaan Telur Meledak, Harga Naik Serempak di Banyak Daerah, Akibat MBG?

Penurunan Nasional Menyesatkan?

Dari paparan BPS dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2025, terungkap bahwa 173 kabupaten/kota justru melaporkan kenaikan harga cabai merah. Artinya, tren nasional menurun bukan berarti harga turun di mayoritas wilayah.

Penurunan harga hanya terjadi di sejumlah daerah tertentu—cukup besar untuk menarik rata-rata nasional turun—tetapi tidak cukup kuat untuk meredam lonjakan yang terjadi di wilayah lain, terutama Indonesia Timur.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah data rata-rata nasional masih relevan jika kondisi lokal bergerak ke arah yang berbeda?

Lonjakan Tertinggi: Papua Jadi Episentrum Kenaikan

Jika mencari wilayah dengan kenaikan harga paling mencolok, jawabannya mengarah ke Tambrauw, Papua Barat Daya. Harga cabai merah di sana tembus Rp106.333 per kilogram, dengan kenaikan fantastis 102,73 persen. Harga ini jauh dari sekadar “mahal”—ini sudah menjadi luksus.

Tidak hanya itu, Boven Digoel juga mencatat kenaikan besar. Harga cabai di wilayah tersebut menyentuh Rp100.833 per kilogram, atau naik 33,27 persen.

Kondisi ekstrem ini biasanya dipengaruhi biaya transportasi, rantai pasok panjang, hingga pasokan yang tersendat akibat cuaca. Bagi masyarakat Papua, ini bukan sekadar kenaikan harga, tapi beban biaya hidup yang terus meningkat.

Baca Juga: Jadwal Magang Nasional Batch 3 Rilis, Siapkan Berkasmu Sekarang!

Deretan Daerah Merah: Sinyal Bahaya Serius

Selain Tambrauw dan Boven Digoel, daerah seperti Dogiyai, Sarmi, Halmahera Selatan, hingga Sumba Barat masuk kategori merah karena harga terus merangkak naik meski sudah berada pada level tinggi.

Daerah-daerah ini memerlukan tindakan cepat. Bila dibiarkan, efeknya berpotensi merembet ke lonjakan harga pangan lain, mengganggu daya beli masyarakat di wilayah yang selama ini rentan inflasi pangan.

Kenaikan harga cabai sering menjadi indikator awal gejolak inflasi pangan karena komoditas ini sensitif terhadap cuaca, musim panen, distribusi, dan konsumsi.

Wamendagri: Pemda Jangan Diam

Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) III, Akhmad Wiyagus, menegaskan bahwa pemerintah daerah harus bergerak cepat. Ia menyebut jumlah wilayah yang mengalami kenaikan harga meningkat dari 164 menjadi 173 daerah hanya dalam satu minggu.

Menurutnya, pemantauan harga harus dilakukan secara terkoordinasi dan berbasis data real-time, bukan menunggu laporan bulanan. Pemda perlu memperkuat operasi pasar, memastikan kelancaran distribusi, dan mengantisipasi potensi gangguan di musim hujan.

Peringatan ini bukan tanpa alasan. Ketidaksiapan pemda dalam mengontrol harga cabai dapat memicu efek domino pada inflasi daerah, memperberat beban rumah tangga, dan mengganggu stabilitas ekonomi lokal.

Baca Juga: 25 November: Ada Apa di Tanggal Ini?

Rata-Rata Nasional: Penurunan yang Masih Rapuh

Meski harga nasional tercatat turun menjadi Rp53.161, penurunannya tergolong tipis jika mempertimbangkan volatilitas harga cabai. Harga cabai dikenal liar—bisa turun tajam hari ini, melonjak dua kali lipat dalam hitungan minggu.

Sumber penurunan nasional ini kemungkinan dipengaruhi:

Namun tren ini belum cukup kuat untuk memastikan harga cabai benar-benar stabil di tingkat nasional.

Cabai Merah: Komoditas Paling Dramatis di Setiap Akhir Tahun

Setiap akhir tahun, cabai merah selalu menjadi komoditas paling sensasional. Permintaan yang meningkat menjelang liburan, dipadukan dengan gangguan cuaca, membuat harga sering tidak menentu.

Tahun 2025 tidak berbeda. Tren penurunan secara nasional tidak serta-merta meredam gejolak di daerah luar Jawa yang menghadapi tantangan distribusi jauh lebih berat.

Jika pemerintah tidak mengatur distribusi secara agresif, harga cabai bisa berada pada level merah sepanjang Desember hingga awal Januari.

Penurunan Harga Harus Dibaca dengan Waspada

Data BPS memberi harapan, tetapi juga memperlihatkan ancaman. Penurunan harga nasional sebenarnya lebih banyak dipengaruhi turunnya harga di beberapa pusat produksi dan pasar besar. Sementara itu, daerah-daerah yang jauh dari sentra produksi tetap menghadapi lonjakan signifikan.

Jika pemerintah daerah tidak melakukan langkah cepat—mulai dari memastikan pasokan, memantau distribusi, hingga melakukan operasi pasar—potensi inflasi akibat cabai masih terbuka lebar.

Editor : Mahendra Aditya
#harga cabai terbaru #harga cabai merah #Cabai Merah Turun