Erupsi pertama terekam pada pukul 03.32 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 500 meter di atas puncak atau sekitar 4.176 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu berwarna putih hingga kelabu tebal itu mengarah ke barat daya dan barat.
Aktivitas vulkanik tersebut tercatat dengan amplitudo maksimum 21 mm dan berdurasi 130 detik.
Letusan berikutnya terjadi beruntun pada pukul 04.31, 06.02, 06.05, 06.13, 06.27, dan 06.33 WIB.
Puncak erupsi terbesar berlangsung pada pukul 06.49 WIB, saat kolom abu membumbung setinggi 800 meter di atas puncak, berwarna putih keabu-abuan dan bergerak ke arah selatan.
Hingga laporan terakhir diterima, aktivitas erupsi masih berlangsung.
Meski terjadi peningkatan, status Gunung Semeru masih berada di Level II (Waspada).
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan beberapa imbauan bagi warga.
Pertama, tidak beraktivitas di sektor tenggara sejauh 8 kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Kedua, menghindari area sejauh 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan, mengingat potensi aliran awan panas dan lahar bisa menjalar hingga 13 kilometer.
Ketiga, tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah karena berisiko terkena lontaran batu pijar.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, juga meminta masyarakat mewaspadai potensi awan panas guguran, aliran lava, dan lahar hujan di aliran sungai yang berhulu di puncak, seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.
Sementara itu, aktivitas vulkanik Semeru juga memicu banjir lahar dingin di wilayah Candipuro, Kabupaten Lumajang.
Aliran material batu dan lumpur dari puncak gunung meluncur melalui Sungai Leprak pada Senin (3/11/2025) dini hari, menyebabkan jalan desa di Dusun Jugosari ambles hingga enam meter.
“Gunung Semeru mengeluarkan guguran lava pijar dengan jarak luncur sekitar 2.000 meter ke arah Besuk Kobokan,” ungkap Sigit Rian Alfian, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru.
Arus lahar yang deras menghantam badan jalan hingga menggerus sebagian besar konstruksinya. Akibatnya, akses antar-dusun terputus dan aktivitas warga terhenti total.
“Jalan yang ambrol sekitar enam meter karena diterjang banjir lahar. Sekarang kendaraan sama sekali tidak bisa lewat,” tutur Widarto, warga setempat.
Tim BPBD Lumajang telah meninjau lokasi dan menutup jalur yang rusak demi keselamatan warga. Perbaikan darurat sedang dilakukan agar jalur penghubung bisa segera difungsikan kembali.
PVMBG mengingatkan, banjir lahar dingin dari Gunung Semeru berpotensi berulang terutama saat hujan deras mengguyur wilayah puncak.
Material vulkanik hasil letusan sebelumnya mudah terbawa ke sungai-sungai di lereng, termasuk Besuk Kobokan, Besuk Bang, dan Sungai Leprak.
Masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan erupsi susulan dan aliran lahar yang dapat terjadi sewaktu-waktu.