Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Roy Suryo dan Jejak Kontroversi yang Tak Pernah Usai

Mahendra Aditya Restiawan • Jumat, 14 November 2025 | 02:19 WIB

Roy Suryo
Roy Suryo

 

RADAR KUDUS - Nama Roy Suryo seolah tak pernah absen dari headline media Indonesia. Dari awal dikenal sebagai pakar telematika hingga sempat duduk di kursi menteri, jejak kariernya diwarnai berbagai kisah kontroversial.

Setiap langkahnya tampak memancing perdebatan publik—antara kagum pada kepakarannya di bidang teknologi dan geleng kepala atas sejumlah sikapnya yang dianggap kontroversial.

Roy bukan hanya seorang akademisi yang fasih bicara soal digital forensik, tapi juga sosok yang sering menimbulkan polemik karena pernyataan maupun tindakannya. Seiring waktu, namanya semakin identik dengan sensasi ketimbang prestasi.

Baca Juga: Kasus Ijazah Jokowi: Roy Suryo Bisa Dipenjara 12 Tahun

Kursi Pesawat yang Jadi Awal Kehebohan

Kontroversi besar pertama Roy terjadi pada Maret 2011. Kala itu, publik dihebohkan dengan insiden kursi pesawat kelas bisnis yang seharusnya belum ia tempati. Roy dan istrinya duduk di kursi 1A dan 1B, padahal proses boarding belum resmi dimulai.

Ketika penumpang dengan tiket asli datang, perdebatan pun terjadi. Situasi tersebut terekam dan viral di media, membuat banyak pihak mempertanyakan sikap Roy sebagai tokoh publik yang seharusnya bisa memberi contoh etika dalam situasi sederhana seperti itu.

“Dewa Panci” dan Barang Negara yang Hilang

Julukan “Dewa Panci” muncul bukan tanpa alasan. Setelah menjabat sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy tersandung kasus pengembalian ribuan barang milik negara yang dibawa dari rumah dinas.

Kementerian meminta ia mengembalikan 3.226 unit aset negara—mulai dari peralatan rumah tangga hingga perlengkapan elektronik. Publik pun menilai kejadian ini mencederai citra pejabat negara dan memicu diskusi soal etika pengelolaan aset publik.

Salah Lirik Lagu Kebangsaan

Tahun 2013, ketika Roy masih menjabat Menpora, ia kembali membuat heboh. Saat memimpin nyanyian Indonesia Raya di Stadion Maguwoharjo, Sleman, ia salah melafalkan lirik lagu kebangsaan: menyanyikan “di sanalah tanah airku” alih-alih “di sanalah aku berdiri”.

Insiden kecil itu menjadi bahan olok-olok di media sosial dan menambah deretan blunder publik Roy.

Baca Juga: Fakta Baru Kasus Ijazah Jokowi, Roy Suryo Buka Suara di Polda

Meme Borobudur Wajah Jokowi: Kasus yang Berujung Penjara

Kontroversi berikutnya jauh lebih serius. Pada 2022, Roy mengunggah meme Candi Borobudur dengan stupa yang disunting menyerupai wajah Presiden Joko Widodo. Aksi itu memicu laporan ke polisi atas dugaan penistaan agama.

Kasus ini berujung vonis 9 bulan penjara dan denda Rp150 juta. Ia dinilai bersalah karena ikut menyebarkan konten yang menyinggung simbol keagamaan.

Potongan Video Menag Yaqut dan Laporan Balik

Masih di tahun yang sama, Roy kembali bersinggungan dengan hukum. Ia melaporkan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas atas dugaan penistaan agama setelah memotong dan menyebarkan cuplikan video Menag tentang aturan penggunaan toa masjid.

Namun, laporan tersebut justru berbalik arah. Roy dilaporkan balik dengan UU ITE karena dianggap memanipulasi konteks video. Akibatnya, posisinya kembali sulit di mata publik.

Baca Juga: Refly Harun Desak Polisi Tak Tahan Roy Suryo: Ini Bukan Kriminal, Tapi Hak Berpendapat!

Kasus Ijazah Jokowi: Kontroversi Terbaru dan Terbesar

Kini, pada November 2025, nama Roy Suryo kembali mencuat. Ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo.

Polda Metro Jaya mengumumkan setidaknya delapan tersangka dalam perkara ini, yang terbagi menjadi dua klaster. Roy disebut terlibat dalam penyebaran dan validasi data palsu terkait keaslian ijazah Presiden.

Pada 13 November 2025, Roy bersama beberapa tersangka lainnya mendatangi Polda Metro Jaya untuk menjalani pemeriksaan. Kasus ini menjadi salah satu episode paling serius dalam perjalanan panjang kontroversinya.

Publik Bertanya: Pakar Telematika atau Provokator Digital?

Deretan kasus di atas memunculkan pertanyaan besar: bagaimana seorang pakar telematika bisa begitu sering tersandung persoalan etika dan hukum yang justru berkaitan dengan teknologi dan informasi?

Sebagian kalangan menilai Roy adalah sosok cerdas namun impulsif. Ia cepat menanggapi isu publik tanpa menelusuri akar masalah, sering kali dengan bahasa yang provokatif.

Namun, ada pula yang menganggap Roy sekadar korban dari era digital yang semakin sensitif terhadap opini publik. Dalam dunia di mana satu unggahan bisa menjadi senjata, kecepatan Roy berbicara sering kali berbalik menyerangnya sendiri.

Simbol dari Era Digital yang Tak Terbendung

Terlepas dari pro dan kontra, Roy Suryo kini menjadi simbol unik dalam sejarah publik Indonesia: sosok yang bertransformasi dari pakar digital menjadi subjek kontroversi digital.

Dalam setiap kasusnya, terlihat bagaimana kekuatan media sosial dapat mengubah persepsi, membentuk opini, bahkan menggiring arah hukum dan politik.

Dengan semua catatan panjang itu, satu hal pasti: nama Roy Suryo akan terus jadi bahan pembicaraan publik, entah sebagai pengingat tentang pentingnya kehati-hatian di era digital, atau sebagai contoh bagaimana reputasi bisa berubah drastis di tangan teknologi yang ia kuasai sendiri.

Editor : Mahendra Aditya
#roy suryo #roy suryo ditahan #Kontroversi Roy Suryo #kasus roy suryo #ijazah jokowi roy suryo #Kasus Ijazah Jokowi