RADAR KUDUS - Bencana tanah longsor di Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, Cilacap, kembali memunculkan kabar duka. Setelah dua hari pencarian intensif, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menemukan delapan jenazah tambahan pada Sabtu (15/11/2025).
Temuan mendadak ini membuat total korban jiwa mencapai 11 orang. Sementara itu, 12 warga lainnya masih dinyatakan hilang dan menjadi fokus utama operasi pencarian.
Temuan jenazah dalam jumlah banyak dalam satu hari memperkuat dugaan bahwa para korban tertimbun pada satu sektor yang sama—wilayah yang kini menjadi prioritas penggalian alat berat.
Baca Juga: MyPertamina WikenFES: Cara Baru Pertamina Dekatkan Energi Digital ke Masyarakat
Jejak Tiga Hari Pencarian: Dari Dua Korban Hingga Lonjakan Delapan Jenazah
Longsor yang terjadi pada Kamis (13/11) memutus akses desa dan menenggelamkan beberapa rumah dalam timbunan tanah setebal 2 hingga 8 meter.
Laporan resmi BNPB menyebutkan:
-
Hari pertama: 2 jenazah ditemukan
-
Hari kedua: 1 jenazah ditemukan
-
Hari ketiga: 8 jenazah ditemukan
Lonjakan korban pada hari ketiga inilah yang memancing perhatian publik. Operasi gabungan dari berbagai lembaga langsung memetakan ulang zona rawan untuk mempercepat evakuasi.
Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa 520 personel SAR telah digerakkan dan bekerja dalam pola estafet untuk menjaga efisiensi.
Baca Juga: BPJS Tanpa Rujukan Berjenjang: Apa yang Sebenarnya Terjadi dan Mengapa Pasien Perlu Tahu?
Luasnya Lahan Longsor Membuat Operasi Tidak Bisa Mengandalkan Alat Manual
Tim SAR awalnya menggunakan lima eskavator untuk membuka jalur dan membersihkan timbunan material. Namun evaluasi Jumat malam menunjukkan bahwa tingkat kepadatan tanah dan tingginya tumpukan lumpur membuat operasi berjalan lambat.
Begitu Deputi Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan meninjau lokasi, keputusan strategis pun dibuat: jumlah alat berat harus digandakan.
“Semalam saya minta delapan eskavator. Pagi ini saya instruksikan tambah empat lagi,” ujar Budi, menegaskan urgensi percepatan pencarian.
Dengan total 12 unit alat berat, area terparah dapat dibongkar tanpa menunda waktu kritis. Menurut Budi, peralatan berat perlu dioperasikan non-stop 24 jam, sementara tim SAR dapat bergantian agar stamina tetap terjaga.
Tingginya Timbunan Material Menjadi Tantangan Terbesar
Kondisi di lapangan memperlihatkan lapisan tanah campur batu yang mengeras seperti beton. Ketinggian timbunan yang mencapai 8 meter di beberapa titik membuat proses penggalian harus dilakukan sangat hati-hati untuk mencegah pergeseran tanah susulan.
Inilah salah satu alasan teknis mengapa korban sulit ditemukan pada dua hari pertama, namun kemudian muncul secara beruntun ketika titik prioritas berhasil ditembus alat berat.
Baca Juga: Pencairan Bantuan PIP Tahap Tiga Dimulai November 2025: Begini Cara Pastikan Namamu Masuk
Anjing Pelacak Dikerahkan: Mencari Aroma Kehidupan di Balik Kubangan Material
Tak hanya mengandalkan alat berat, BNPB juga menurunkan 19 anjing pelacak dari Kantor SAR Semarang, Polda Jawa Tengah, dan beberapa Polres.
Ras Belgian Malinois dan German Shepherd dipilih karena kemampuan olfaktori mereka yang tinggi dan kecepatan reaksi dalam medan bencana.
Peran anjing pelacak sangat krusial untuk menandai kemungkinan titik korban, memberi panduan kepada operator eskavator agar menggali dengan presisi dan menghindari risiko cedera pada jenazah.
Operasi Berkejaran dengan Waktu dan Cuaca
Tim SAR bekerja di bawah ancaman hujan yang berpotensi memicu longsor lanjutan. Karena itu, pola kerja 24 jam menjadi strategi wajib. BNPB menegaskan bahwa keselamatan tim tetap menjadi prioritas, namun jeda operasi harus diminimalkan.
Sasaran utamanya jelas: menemukan 12 korban yang masih hilang, sebelum material semakin keras dan sulit dibongkar.
Walau duka menyelimuti keluarga korban dan warga sekitar, respons cepat dari berbagai lembaga menunjukkan komitmen besar pemerintah dalam penanganan bencana.
Mulai dari koordinasi alat berat, relawan desa, unit K9, hingga tenaga medis yang bersiap sepanjang waktu.
Masyarakat Majenang pun bergotong royong membantu pendataan korban, menyediakan logistik, dan membuka akses bagi tim SAR.
Upaya kolaboratif inilah yang diharapkan dapat mempercepat pemulihan situasi, sekaligus menemukan seluruh korban yang masih tertimbun.
Editor : Mahendra Aditya